Love Bombing

Love Bombing
Bab 40. Esme Hamil



Beberapa minggu kemudian, seluruh anggota keluarga dikejutkan dengan perubahan Esme. Bangun tidur dia langsung memuntahkan cairan dari mulutnya.


"Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Bastian.


Walaupun Bastian sudah setuju untuk bercerai dari Esme dan mengikhlaskan untuk menikah dengan Axel, tetapi mereka masih tinggal di kamar yang sama.


"Aku tidak apa-apa, Bastian. Menjauhlah dariku! Aroma tubuhmu membuatku mual," tolak Esme saat pria tua yang berstatus suaminya itu mendekat.


Bastian mencoba mencium aroma tubuhnya sendiri. Menurutnya biasa saja, tetapi mengapa istrinya malah menolak untuk didekati? Cukup aneh menurutnya.


"Aku akan panggil dokter untukmu. Tunggu saja di sini."


Bastian kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya lalu mendial nomor dokter. Setelah itu, dia memberitahukan semua orang untuk meminta dokter masuk ke kamarnya.


"Nanti kalau ada dokter, tolong langsung minta masuk ke kamarku," ujar Bastian saat semua orang berada di meja makan.


Saat ini sikap Axton sudah sedikit berubah karena sang kakek sudah memberikan wejangan padanya. Demian juga banyak mendengar kisah mengerikan yang dialami Esme dari Stella Odette, mantan mucikari yang menjadi tempat di mana Esme bekerja. Kenyataannya memang seperti itu. Demian merasa bersalah pada menantunya.


"Ada apa, Bastian?" tanya Demian.


"Aku meminta dokter Simon untuk datang ke mansion, Pa. Esme sedang sakit."


"Esme sakit apa, Pa? Boleh aku menemuinya?" tanya Axel yang tidak tahan saat mengetahui pujaan hatinya sakit.


Mengenai rencana pertunangan Axel yang sempat disusun bersama Grace akhirnya batal. Esme sudah mengakui kalau Grace adalah kekasih pura-pura Axel sehingga Demian pun memakluminya. Makanya saat Axel ingin masuk ke kamar papanya dan menemui Esme, tidak ada penolakan dari semua orang.


Mereka merasa bersalah telah menyudutkan Esme selama ini. Padahal pusat kesalahan sebenarnya ada pada Axton yang ternyata seringkali menjual para wanita polos itu ke tempat Madam Stella.


"Temui saja, Axel. Sebentar lagi papamu dan Esme juga akan bercerai," balas Demian.


Sebenarnya Bastian tidak terima diperlakukan seperti ini. Namun, dia juga mengingat kejadian di mana dia juga melakukan hal yang sama seperti Axel. Makanya Demian merasa senang tatkala Axel membalas perbuatan Bastian seperti itu.


Axel meninggalkan meja makan. Dia merasa hari-harinya untuk menjalin hubungan dengan Esme semakin cerah. Setelah mengetuk pintu, Axel langsung masuk. Namun, saat Axel sudah berada di dalam kamar, dia mendengar suara orang yang sedang muntah.


"Sayang, kau di mana?" tanya Axel.


Esme tidak menjawab. Mulutnya terasa getir sampai Axel menemukannya di dekat wastafel kamar mandi.


"Sayang, apa kau baik-baik saja?" Axel mendekat.


"Entahlah, Sayang. Setelah bangun tidur, aku merasa mual dan terus muntah. Selain itu, aroma tubuh Bastian membuatku tidak nyaman. Lalu, mengapa aku baik-baik saja saat berada di dekatmu?"


Esme merasa aneh. Sebenarnya penyakit apa yang sedang dirasakan kali ini? Dia juga tidak memiliki riwayat lambung sakit atau apa pun yang menyebabkan dia muntah seperti ini.


"Apa aku harus memijat tengkukmu, Sayang?"


"Tidak perlu. Bastian sedang memanggil dokter."


Sebagai pria yang belum berpengalaman, Axel tidak menyadari kalau sebenarnya Esme sedang hamil. Begitu juga dengan Esme yang tidak terpikirkan ke arah itu. Dia hanya merasa kalau seluruh tubuhnya ringkih sekarang.


Saat dokter Simon datang, Axel segera membopong tubuh kekasihnya ke ranjang. Dia membaringkan tubuh Esme di sana.


"Dokter, apa aku boleh berada di sini?" tanya Axel.


