
Axton keluar kamar itu dengan membanting pintu. Dia geram pada kelakuan Esme yang sudah mencuci otak seluruh anggota keluarganya. Saat Axton sampai di mansion, sudah dipastikan kalau Bastian tidak ada di tempat. Itulah sebabnya dia langsung menuju ke kamar kakaknya. Dia pikir kalau Esme berada di kamarnya sendiri.
"Sial! Apa yang ada di dalam pikiran Axel hingga mau tidur dengan wanita murahan itu?" Geram Axton sambil mengemudikan mobilnya.
Beberapa kali memukul kemudinya lalu mengumpat banyak hal. Tidak hanya karena kebodohan papanya, tetapi juga Axel.
"Aku benar-benar heran pada dua pria itu. Apa sebenarnya yang ada di otaknya sehingga mau meniduri wanita ****** itu? Mengapa Axel ikut menikmati tubuhnya juga? Kalau aku mengadukan perbuatan Axel pada papa, jelas pria itu tidak percaya. Esme benar-benar mengendalikan seluruh isi mansion. Sekarang aku harus ke mana?"
Saat Axton bingung, tiba-tiba dia terlintas sebuah nama. Orang itu berkuasa penuh dan lebih tinggi bila dibandingkan dengan Bastian.
Axton mengemudi dengan kecepatan penuh untuk sampai di kediaman Demian Casey, sang kakek. Pria yang paling berkuasa di atas Bastian. Hanya saja Demian lebih memilih hidup menyendiri ketimbang bersama anak dan cucunya.
Rumah berlantai satu yang memiliki halaman luas menjadi tujuan Axton. Setelah memarkir mobilnya, dia bergegas turun lalu membunyikan bel.
Tidak lama seorang pelayan keluar menyambut kedatangan tuan mudanya. Sudah lama sekali Axton tidak berkunjung ke rumah kakeknya. Apalagi Axel yang sudah sibuk dengan mainan barunya.
"Selamat malam, Tuan Axton."
"Selamat malam. Apa kakek ada di rumah?"
"Ada. Dia sedang istirahat di ruang tengah. Belum tidur, tetapi sedang menikmati musik klasik."
"Baiklah. Aku akan ke sana. Buatkan aku kopi. Kakek juga buatkan minuman favoritnya."
"Baik, Tuan. Akan segera kami antar."
Axton pun segera menuju ke tempat kakeknya. Demian langsung bisa tahu siapa yang datang.
"Hei, Axton. Apa kabar? Tumben kau ingat kakek?" tanya Demian.
Axton langsung duduk di samping sang kakek. Dia menyandarkan tubuhnya ke sofa lalu memejamkan matanya sejenak. Bayangan Axel bergelut dengan Esme masih terngiang-ngiang di benaknya. Jelas terlihat keduanya memiliki gairah yang sama.
Axel tidak akan mungkin melakukan itu kalau tidak sesuai dengan keinginannya. Timbul banyak pertanyaan di benak Axton saat ini. Mungkinkah Esme dan Axel sudah berhubungan lebih dari itu? Apakah Axel benar-benar bisa menerimanya? Ini sungguh sangat lucu sekali. Kebencian yang ditorehkan Axel cuma setipis tisu.
Tidak lama, pelayan datang membawa semua permintaan Axton. Secangkir kopi, beberapa cemilan, dan teh hangat untuk kakeknya.
"Kabarku sedang tidak baik, Kek. Aku ke sini karena ingin meminta bantuanmu."
Demian yang semula mendengarkan musik lalu memberikan kode pada pelayan untuk segera menekan tombol off. Setelah pelayan pergi, Demian baru bisa fokus pada Axton.
"Apa Bastian berulah lagi?" Jelas Demian bertanya seperti itu. Setiap Axton ribut dengan papanya, pelariannya hanya pada Demian."
"Bukan papa, tetapi Axel, Kek."
"Axel? Kenapa dengannya?"
"Papa sudah menikah lagi. Hanya saja, papa menikahi wanita ******. Dia terus saja menguasai pikiran papa, Kek. Aku tidak mau apa yang dilakukan wanita itu mengarah pada Axel. Kakek tahu kan kalau keluarga kita selalu menjunjung tinggi derajat dan menikahi wanita pilihan. Itu kan yang Kakek maksud selama ini," jelas Axton.
