
Pemakaman Demian berlangsung tanpa dihadiri Bastian. Pria itu sedang berjuang melawan penyakit jantungnya. Sedangkan Axton, dia terduduk lemas di pemakaman itu.
Axel tampak tidak mau berbicara pada adiknya. Terlebih semua ini disebabkan oleh kelakuan Axton yang tiba-tiba membuat semua orang panik.
"Puas kau sekarang?" tanya Esme pada Axton. "Kau memang pembunuh!"
Esme tidak tahan. Dia terus memaki adik iparnya. Kalau didiamkan seperti itu, Axton akan tetap seperti itu. Tidak ada perubahan sama sekali.
"Kenapa kau bicara seperti itu?"
"Karena kau, kakek tiada. Kau juga yang membuat Bastian masuk ke rumah sakit. Sekarang pria itu sedang sekarat. Apa kau tidak punya sedikit pun rasa bersalah?" Esme benar-benar murka.
Axton bangkit. Bukannya membalas ucapan Esme, dia malah pergi begitu saja. Dia mengabaikan kakaknya sendiri.
"Lihat, bagaimana kelakuan adikmu, Axel? Kau harus bisa mengendalikannya. Jangan sampai dia berbuat sesuka hatinya!" ujar Esme mengingatkan Axel.
"Biarkan saja, Esme. Itu pilihannya. Aku tidak mau tahu. Saat ini aku hanya ingin fokus pada kesehatan Papa. Setelah dari pemakaman, aku akan ke rumah sakit."
Esme yang tidak tega. Apalagi beberapa hari ini Axel sudah lelah untuk mengurus pemakaman kakek. Belum lagi perusahaan yang ditinggalkan Bastian begitu saja. Otomatis Axel sangat kelelahan sekali.
"Jangan, Sayang. Kumohon kali ini ikuti apa pun permintaanku. Kau lebih baik istirahat di mansion. Aku dan Grace akan pergi ke rumah sakit. Kalau kau titipkan aku pada Grace, pasti tidak ada rasa khawatir lagi, bukan?"
Ini memang pilihan sulit, tetapi demi bisa menjaga kesehatannya, Axel akhirnya mengalah. Itu pun karena menuruti istrinya.
"Kalau begitu aku minta Grace langsung ke rumah sakit saja. Bagaimana?"
"Biar aku yang mengirimkan pesan padanya. Kau pulang saja, Sayang. Aku bisa naik taksi. Percayalah kalau istrimu ini adalah wanita tangguh."
Bukan perkara sulit membiarkan Esme melakukan tugasnya dengan baik. Selama ini dia sudah terbiasa mandiri.
Sementara Grace baru saja menerima pesan dari Esme. Sebenarnya rencana Grace sepulang dari salon adalah pergi ke Gymnasium untuk melakukan senam. Namun, isi pesan itu membuat Grace membatalkan rencananya.
"Hemm, ada apa lagi dengan Esme? Mengapa dia memintaku ke rumah sakit?"
Sejujurnya ada hal yang tidak diketahui oleh Grace, yaitu kematian Demian. Itu dikarenakan Esme lupa memberitahukan saat bersamaan dengan Bastian masuk ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Grace langsung mencari keberadaan Esme. Walaupun pakaian yang digunakan hari ini masih sama seperti saat Grace datang ke salon, itu tidak menjadi masalah.
"Oh, Esme, ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Grace memeluknya.
"Demian tiada, Grace."
Grace terkejut. Dia baru tahu sekarang. Namun, tujuannya ke rumah sakit pun belum dijelaskan secara rinci.
"Lalu, siapa yang sakit?"
"Mantan suamiku, Grace. Jantungnya kambuh. Sementara Axel kusuruh istirahat di mansion. Aku tidak tega melihatnya seperti itu."
"Sabar, ya. Ehm, kenapa mendadak sekali Demian pergi. Apa ada masalah?"
"Panjang ceritanya, Grace. Maukah kau menemaniku malam ini saja?"
Sebenarnya Grace ingin, tetapi dia harus pulang dulu ke apartemen. Dia ingin membersihkan diri lalu mengganti pakaiannya.
"Akan aku temani, hanya saja aku mau pulang dulu. Kau tahu kan kalau bajuku ini sejak pagi di salon seperti ini."
"Hemm, aku paham. Kau bisa pulang dulu. Setelah itu, datanglah ke sini. Sekalian belikan aku makanan di luar."
