
Dinding ruangan Axel menjadi saksi bisu betapa kuatnya cinta mereka. Axel membalas cinta Esme dengan cukup romantis. Dia membisikkan kata-kata cinta dan sayang sehingga Esme semakin tergila-gila pada putranya.
"Jangan salahkan aku kalau membalas cintamu, Esme. Rayuanmu begitu kuat seolah merobohkan dinding pertahananku. Aku tahu kalau akulah yang jahat di sini, tetapi cinta yang kau gaungkan membuat gejolak hatiku meronta. Sebenarnya antara kesadaran dan alam bawah sadarku berjalan seirama. Suaramu, rayuanmu, dan bisikan-bisikan cintamu membuat aku tumbang. Jadi, apakah anak tirimu ini pantas menjadi kekasihmu? Bagaimana kalau suamimu tahu?" tanya Axel.
"Hubungan ini hanya kita berdua yang menjalani. Aku sudah cukup menderita karena ulah adikmu. Papamu yang sekarang menjadi suamiku adalah sosok pahlawan yang bisa mengeluarkan aku dari lembah hitam itu, tetapi kau malah menjerumuskan aku ke dalam lembah cinta yang aku tidak tahu di mana muaranya. Tiba-tiba perasaan itu muncul begitu saja. Rasanya aku ingin terus bersamamu hingga menua nanti," ujar Esme.
Keduanya pun larut dalam ciuman cinta yang memabukkan. Baik Axel maupun Esme sudah berada di koridor yang sama saat ini. Namun, mereka tidak bisa menyatu sebelum Esme dan Bastian bercerai. Hubungan yang terjalin antara mama tiri dan anak ini akan menjadi bumerang bagi keduanya di kemudian hari.
Esme Turun dari pangkuan Axel. "Jadi, kita adalah sepasang kekasih sekarang? Bagaimana menurutmu? Apakah aku harus mengubah penampilanku menjadi wanita muda yang sesungguhnya?"
Axel menyentil kening Esme. "Kau memang cocok jadi adikku. Sebagai seorang mama, sama sekali tidak pantas. Apalagi kelakuan barbarmu itu yang selalu saja membuatku mencoba menahan gejolak hati."
"Jadi, mau makan siang di pantry atau di sini saja?" tanya Esme yang mulai pindah ke sofa.
"Di sini saja. Aku akan minta mereka mengantarkan minuman untuk kita."
Axel mengambil telepon kemudian menekan nomor pantry. Tidak lama, dia hanya berbicara sebentar dan meminta waktu 10 menit agar segera dibawakan minuman ke ruangannya.
"Tunggu 10 menit lagi," lanjut Axel. "Oh, ya. Bagaimana kalau kau ternyata hamil anak papaku?"
Semenjak memutuskan untuk menjalin hubungan dengan mama tirinya, tiba-tiba Axel memikirkan sesuatu. Esme tidak mungkin hanya menyandang status sebagai istri Bastian saja. Jelas keduanya sudah melewati malam panjang yang penuh gairah.
"Tidak mungkin, Axel. Lagi pula aku tidak mau hamil dengan pria yang sama sekali tidak aku cintai. Aku menikah dengan Bastian hanya untuk membalas pria bejat itu, si Axton."
"Kau sering melakukannya dengan papaku? Bagaimana kalau sekarang aku cemburu? Apa kau bisa menahan diri untuk tidak melakukannya lagi pada papaku?"
Permintaan ini begitu rumit. Esme harus sadar bahwa Bastian pasti akan meminta jatah. Apalagi uang Euro yang dibayarkannya dulu jumlahnya cukup fantastis.
"Aku akan mengusahakan, tetapi aku tidak janji."
"Demi diriku, Esme. Kalau kau menginginkannya, kau bisa datang ke kamarku kapan pun kau mau."
Definisi mencintai mama tiri yang sudah menggebu. Axel bahkan tidak peduli lagi siapa Esme di masa lalunya. Apalagi sekarang?
Pintu diketuk. Seorang karyawan mengantarkan nampan berisi kopi, teh, dan air mineral.
"Letakkan di sana!" Axel menunjuk meja di depan Esme.
"Baik, Tuan."
Setelah itu, karyawan keluar lagi dan menutup pintunya. Tinggallah dua manusia yang sedang dimabuk asmara.