Axton tidak boleh menceritakan hubungan yang sudah terjalin antara Esme dengan Axel. Bisa-bisa Kakek murka dan membuat papanya marah karena sudah mengadu yang tidak-tidak pada pria tua itu.
"Apa? Bastian menikah lagi? Dengan siapa? Mengapa kau tidak mengabari kakek?" Jelas saja Demian marah. Bastian seolah tidak menganggapnya ada.
"Kurang ajar! Di mana pikiran Bastian untuk menikah dengan wanita serendah itu? Apa telah terjadi sesuatu dengan Axel?"
Axton agak ragu. Apakah dia menceritakan secara detail atau hanya sebagian saja? Setidaknya Demian akan memikirkan cara yang tepat untuk membuat keduanya menjauh.
Sebelum melanjutkan pembicaraan, Demian meminum secangkir teh yang mulai dingin. Dia masih menerka-nerka dengan apa yang terjadi di mansion saat ini.
"Di mana papamu?"
"Papa sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri, Kek. Saat aku pulang untuk menemui Axel, aku sempat melihat–"
"Melihat apa? Apa yang terjadi di mansion? Katakan! Jangan memberikan informasi setengah-setengah seperti itu, Axton! Bagaimana kakek bisa berpikir kalau ucapanmu itu sungguh meragukan," tegur Demian. Axton terlalu bertele-tele.
"Aku melihat Esme dan Axel bermesraan, Kek."
Akhirnya Axton keceplosan juga. Dia terlanjur mengucap, maka sebentar lagi Demian pasti akan mengamuk.
"Apa katamu? Jangan-jangan Bastian tidak tahu kalau istri dan anaknya memiliki hubungan. Benar-benar pria bodoh!"
Demian emosi. Matanya memancarkan kilatan cahaya yang menyeramkan. Dia kemudian sedang memikirkan sesuatu. Lalu, Demian mengambil ponselnya berniat untuk menghubungi Bastian.
"Kakek mau apa?" tanya Axton.
"Aku akan menghubungi papamu untuk menjaga istrinya agar tidak dekat lagi dengan Axel."
"Jangan, Kek! Tolong jangan lakukan itu. Kakek harus tahu kalau papa sudah dikuasai oleh Esme, mama tiriku, Kek. Lebih baik Kakek pikirkan jalan keluar lain untuk menjauhkan Axel darinya."
Axton merasa senang bisa memengaruhi sang kakek. Terlebih atas apa yang dilakukan Esme padanya perlu mendapat perlawanan. Enak saja selama ini Axton harus tinggal di luaran sana karena papanya terus saja mengikuti perintah Esme.
"Kakek juga tidak mau kan skandal mereka sampai tercium orang lain. Apa yang akan terjadi dengan perusahaan dan harga diri keluarga kita? Sebisa mungkin tolong pikirkan cara lain."
Demian sedang mencoba mencari jalan keluarnya. Kalau Esme terus saja mengejar Axel, tentunya Axel harus memiliki pasangan. Jika Axel sebenarnya tidak memiliki kekasih, maka tugas Demian yang akan mencarikan.
"Apa Kakek sudah menemukan jawabannya?"
Terlintas sebuah cara untuk menjodohkan Axel dengan wanita lain. Memang terkesan tidak masuk akal, tetapi itu cara yang paling mudah saat ini. Mendepak Esme dari mansion tidaklah mungkin. Apalagi dia merupakan istri sah Bastian. Jelas kedudukannya akan tetap menang.
"Kakek akan menjodohkan Axel dengan gadis yang sudah aku pilih. Mau atau tidak, Axel harus menerima perjodohan ini. Bagaimana menurutmu?"
Axton tampak manggut-manggut sebagai tanda bahwa dia setuju dengan usulan kakeknya. Setelah itu, mereka akan bertunangan. Esme tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk bermain-main dengan keluarga besarnya.
"Rasakan kau, Esme!" gumam Axton terlihat bahagia.
"Apa Kakek sudah menemukan siapa orangnya? Apa dia cantik? Apa dia juga dari kaum sosialita?"
"Tentu, Axton. Namanya Naomi Medeline. Dia salah satu gadis yang cocok mendampingi kakakmu."
Demian tidak pernah salah dengan pilihannya. Perjodohan Axel akan segera diurus lalu mempertemukan dua keluarga dan membicarakan kelanjutannya.