
“Benar. Dia sedang mengurus administrasi yang belum selesai, dan kau tahu? Kakak itu sangat tampan, aku fikir suamimu telah datang. Tapi, ternyata dia bukan suamimu.” Gumam gadis itu sedikit kecewa.
“Bukankah sudah ku bilang padamu? Suamiku tidak akan pernah datang, dia bahkan begitu membenciku. Ah Eun Ri-ya, apa kau tidak bekerja? Bagaimana jika ayahmu tahu kau ada disini?”
“Maafkan aku eonni. Tapi manusia bisa saja berubah bukan? Jika ada sedikit saja rasa cinta di hatinya, dia pasti kembali padamu, dan perubahan itu tidak akan terjadi pada ayah tiriku, dia benci padaku, dan selalu menganggapku sebagai anak pembawa sial.”
Melihat air mata yang menetes dari kedua mata Eun Ri, membuat Seira langsung mendekapnya. Seandainya saja dirinya merasa berkecukupan, ia ingin sekali membawa Eun Ri pergi, dan merawatnya.
Selain Eun Ri, tidak ada lagi orang yang mengetahui mengenai kemana suami Seira pergi. Semenjak bertemu dengan gadis itu, dirinya merasa begitu akrab dengannya, dan begitu pun sebaliknya.
Pintu ruangan terbuka, dan pandangan mereka langsung tertuju ke arah pintu tersebut. Eun Ri tersenyum saat tahu jika pria yang menolong Seira lah yang datang, dan Seira begitu terkejut ketika menyadari siapa pria tersebut.
“Eonni, kakak tampan ini lah yang membawamu kemari. Dia sungguh baik, dia bahkan menghiburku ketika aku ketakutan karena kondisimu.”
“Namamu Eun Ri bukan?” Sahut pria tersebut, dan sang punya nama pun segera mengangguk. “Bisakah aku bicara dengannya untuk beberapa menit? Kau tenang saja, aku tidak akan menyakitinya. Kau sudah dengar kan aku ini siapa?” Sahut Donghae tersenyum.
“Tidak. Sebaiknya kau tetap disini Eun Ri-ya.” Balas Seira dengan tatapan yang menunduk.
“Tapi sepertinya kakak ini ingin bicara penting denganmu. Aku akan menunggu di luar, dan aku fikir aku butuh makan.” Serunya secara terkekeh, kemudian ia pun keluar.
•••
Dua jam berlalu, tak ada satu patah kata pun yang mereka ucapkan. Seira diam memang karena tak ingin mengatakan apa-apa, sedangkan Donghae, ia merasa kesal pada dirinya sendiri. Kenapa bisa ia membiarkan wanita di hadapannya menderita?
“Kau..” Keduanya membuka suara secara bersamaan. “Bicaralah.” Sambung Donghae, dan Seira pun mulai menghela nafasnya.
“Apa yang kau lakukan disini? Apa yang ingin kau bicarakan padaku sehingga menyuruh Eun Ri keluar? Terima kasih karena telah membantuku, tapi setelah menolongku, seharusnya kau pergi, dan tak perlu mengurus semua administrasinya.”
“Jiwa dokterku yang memanggilku untuk melakukan itu.”
“Kau selalu memberikan alasan yang sama. Lantas kenapa tak kau berikan ‘jiwa doktermu' itu kepada orang lain? Kepada orang yang lebih membutuhkan.”
“Karena kau penting untukku. Apa kau membenciku, Seira?”
“Tidak ada alasan untuk membencimu.”
“Lalu kenapa kau pergi tanpa memberitahuku? Kenapa menghindar dariku? Bahkan kau tak melihatku untuk saat ini. Aku sedang bicara padamu.”
Tangan Seira *** selimut yang menutupi kakinya, dan Donghae terus menuntut jawaban dari pertanyaannya. Seira masih enggan menjawab pertanyaan tersebut, hingga ia pun meminta pria itu untuk pulang.
“Aku tidak akan pergi sebelum kau menjawab pertanyaanku Seira.”
“ ‘Aku mohon untuk tidak menemuiku sementara waktu. Kali ini aku tengah mencoba mengubur perasaanku itu, dan aku sedang dekat dengan seorang gadis, aku tidak ingin dia salah faham. Jadi, bisakah kau pergi?’ Itulah jawabanku, jadi bisakah kau pergi?”
“Mendengar jawabanmu, membuatku semakin tidak ingin pergi. Aku menyesal telah mengatakan semua itu padamu. Saat itu kepalaku di penuhi oleh rasa ke egoisanku, maafkan aku. Aku sudah mendengar semuanya, dan mulai hari ini, akulah yang akan menjagamu serta calon anakmu.” Sahut Donghae langsung memeluk Seira begitu saja.
“Kumohon jangan beritahu kehamilanku ini pada Kyuhyun.”
“Ups. Maafkan aku, aku fikir kalian sudah selesai bicara.”
Melihat Eun Ri yang masuk tanpa permisi, membuat wajah Donghae memerah. Kemudian, Seira memintanya untuk masuk, dan Eun Ri langsung duduk di sisinya. Ia mengenalkan Donghae padanya, begitu pun sebaliknya.
“Kapan kau mengetahui kehamilanmu ini Seira?”
“Ketika aku pergi dari sana, dan tiba di rumahku. Saat itu juga aku memutuskan untuk melupakan tentang kalian semua, dan berharap bisa hidup bahagia dengan anakku.”
•••
Seminggu setelah hari itu, Donghae meminta Seira untuk ikut kembali bersamanya menuju Seoul. Dengan tegas ia menolaknya, ia tidak ingin kembali, karena dirinya tidak ingin merasakan sakit itu lagi. Penuturan yang Kyuhyun utarakan sudah sangat membekas di hatinya, dan sulit untuk membuang semua itu.
Meski terus mendapat penolakkan, Donghae menyebutkan jika Ahra begitu mengkhawatirkan dirinya. Kemudian, wanita ini pun memberikan selembar surat padanya, ia memintanya untuk menyerahkan surat itu pada Ahra.
Sebelum pergi, Donghae juga meminta Seira untuk tinggal di apartment miliknya yang berada di Mokpo. Sempat mendapat penolakkan, namun Donghae terus memaksanya, dan memberikan pilihan. Jika Seira menolak untuk tinggal di apartment miliknya, maka dirinya akan membawa paksa dia untuk kembali. Akhirnya, Seira pun menyetujuinya.
Tak ingin Seira kesepian, Donghae menghubungi Eun Ri untuk tinggal bersama dengan Seira. Mengetahui hubungan keduanya, Donghae sungguh tak meragukan gadis itu lagi, dan ia percaya jika gadis itu dapat di andalkan untuk menjaganya.
Keduanya mengantar Donghae menuju bandara. Sekali lagi Donghae menanyakan kepada Seira untuk ikut kembali, namun Seira tetap dengan pendiriannya. Berat langkah Donghae meninggalkan kota tersebut, namun karena pesawat sudah hampir take off, ia pun segera pergi.
“Eon, apakah kau memiliki hubungan khusus dengannya?” Mata Eun Ri memandang ke arah punggung pria tersebut. “Aku tahu jika dia adalah sahabat dari suamimu, tapi apakah hubungan kalian pun hanya sebatas teman, dan tidak ada perasaan lebih?” Lanjutnya lagi.
Bersambung ...