"Apa perlu aku panaskan makanannya? Ini sudah dingin, Axel." Esme mengeluarkan kotak makan dari paper bag.
Keduanya menikmati makan siang dalam sukacita. Axel sudah menonaktifkan CCTV di ruangannya. Jadi, mereka mau berbuat apa pun, Bastian tidak akan tahu.
Hubungan yang sudah terjalin di kantor itu pun berlanjut sampai ke mansion. Keduanya dengan sangat hati-hati menikmati perannya sebagai pasangan kekasih. Axel menolak untuk masuk ke kamar mama tirinya dengan alasan yang masuk akal.
"Kalau aku rindu, datanglah ke kamarku. Aku tidak mau semua orang curiga bila aku sering datang ke kamar papaku. Walaupun aku tahu bahwa para maid tidak akan peduli dengan apa yang kita lakukan, tetapi Axton atau papa bisa saja mencurigai kita," ujar Axel berpesan.
"Kau tenang saja, Sayang. Setiap hari aku akan datang ke kamarmu. Pagi untuk membangunkanmu dan menyiapkan pakaian. Siangnya meneleponmu saat di kantor. Malamnya, aku akan membawakan makan malam ke kamarmu."
"Lalu, kapan kita akan bermesraan?"
"Kapan pun kau mau, aku selalu siap."
Bisa dibilang kalau Axel adalah sosok pemula dalam menjalani hubungan ini. Dia selalu mendapatkan hal-hal indah dari mamanya yang selalu bersikap agresif. Axel hanya mencoba mengimbanginya saja.
Selama ini hubungan yang terjalin masih dalam tahap wajar. Seperti malam ini, Esme meminta maid untuk menyiapkan makan malam. Dia yang akan membawa ke kamar Axel karena putranya terlihat lelah setelah seharian bekerja.
Bastian kalau sudah sibuk dengan pekerjaannya, dia akan lupa memberikan kabar pada Esme. Dia pun tidak peduli lagi kalau di mansion ada istrinya yang menunggu. Namun, Esme merasa bersyukur karena tidak terganggu dengan bunyi ponsel yang tidak penting dari Bastian. Yang paling penting bagi Esme saat ini adalah kebersamaannya dengan Axel.
Esme masuk ke kamar putranya dengan membawa nampan berisi makanan. Dia lalu menutup pintunya kembali, tetapi tidak dikunci. Takut kalau-kalau ada orang yang datang. Mereka pasti akan mengetuk pintu terlebih dahulu baru masuk.
"Sayang, aku bawakan makan malam untukmu. Ayo, makan dulu!"
"Esme, kemarilah!" panggil Axel. Dia meminta mama tirinya untuk duduk dan bersandar di dada bidangnya. Dia ingin merasakan betapa bahagianya bermesraan dengan Esme.
Esme melakukan apa yang diminta Axel. Axel pun memeluknya dari belakang. Dia mulai mengecup leher jenjang mama tirinya yang sudah menjadi candu selama ini. Hanya saja Axel belum berani bertindak lebih jauh. Hal itu akan lebih menjadi candu buatnya.
"Axel, jangan seperti ini! Bagaimana kalau aku tidak tahan?" tanya Esme.
"Kau harus lebih kuat dariku. Biarkan seperti ini, Esme. Aroma tubuhmu membuatku tenang. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku, Sayang."
Axel memutar tubuh Esme. Keduanya berpandangan. Axel pun mendaratkan kecupan di bibir Esme. Kecupan ringan berlanjut hingga ciuman yang memabukkan. Setelah sama-sama merasa kehabisan oksigen, barulah Axel melepaskannya.
"Axel, kalau kau terus seperti ini, aku takut tidak bisa kembali ke kamar papamu. Aku bisa terus salah masuk kalau kau perlakukan seperti ini."
"Bagaimana rasanya? Apakah ini yang namanya cinta? Kau serius mencintaiku atau sengaja memancing nafsuku saja?" tanya Axel masih memandang mata mama tirinya.
"Hubungan kita berdasarkan cinta dan nafsu, Axel. Aku yakin itu. Aku memang memiliki keinginan untuk memilikimu. Aku cukup sadar diri dengan hal itu."
Axel juga memiliki rasa yang sama. Mereka benar-benar membangun skandal cinta di wilayah Bastian sendiri. Bagaimana kalau mereka ketahuan? Akankah Esme diusir dari mansion mewah milik suaminya?