
Soo Ra terus bertanya-tanya, bagaimana Donghae bisa tahu hal tersebut? Bukankah dirinya tak pernah mengutarakan hal tersebut? Dirinya bahkan tidak menceritakan hal itu pada ayahnya, ia benar-benar menyembunyikannya sendiri.
“Kau tidak perlu heran seperti itu. Hal yang selalu kau lakukan padaku, sama halnya yang sering ku lakukan pada wanita yang ku sukai. Karena itulah aku tahu jika kau menyukaiku. Meski aku merasa memiliki kesempatan, aku pun akan memberimu kesempatan untuk merebut kembali hatiku ini loh.” Donghae terkekeh saat mengatakan hal tersebut.
Air mata Soo Ra menetes ketika mendengar Donghae mengatakan hal tersebut. Donghae yang menyadari itu pun langsung berpindah tempat duduk, ia duduk di sisi gadis itu, dan memeluknya. Hangat, itu yang di rasakan Soo Ra saat ini.
Setelah mengantar Soo Ra pulang, Donghae langsung pergi menuju butik milik Ahra. Disana ia juga memberitahu Ahra mengenai keberangkatannya kesana. Ahra memintanya untuk bisa mengajak dirinya menemui adik iparnya.
“Aku tidak bisa mengajak dirimu menemuinya untuk sekarang. Tapi, aku akan membawa suratmu, apa kau sudah membalas pesannya?”
“Benar-benar seperti kembali ke zaman dulu. Mengirim pesan melalui selembar kertas.” Ahra merengut karena tidak dibolehkan untuk pergi. “Ketika tiba disana, sampaikan padanya jika aku ingin bertemu dengannya.” Tambahnya seraya menyerahkan surat yang sudah ia tulis pada Donghae.
•••
Kembali berada di Mokpo membuatnya begitu bahagia. Saat tiba disana, ia langsung menuju apartment miliknya. Seorang gadis membukakan sebuah pintu, Donghae tersenyum ke arahnya, dan menaruh jari telunjuknya di bibirnya, meminta gadis itu untuk diam.
“Eun Ri-ya, tolong ambilkan garam di meja sana.” Ucap Seira, dan seseorang pun memberikan garam tersebut. “Terima kasih. Sekarang kau siapkan piring, sebentar lagi aku selesai.” Sambung Seira yang masih sibuk dengan perlatan masaknya.
“Berapa piring yang harus di siapkan?”
Mendengar suara itu membuat Seira menghentikan aktifitasnya. Ia merasa aneh, kenapa suara Eun Ri berubah menjadi suara pria? Dengan cepat ia menoleh, dan betapa terkejutnya ketika ia melihat Donghae sudah kembali, sedangkan Eun Ri terkekeh melihat semua itu.
“Yak. Kenapa kau kembali begitu cepat? Apa kau dipecat dari pekerjaanmu disana? Dan Eun Ri, kenapa kau diam saja saat tahu dia datang?”
“Eonni bisa tanyakan langsung pada pria di hadapanmu itu.” Eun Ri langsung menjauh dari keduanya, menjauh untuk mencari titik aman dari amukkan Seira.
“Bukankah seharusnya kau senang aku kembali? Aku sungguh kecewa atas reaksimu itu.” Ucapnya dengan nada memelas, kemudian Seira justru memukul kepala pria itu dengan sendok. “Kenapa kau memukulku? Apa kau akan melakukan hal yang sama ketika Kyuhyun yang mengatakan hal seperti tadi?”
“Karena kau sudah kembali. Setelah selesai makan nanti, aku, dan Eun Ri akan keluar dari sini. Aku akan kembali ke rumahku.” Seira kembali dengan aktifitasnya. “Eun Ri-ya, bantu aku menyiapkan makanannya.”
Ketika telah menghabiskan hidangan yang ada, Eun Ri meminta Seira untuk beristirahat, dan memintanya untuk menyerahkan pekerjaan yang belum selesai kepadanya. Kemudian, dengan segera wanita itu masuk ke dalam kamar, dan membereskan barang-barangnya.
“Eonni tidak marah padamu. Dia hanya tidak ingin mendengar nama pria itu. Setiap kali ia mendengar nama pria itu, ia akan terlihat begitu rapuh, cemas, dan juga takut. Meski begitu, eonni…”
“… masih mencintai pria itu. Aku tahu itu.” Seru Donghae memotong pembicaraan gadis di sisinya.
Setelah itu, Donghae memutuskan untuk menemui Seira sesegera mungkin. Tanpa mengetuk, ia langsung masuk begitu saja, dan tentu saja hal tersebut membuat Seira terkejut. Tanpa berbasa-basi, Donghae langsung menyerahkan selembar surat padanya.
‘Gadis bodoh. Kenapa kau selalu melakukan banyak hal dengan sesuka hatimu, hah? Apa selama ini kau tak pernah menganggapku? Kau selalu menyebutkan jika aku adalah kakak untukmu? Apa itu hanya bualan semata? Jika kau benar-benar menganggapku demikian, lantas kenapa tak memberitahuku ketika sesuatu menimpa dirimu? Meski Kyuhyun sekalipun, aku akan selalu terus mendukungmu. Kau pergi dengan membawa keponakanku, dan selama itu tak memberi kabar padaku. Apa kau berniat untuk menjauhi ku dengan keponakanku kelak? Kembalilah Seira, ibu akan kembali dalam waktu 6 bulan. Jika kau tidak kembali dalam jangka waktu tersebut, maka habislah aku di hukum olehnya. Aku akan selalu menunggu kabar darimu, dan aku sangat merindukanmu.’
-Cho Ahra-
Air mata menetes dari kedua pelupuk mata Seira. Bukan hanya Ahra, namun dirinya pun begitu merindukannya. Namun keadaanlah yang membuatnya terpaksa melakukan semua ini. Donghae menarik wanita itu ke dalam pelukannya, dan wanita itu terisak disana.
Bukan hanya itu, Donghae pun meminta maaf atas perkataan yang telah ia ucapkan tadi, dan ia kembali meminta pada Seira untuk tetap tinggal. Eun Ri yang tak sengaja melihat semua itu tersenyum bahagia.
•••
Pagi itu, Seira sudah bersiap, begitu pun dengan Donghae. Donghae sangat terkejut melihat tampilan Seira. Tentu saja ia bertanya-tanya, apa yang ingin dilakukannya hari itu? Ketika kata ‘bekerja’ yang dilontarkan olehnya, pria itu langsung membawa Seira kembali ke dalam kamar.
“Kenapa? Eun Ri sudah menungguku.”
“Aku tidak mengizinkanmu bekerja. Kehamilanmu sudah hampir menginjak 6 bulan, kau harus beristirahat.”
“Tapi aku masih sanggup untuk melakukan banyak hal.”
“Aku tidak menerima alasan apa pun. Hari ini, aku akan melakukan operasi besar, sebelum berangkat, aku akan pergi ke tempatmu bekerja, dan menemui direktur mereka untuk membebaskanmu dari pekerjaan.”
“Jadi kau ingin mengurungku disini? Itu pasti akan sangat membosankan.” Seira langsung mempoutkan bibirnya, dan hal itu membuat Donghae menghela nafasnya dengan begitu berat.
Bersambung ...