Setelah Grace pergi, rupanya Bastian ingin ditemani. Sebenarnya dia agak rikuh, tetapi pria itu memaksanya. Bahkan dia pun mengancam akan melakukan hal-hal di luar nalar.
"Apa sebenarnya maumu, Bastian? Hubungan kita sudah berakhir. Aku juga sudah menikah dengan anakmu. Apalagi sekarang?"
"Bagaimana kabar papaku? Kau bilang kalau dia sudah tiada, bukan?"
"Sudah dimakamkan, Bastian. Kau saat itu sedang tidak sadarkan diri. Kami tidak bisa menunggunya terlalu lama."
Hening. Bastian mengamati sekelilingnya. Dia melihat Esme sendiri tanpa teman. Tidak ada Axel di sebelahnya. Lalu, ke mana Axton?
"Kau tahu di mana Axton?"
"Kau pikir aku mamanya atau baby sitter-nya? Aku tidak tahu ke mana anakmu yang jahat itu."
Axton kalut. Dia pergi ke sebuah klub malam untuk membuang rasa suntuknya. Kali ini dia tidak bisa bersenang-senang dengan uang yang didapatkan dari menjual para wanita. Sisa-sisa tabungannya terpaksa dihabiskan dalam semalam.
Axton adalah sosok pria konsumtif. Perbedaannya sangat mencolok sekali. Dia lebih senang hura-hura daripada mengikuti permintaan papanya untuk bekerja di kantor.
"Ah, Esme ... hanya kau yang mampu membuatku gila! Kenapa harus Axel? Kenapa bukan aku?" ucap Axton setelah meminum beberapa gelas minuman beralkohol.
Bayangan Esme sedang menari erotis terlihat jelas di pelupuk matanya. Rasanya Axton ingin menyerang wanita yang saat ini menjadi kakak iparnya itu.
"Kau sangat seksi, Sayang," umpat Axton pada bayangan itu.
Setelah mabuk, pikiran Axton malah tertuju terus pada Esme. Dia ingin segera pulang dan meniduri wanita itu. Dia tidak tahu kalau di kamar kakaknya hanya ada Axel saja. Sementara Esme tidur di rumah sakit bersama Grace.
Axton pulang naik taksi. Mobilnya ditinggalkan di klub langganannya karena dia sedang mabuk. Setelah sampai di halaman mansion, dia jalan sempoyongan.
"Di mana Esme?" tanya Axton pada salah satu maid yang ditemuinya.
"Maaf, Tuan. Nyonya sedang tidak ada di mansion."
Suara maid jelas mengatakan bahwa Esme tidak ada di sana, tetapi pendengaran Axton mengatakan kalau Esme ada di kamarnya. Itu yang membuat Axton langsung naik ke kamar kakaknya. Dia masih ingat di mana Esme tidur selama ini.
Kamar Axel memang tidak dikunci bila sang istri tidak di mansion. Kalau keduanya sudah berada di kamar yang sama, barulah kamar itu sangat terjaga privasinya.
Saat ini Axton seolah mengendap-endap masuk ke sana. Padahal tidak ada siapa pun di mansion, kecuali kakaknya. Rasa penyesalan kehilangan sang kakek pun tidak terlihat di wajah Axton.
Saat dia berhasil memegang handle pintu, lalu dia masuk dan menutupnya kembali. Jantung Axton berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Dia mengira orang di balik selimut adalah Esme.
"Rupanya kau sedang terlelap, Sayang," ujar Axton pelan. Dia berjalan mendekati ranjang dengan pandangan yang tidak jelas dan sempoyongan.
"Kena kau!" pekik Axton yang membuka selimut itu.
Tentu saja Axel terkejut. Sejak tadi dia beristirahat karena lelah. Kemudian adiknya masuk dan mengejutkannya.
"Axton! Ada apa?" balas Axel dengan suara yang cukup tinggi.
"Di mana wanita itu? Di mana Esme? Aku ingin tidur dengannya." Axton meracau.
Mendengar kata tidur, seketika Axel bangun dari ranjangnya lalu menampar adiknya. Pikiran Axton sudah benar-benar hilang akal. Seperti yang dilakukan papanya, Axton dibawa ke kamar mandi supaya pria itu segera sadar bahwa apa yang ada dalam pikirannya adalah salah.