
Kyuhyun yang sudah berada di Seoul pun kembali melanjutkan aktifitasnya. Pertemuan dengan wanita itu kembali membuat fikirannya tak bisa berfikir dengan jernih. Perasaannya kembali merasakan amarah yang begitu besar.
Hingga seseorang yang membuka pintu ruangannya tanpa izin pun langsung di lempari sebuah pen yang tengah di genggamnya itu. Hal tersebut tentu saja membuat orang itu terkejut, dan Kyuhyun pun sama terkejutnya ketika melihat siapa yang datang.
“Noona. Maafkan aku, aku fikir karyawanku telah lancang karena masuk tanpa izin dariku.” Ucapnya yang langsung menghampiri saudara perempuannya.
“Meski itu karyawanmu sekalipun, kau tidak pantas berlaku seperti itu Kyu. Mereka menghabiskan waktu, tenaga, dan fikiran mereka untuk perusahaanmu. Jika tidak ada mereka, maka kau juga tidak akan bisa seperti sekarang.”
“Aku mengerti. Tapi, fikiranku sedang kacau sekarang. Dua hari yang lalu, aku pergi ke Mokpo untuk menghadiri peresmian, dan di kota itu juga aku bertemu dengan pembunuh itu.” Sahutnya dengan nada yang sama sekali tak bertenaga.
“Seira? Bukankah aku sudah pernah mengatakan padamu? Seira sama sekali tidak membunuhnya, itu sebuah kecelakaan Kyu. Bisakah kau membuka fikiran, dan hatimu?”
Tidak ada jawaban dari pria itu. Ia hanya diam ketika mendengar ucapan sang kakak. Ia hanya percaya dengan apa yang ia dengar pertama kali. Sudah jelas jika saat itu dirinya mendengar jika wanita seolah menyalahkan dirinya sendiri akan kematian istrinya.
Apa itu belum cukup membuktikan jika wanita itu adalah pembunuhnya?
Fikiran itu terus berputar di kepalanya. Merasa di abaikan, Ahra berpamitan untuk kembali ke butiknya. Apa yang ingin ia katakan, sudah ia sampaikan langsung pada adiknya. Yah, niat awal kedatangannya untuk membujuknya, kemudian memberitahu keberadaan wanita itu. Namun, Kyuhyun sudah tahu lebih dulu.
Kyuhyun yang tengah sibuk berkutat dengan fikirannya, berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Donghae. Pria ini masih berkeliling untuk mencari keberadaan Seira, dan hasilnya masih sama. Orang-orang suruhannya pun belum memberikan petunjuk apa apun kepadanya.
Hingga ia mengingat satu tempat. Satu tempat yang bahkan terlupakan begitu saja, dan satu tempat yang belum ia kunjungi. Dengan cepat ia memutar balik arah, dan menuju tempat itu dengan harapan jika wanita itu berada disana.
Setibanya disana, benar ia melihat seseorang yang sangat ia kenal. Perasaannya sungguh lega melihatnya baik-baik saja. Kemudian, ia menghampirinya, dan menyentuh bahu wanita tersebut.
“Kenapa kau pergi tanpa memberitahuku?” Gumamnya ketika wanita itu berbalik.
“D-Donghae-ssi? Kenapa kau datang? Pergilah. Terima kasih karena telah menjagaku sebelumnya.”
“Aku tidak akan pergi tanpa dirimu. Apa ucapan dia begitu berarti untukmu? Hingga kau menuruti semua perkataannya? Bukankah aku sudah berjanji padamu? Aku akan melindungimu, apa kau tidak mempercayaiku?”
“Bukan begitu. Aku hanya tidak ingin hubungan kalian rusak karena aku, dan…”
“… aku mohon kembalilah bersamaku. Kita tidak akan ke tempat itu lagi, aku akan menyewakan satu villa untukmu.”
“Tidak bisa. Lebih baik kau simpan uangmu untuk masa depanmu kelak. Aku cukup nyaman tinggal bersama mereka.”
Mendengar itu membuat Seira diam terpaku. Senyuman kebahagiaan gadis itu terbayang di dalam benak Seira, dan entah apa yang akan terjadi pada gadis malang itu jika mendengar kabar bahwa Donghae membatalkan semuanya. Seira sungguh merasa terpojok.
“Baiklah aku akan ikut, dan tidak perlu menyewa villa lain. Kita akan pergi ke apartment milikmu saja.”
“Bagaimana jika Kyuhyun kembali, dan kalian kembali bertemu?”
“Aku akan segera menghubungimu jika terjadi sesuatu.”
•••
Kini, usia kandungan Seira sudah menginjak 8 bulan, dan Donghae mengajukan cuti selama 2 sampai 3 bulan pada direktur rumah sakit dengan alasan jika ia harus mengurus saudara yang tengah mengandung.
Pada awalnya, direktur Jung keberatan karena ajuan cuti itu terlalu lama. Namun, berkat bantuan Soo Ra, Donghae berhasil mendapatkan persetujuannya. Lusa, Donghae, dan Eun Ri pun harus berangkat menuju Swiss.
Keduanya merasa ragu ketika melihat kondisi Seira. Namun, wanita tersebut meyakini keduanya, dan mengatakan pada mereka jika dirinya akan baik-baik saja. Meski begitu, tetap saja keduanya tidak mau meninggalkan Seira sendirian.
“Bagaimana jika kau ikut saja bersama kami? Anggap saja liburan dariku untukmu.” Donghae tersenyum dengan penuh harap, dan Eun Ri terkekeh melihat hal tersebut.
“Aku bukan lagi anak kecil tuan Lee, dan di kota ini, aku tidak tinggal sendirian. Bukankah kau memiliki tetangga?”
“Tapi aku tidak akan bisa tenang jika kau seorang diri disini. Kau harus ikut, aku tidak mau tahu.”
“Aku tidak akan ikut Lee Donghae. Jika kau memaksa, aku akan pergi dari sini, dan tidak akan mau bertemu denganmu lagi.”
“Baik-baik, aku menyerah. Aku tidak akan memaksamu.” Ucapnya pasrah, dan Eun Ri tertawa puas melihat pertengkaran kecil antara Donghae, dengan Seira. Tidak di sangka, ancaman tersebut mampu membungkam seorang Lee Donghae, begitulah fikir Eun Ri.
Tidak lama kemudian, ponsel Donghae berdering. Bahkan Donghae sempat terkejut ketika mendengar suara ponselnya sendiri. Hal tersebut tentu saja mengundang tawa bagi Seira maupun Eun Ri, dan Donghae memalingkan wajahnya dengan kesal dari mereka.
“Kenapa lama sekali menerima telfonku? Aku sudah berada di Mokpo, dimana kau menyembunyikan Seira? Beritahu aku alamatnya.” Ucap seseorang di seberang sana dengan nada kesalnya.
Bersambung ...