Love Me, Please!

Love Me, Please!
Love Me, Please! Bagian 47 |END|



“Kenapa tidak mungkin? Apa kau tidak ingat kejadian dimana kau mabuk, dan menyetir mobilmu sendiri?” Mendengar itu Kyuhyun pun terdiam.


“Bagaimana mungkin? Aku mengiranya itu Hyerin.”


“Mengenai Hyerin, aku akan beritahu semuanya. Saat itu, saat kami sedang makan bersama, Hyerin bersih keras meminta Seira untuk menikah denganmu, dan menjaga anaknya jika sesuatu terjadi padanya kelak. Seira pun tetap dengan jawabannya, ia menolak hal itu. Hingga akhirnya, karena merasa keputusannya tidak di hargai, Seira pun pergi meninggalkan kami…”


“… lalu setelah itu Hyerin mengejarnya bukan? Tetap saja, jika Seira tidak meninggalkan kalian, istriku tidak akan keluar, dan mengalami kecelakaan.” Sambarnya tanpa memandang Donghae sedikit pun.


“Kau benar. Namun, sebelum itu, aku sudah memintanya untuk tetap tinggal bersama Ahra noona, dan aku lah yang akan menjelaskan semuanya. Siapa sangka jika Hyerin pergi mengejar, Ahra noona pun memanggilnya, namun ia sama sekali tidak meresponnya. Seira tidak salah Kyu, dia hanya menghindar dari permintaan konyol istrimu.”


Mendengar semua itu langsung membukam bibir Kyuhyun. Tak ada reaksi apa pun yang diberikan olehnya saat ini, dan membuat Donghae menghela nafasnya dengan kasar. Kemudian, ia pun membenarkan letak jaket serta rambutnya.


“Terserah kau mau meyakini yang mana. Aku rasa sudah cukup untukku menjelaskannya padamu. Keadaannya sudah benar-benar kritis, aku lah yang akan menggantikanmu untuk mendampinginya, dan aku lah yang akan mengambil keputusan itu.” Donghae menyeru, dan berjalan meninggalkan pria itu.


•••


Kini, rasa sakit itu kembali di rasakan oleh Seira, dan Ahra langsung memanggil beberapa perawat, serta dokter yang bertanggung jawab menangani Seira. Ketika dokter tiba, Ahra diminta untuk menunggunya di luar. Hingga tak lama kemudian, Donghae pun tiba disana.


“Bagaimana? Apa Kyuhyun mau datang?” Sahut Ahra, dan Donghae tidak menjawabnya sedikit pun. Ketika dokter Raeya keluar, Donghae langsung menghadangnya.


“Kita tidak bisa menunggunya lagi. Kita harus melakukan operasi sekarang juga, siapa yang akan bertanggung jawab untuk menandatangani berkasnya?”


“Aku yang akan menandatanganinya.” Sahut seseorang, dan membuat Ahra, maupun Donghae menoleh ke arah belakang. “Dimana berkasnya?” Tambahnya lagi.


“Silahkan ke ruanganku.”


Setelah menandatangani berkas tersebut, orang itu kembali menuju ke ruangan dimana Seira di rawat. Selagi menunggu persiapan operasi, orang itu memasuki ruang rawat itu tanpa meminta izin siapa pun, Ahra yang hendak menghentikan langkahnya pun di tahan oleh Donghae.


Mata Seira terbuka secara perlahan ketika merasakan ada seseorang yang menyentuh tangannya. Melihat keringat yang membasahi dahinya, dengan segera orang itu menyekanya, dan Seira meneteskan air matanya.


“K-Kyu? Apa yang kau lakukan disini? Kau datang untuk mentertawakan kematianku ‘kan?” Seira tersenyum kecut saat itu juga.


“Apa kematian itu sebuah lelucon? Sehingga pantas untuk ditertawakan?”


“Lalu untuk apa kau kemari?”


“Kau pasti sudah sangat membenciku bukan? Kenapa kau tidak memberitahuku mengenai kehamilanmu padaku?”


“Karena kau tidak menginginkannya.”


Kemudian rasa sakit itu kembali lagi, dan setelah siap semua, para perawat pun segera masuk ke dalam ruangan Seira. Mereka membawanya menuju ruang operasi, dan Kyuhyun meminta pada dokter Raeya untuk menyelamatkan ibunya. Mendengar keputusan itu membuat semua orang terkejut menatapnya.


Seira yang hendak menentangnya pun tidak sanggup, karena rasa sakit itu sudah tak bisa ia tahan lagi. Ketika ia sudah masuk ke dalam ruang operasi, Donghae, Ahra, dan Kyuhyun menunggunya di luar.


Hatinya sangat gusar, dan kacau tak karuan, lalu Ahra pun menghampiri adiknya, dan mengatakan jika semua akan baik-baik saja. Sedangkan Donghae, ia senang karena Kyuhyun mau datang menemui wanita itu.


Satu jam kemudian mereka mendengar sebuah tangisan bayi dari dalam ruang operasi, dan hal itu membuat hati Kyuhyun terguncang. Fikirannya menjadi kalut, dan juga panik. Ia takut terjadi sesuatu pada wanitanya.


Hingga dokter Raeya pun keluar, dan Kyuhyun memaksa masuk ke dalam. Namun, beberapa perawat menahannya untuk tidak masuk dulu. Dokter Raeya mengerti apa yang Kyuhyun rasakan, dan sudah ia pastikan jika mereka yang menunggu pun sudah pasti mendengar suara bayi.


