
Setelah mengatakan semua itu, Kyuhyun bergegas keluar dari sana, dan Seira mengejarnya. Kyuhyun sungguh tak memperdulikannya, toh untuk apa juga? Seira menggenggam tangan Kyuhyun, dan menatapnya pilu.
Tak peduli dengan darah yang sedikit mengalir dari dahinya, ia terus meminta maaf pada Kyuhyun. Kyuhyun yang tak acuh pun langsung menghempaskan genggamannya, kemudian lekas pergi dari sana. Wajah Seira tertunduk begitu saja ketika Kyuhyun menghiraukan permohonan maafnya. Sedangkan Donghae berdiri di hadapannya dengan penuh penyesalan.
“Maafkan aku. Sangat sulit untuk menekan perasaanku. Aku sungguh tidak bermaksud untuk..”
“... meski kau tidak melakukannya pun, Kyuhyun akan tetap seperti itu. Jadi, lupakan saja.” Sahut Seira tersenyum. “Baiklah, kau bisa kembali beristirahat sekarang.” Sambungnya lagi.
“Sebaiknya kau obati lukamu lebih dulu.”
“Aku akan mengobatinya di kamar.”
•••
Ketika malam tiba, Donghae segera berpamitan pada Seira. Sebelum pergi, ia kembali meminta maaf atas sikapnya tadi, dan memintanya untuk kembali menghubunginya. Seira hanya tersenyum menanggapinya, dan akan berusaha seperti dulu lagi.
Saat Donghae telah pergi, Seira menyambar tasnya, dan menuju suatu tempat. Karena memang belum terlalu malam, Seira pergi menggunakan bus. Ketika berganti bus, ia memutuskan untuk mampir ke sebuah toko, setelah mendapatkan apa yang ia mau, ia kembali melanjutkan perjalanannya dengan menggunakan taksi.
Setibanya di tempat tersebut, Seira menyimpan bunga tersebut tepat di depan guci abu milik Hyerin. Yah, gadis itu tengah berada di crematorium. Menurutnya, hanya tempat itu yang bisa ia kunjungi kali ini. Tidak ada tempat mengadu lagi untuknya sekarang ini, jika saja Ahra atau nyonya Cho berada di sana, mungkin dirinya akan mendatanginya.
Gadis itu duduk menyandar pada lemari abu itu seraya menekuk kedua kakinya. Pandangannya kosong, air matanya menetes. Meski pernikahan keduanya sudah hampir menginjak 5 bulan, sama sekali tidak ada kemajuan yang terlihat dalam hubungan Seira maupun Kyuhyun. Rasa sayang Seira semakin tumbuh, namun berbeda dengan Kyuhyun.
“Eon, apa yang harus ku lakukan? Haruskah aku bertahan dengan semua ini? Bolehkah aku menyerah? Semakin hari, rasa benci Kyuhyun semakin kuat. Aku mulai putus asa, aku tidak yakin bisa mengubahnya seperti dulu lagi.” Gumamnya lirih, dan masih menatap lurus ke depan.
Malam semakin larut, dan udara semakin terasa sangat dingin. Seira memutuskan untuk pergi. Langkah kakinya terlihat sangat lemah, matanya sembab, dan wajahnya terlihat berantakan. Ketika sudah berada di halte terakhir, ia bahkan tidak berani untuk kembali ke rumahnya, ia sungguh takut untuk bertemu dengan Kyuhyun.
Kebetulan sekali rumah Kyuhyun tidak jauh dari dari taman Han. Akhirnya Seira memutuskan untuk pergi kesana dulu. Dirinya duduk di bawah pohon seraya menatap air sungai yang tenang, dan tanpa sadar matanya terpejam begitu saja.
Sedangkan Kyuhyun, pria itu tengah berada di bar menikmati beberapa minuman disana. Beberapa wanita disana menghampirinya, namun Kyuhyun sungguh menghiraukan semua yang datang. Meski banyak wanita yang ia hiraukan, justru semakin banyak yang bertaruh, dan semakin banyak yang mendekatinya.
Sinar matahari kembali dengan sinarnya, dan burung-burung pun berkicauan. Dering ponsel juga terdengar dari dalam sebuah tas, hingga membuat sang punya pun membuka matanya. Seira, ponsel yang berdering itu miliknya. Gadis tersebut terlonjak kaget, karena tanpa sadar dirinya sudah bermalam di taman tersebut.