"Boleh saja, Tuan Axel."


"Bagaimana kondisimu?" tanya dokter Simon pada Esme.


"Ini pertama kalinya, Dokter. Aku bangun tidur lalu mual. Aku tidak tahan sehingga memuntahkan seluruh isi perutku."


Tidak sulit bagi dokter Simon untuk menjelaskan penyakit apa yang sedang diderita pasiennya kali ini. Banyak sekali rekam medis yang menunjukkan bahwa tanda-tanda yang dialami Esme adalah kehamilan di trimester pertama.


"Apa Anda ingat terakhir kali menstruasi?"


Saat pertanyaan dokter tertuju ke arah itu, Axel menyadari satu hal bahwa saat ini Esme sedang hamil. Namun, Axel ragu dengan kehamilan Esme saat ini. Mungkinkah itu anaknya atau malah anak dari papanya sendiri? Dilema kembali muncul di benaknya.


"Dokter, silakan lanjutkan memeriksanya. Aku akan keluar," pamit Axel.


Esme merasa perubahan sikap terjadi pada Axel. Terlihat sekali kalau dia sedang menahan marah dan tidak biasanya dia bersikap seperti itu.


"Kenapa denganmu, Axel? Kau seperti sedang menghindariku," batin Esme.


Sementara di luar, semua orang tertegun melihat Axel yang mendadak memaki papanya. Dia tidak terima karena Esme harus hamil di saat mereka akan bercerai.


"Aku tidak habis pikir dengan cara licik Papa. Apa yang Papa lakukan kali ini? Papa sengaja melepaskan Esme, tetapi bukan dengan cara menghamilinya seperti itu!" maki Axel.


"Hamil?" Respon para pria.


"Iya, Kek. Esme sedang hamil di saat Papa mau menceraikannya. Apa Papa sengaja melakukan itu untuk menahan Esme agar tetap bersama Papa? Benar-benar licik! Kupikir Papa rela melepaskan Esme untukku, tetapi apa kali ini? Buktinya Esme hamil sekarang!" Kecemburuan Axel benar-benar tidak bisa diprediksi. Mungkin juga karena dia ragu. Selama ini Esme juga berhubungan dengan Bastian juga, bukan?


Ada kebahagiaan yang terpancar di wajah Bastian. Dia malah senang mendengar kabar ini. Jadi, dia tahu kalau ternyata Esme bisa hamil saat menikah dengannya.


"Kalau begitu aku tidak jadi menceraikannya. Kalian akan memiliki adik," ujar Bastian membuat Axel meradang.


"Bastian, jangan gila!" bentak Demian. "Kau harus menepati janjimu. Kita juga tidak tahu anak siapa yang ada di dalam rahim Esme. Mungkin juga anak pria lain. Apa kau mau merawat anak orang lain? Kurasa itu bukan pilihan yang tepat. Untuk Axel, kalau kau memang mencintai Esme, jangan pernah ragu untuk menikahinya. Walaupun kau tidak tahu anak siapa itu."


"Kek, tapi ...."


"Kau itu aneh, Axel. Selama ini yang getol berhubungan dengan Esme itu kau, bukan Papa. Kalau sampai dia hamil, bisa jadi itu anakmu sendiri. Mengapa kau malah ragu? Kurasa semua orang di mansion ini bodoh gara-gara Esme!" ujar Axton menunjukkan rasa tidak sukanya.


Axel teringat beberapa minggu lalu di apartemen Grace. Ya, mereka melakukan itu berulang kali. Solusinya, Axel harus menanyakan usia kehamilan Esme saat ini untuk memastikan bahwa itu benar anaknya.


Melihat Axel kembali, Esme terlihat semringah. Dokter sudah mengatakan padanya bahwa saat ini dia sedang hamil.


"Axel ...."


"Ya, aku tahu, Esme. Kau sedang hamil, bukan?"


Esme mengangguk.


"Dokter, berapa usia kehamilan Esme?" tanya Axel lagi. Hal itu membuat Esme terkejut. Sepertinya Axel memang meragukan kehamilannya.


"Kalau menurut perkiraanku sekitar 4 minggu."


Axel tidak mampu berkata-kata. Dia benar-benar meragukan kehamilan Esme saat ini. Dia butuh penunjang untuk meyakinkan, siapa sebenarnya ayah biologis dari bayi yang dikandung kekasihnya itu?