“Tuan Cho, anda tenang saja. Keduanya selamat. Wajah putrimu sangat mirip denganmu, dan Seira akan di pindahkan setelah di bersihkan.”


Setelah dipindahkan ke ruang rawat, Donghae membawa putri kecil yang baru saja lahir. Setelah menyerahkannya pada Seira, Ahra pun menghampirinya, dan mengusap lembut pipi bayi itu. Donghae tersenyum ketika melihat hal tersebut.


Mengetahui kehadiran Kyuhyun, Donghae segera mengajak Ahra untuk memberi mereka ruang. Seira menatap Donghae, dan menggelengkan kepalanya, namun Donghae hanya tersenyum menanggapi hal tersebut. Setelah pintu tertutup, Kyuhyun duduk di atas bed dengan menghadap ke arah Seira.


“Apa aku sungguh menakutkan untukmu?” Serunya, dan Seira masih tak menanggapinya. “Maafkan aku Seira, ini semua salahku, kemarahanku memenuhi fikiranku, sehingga aku tidak bisa berfikir dengan jernih. Aku yakin, meski meminta maaf sekali pun, kau tidak akan menerimanya, namun bisakah untuk memberiku satu kesempatan lagi?”


“Tanpa kau meminta maaf pun, aku sudah memaafkanmu, Kyu. Membencimu itu jauh lebih sulit dari pada mencintaimu.”


“Jadi, apa kau mau memberiku kesempatan? Apa kau mau kembali bersama denganku lagi?”


“Tapi aku ini wanita kotor, murahan, tidak tahu diri, dan yang lebih parah lagi, aku adalah pembunuh. Lalu anak ini …”


“… aku tidak peduli dengan semua itu. Kau adalah istriku, dan gadis kecil ini adalah putriku, anak kita. Kita akan menjaganya hingga ia tumbuh besar kelak.” Pungkas Kyuhyun yang mencium putri kecil yang ada dalam gendongan Seira.


“… A-aku.. mencintaimu.. Kyu.” Gumam Seira yang menundukkan kepalanya, dan Kyuhyun yang dapat menangkap suara itu pun langsung memeluknya erat.


•••


Satu tahun berlalu, kini mereka tengah merayakan ulang tahun Cho Hyerin, putri kecil Seira, dan juga Kyuhyun. Seira sengaja memilih nama itu, dengan harapan jika putrinya bisa tumbuh baik hati seperti apa yang pernah Hyerin lakukan padanya semasa hidupnya.


Kyuhyun sama sekali tidak keberatan akan hal tersebut, ia pun berterima kasih pada Seira. Acara sudah di mulai, dan mereka pun keluar. Hyerin kecil yang awalnya di gendong oleh neneknya, langsung di serahkan pada ibunya.


Acara berlangsung sangat meriah, dan ketika tersenyum bahagia setelah meniup lilin yang berada di kue tart itu, Kyuhyun seolah melihat bayangan Hyerin yang tersenyum hangat ke arahnya, ia yang menyadari itu pun membalas senyumannya.


“Buka mulutmu.” Seira menyahut, dan menyuapi kue itu pada Kyuhyun.


Melihat seseorang yang sangat Seira rindukan, wanita itu pun langsung menghampirinya. Kemudian, orang tersebut menyerahkan bingkisan untuk putri Seira, dan ketika melihat Kyuhyun, orang itu sangatlah terkejut, dan bersembunyi di balik tubuh Donghae.


“Bukankah dia pria menyeramkan yang ada di apartmentmu itu?” Bisiknya pada Donghae, mereka yang mendengar hal tersebut pun terkekeh bersama.


“Eun Ri, dia adalah suamiku.”


“Dan kau tenang saja, pria ini sudah berhasil di jinakkan. Sekarang jauh-jauh dariku, kau bisa membuat kekasihku cemburu.” Donghae mendorong pelan Eun Ri, dan merangkul Jung Soo Ra yang berada tepat di sisinya.


“Ha Ha Ha. Kesan pertama yang buruk.” Kyuhyun terkekeh. “Aku juga sudah mendengar tentangmu dari Seira. Terima kasih banyak karena telah menjaganya. Jika kau membutuhkan sesuatu, kau bisa katakan padaku.” Imbuhnya lagi seraya tersenyum


"Senyummu sungguh mempesona tuan Cho. Ternyata kau lebih tampan dari pria itu." Sahut Eunri seraya menunjuk ke arah Donghae.


Mereka semua tertawa bersama, Ahra dan nyonya Cho bersyukur karena dapat melihat kehangatan keluarganya kembali lagi. Hingga kemudian, mereka pun mengambil foto bersama dengan Seira, dan Kyuhyun berdiri di tengah-tengah.


Hyerin kecil di gendong oleh Kyuhyun, dan Seira merangkul tangan suaminya. Sedangkan Eun Ri berdiri di sisi Seira, kemudian di lanjut oleh Donghae-Soo Ra. Kemudian, nyonya Cho, dan Ahra berdiri di sisi Kyuhyun. Mereka semua tersenyum hangat, sehingga menjadi foto tersebut menjadi indah.


“Emosi memang mampu membuat semua orang menutup mata, dan menolak untuk menerima kebenaran yang sudah jelas berada di hadapannya. Meski suatu saat kau mampu menerima kebenaran itu, dan berusaha menyembunyikan 'kesalahan' tersebut, tetap saja kau tidak akan mampu untuk bersembunyi dari sebuah kata ‘penyesalan’.”


–Cho Kyuhyun.


**THE END...



**