Beberapa saat kemudian, ia ingat jika ponselnya telah berdering. Gadis ini meraihnya, dan terkejut ketika melihat nama di layar ponselnya, Kyuhyun. Dirinya merasa tak percaya jika nama itu yang akan menghubunginya. Apa yang akan pria itu katakan padanya.
“Seira, kenapa kau tidak pulang? Aku sungguh mengkhawatirkanmu, dimana kau sekarang? Aku akan menjemputmu.” Sebuah senyuman terlihat dari bibir manisnya, kemudian.
“Apa yang kau lakukan diluar sana sehingga menyebabkan dirimu tidak pulang? Apa kau sudah menyerah? Maka pergilah, dan jangan kembali lagi.”
Bayangan kedua sungguh menakutkan untuknya, yang jelas semua tidak akan terjadi seperti bayangan yang pertama. Tidak mungkin perasaan seseorang berubah hanya dalam waktu semalam, tidak ada yang seperti itu. Karena ponselnya terus berdering, Seira langsung menerimanya.
“Syukurlah. Nona, apa kau bisa menjemput pemilik ponsel ini?”
“Maaf kau siapa? Apa yang terjadi padanya?”
“Aku rasa dia mabuk, sedangkan bar sudah tutup sejak 5 pagi tadi, dan sampai saat ini, pemilik ponsel masih terkulai di halaman bar. Bisakah kau datang untuk menemuinya? Letaknya di bar Beton Brut.”
“Aku akan datang.”
Seira langsung bangkit dari sana, dan langsung menghentikan taksi agar bisa mengantar ke tempat tersebut. Tentu saja karena dirinya tidak mengenal tempat tersebut, maka dari itu ia lebih memilih untuk menaiki taksi. Setibanya disana, ia melihat Kyuhyun duduk menyandar pada pilar bar, dan Seira langsung berlari menghampirinya.
“Apa kau yang menghubungiku tadi, tuan?” Seru Seira.
“Benar. Jika boleh tahu, ada hubungan apa nona dengan pria ini?”
“A-aku.. a-aku i-istr.. Tidak, aku temannya.”
“Ah begitu, untunglah bar ini selalu buka hingga jam 5 ketika di hari jumat. Jadi, ia tidak terlalu lama berada di luar sini. Jika begitu berhati-hatilah.”
“Baiklah, terima kasih.”
Saat itu juga Seira memapah Kyuhyun. Mobil, yah Kyuhyun pasti membawa mobil, tapi bagaimana ia membawanya? Dirinya bahkan tidak bisa mengendarainya. Saat ini yang ada di fikirannya hanyalah Donghae, dan mau tak mau, dirinya mencoba menghubunginya serta memberitahunya apa yang terjadi.
Setelah mengabarinya, Donghae memintanya untuk pulang lebih dulu dengan menggunakan taksi, dan dia yang akan datang untuk membawa mobilnya. Sedangkan kunci, di titipkan pada petugas disana. Ketika berada di dalam taksi, Seira menyadari keringat yang keluar dari dahi Kyuhyun, kemudian ia pun mengusapnya, dan ternyata Kyuhyun demam.
Merasa khawatir, ia pun meminta supir taksi tersebut untuk menambah kecepatannya. 35 menit kemudian mereka tiba, dan Seira kembali memapahnya ke dalam kamar. Memapahnya saja membutuhkan tenaga lebih, dan sepertinya dirinya sudah merasa kelelahan saat ini.
Hendak membaringkan tubuh Kyuhyun di atas ranjang, dirinya justru tergelincir, dan membuatnya terjatuh, sedangkan Kyuhyun menindihnya tanpa sadarkan diri. Menatap wajahnya lebih dekat ketika sedang terlelap membuatnya sangat tenang, dan nyaman.
Sangat sulit untuk mencoba mengangkat tubuhnya, tenaganya seolah sudah terkuras habis, dan dirinya mulai merasa panik. Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana jika Kyuhyun sadar? Begitulah yang tengah difikirkan olehnya.
“Seira kau dimana?” Seseorang berteriak.
Bersambung ...