
Kehadiran Demian secara tiba-tiba. Kemudian perjodohan dadakan antara Axel dan Naomi membuat Esme geram. Siapa lagi tersangka utamanya yang berani melawan dirinya, kecuali Axton. Anak tiri bungsunya itu harus mendapatkan pelajaran berharga karena sudah berani mengusiknya lagi.
"Aku tidak bisa berpikir secara rasional. Bagaimana kalau Axel benar-benar menikah dengan wanita itu? Apa yang akan aku lakukan? Apa aku akan menjadi wanita yang terus mengejarnya? Akan semakin rumit dibandingkan sekarang. Ingin bercerai dengan Bastian, itu akan membuatku kesulitan karena harus keluar dari mansion ini secepatnya."
Esme berharap bisa bertemu dengan Axton. Dia ingin berbicara empat mata dengannya. Apalagi kalau bukan membahas masalah Axel.
Sore hari, suasana mansion sepi. Bastian dan Axel belum pulang dari kantor. Axton memang pulang, tetapi dia hanya singgah sebentar. Dia berniat pergi lagi.
Saat ini dia berada di dekat tangga lantai atas. Dia berpapasan dengan Esme. Esme yang sejak awal sudah menahan marah, lantas menghadang Axton begitu saja.
"Axton, kau mau ke mana? Aku perlu bicara denganmu sebentar," panggil Esme.
Axton pun menoleh. "Aku mau pergi. Ada apa?"
"Tunggu sebentar! Kita perlu bicara," ujar Esme.
Axton tetap bersikeras untuk meninggalkan mansion, tetapi keburu Esme mencegahnya. Dia menarik tangan Axton agar dia berhenti di sana.
"Dasar bajingan! Gara-gara kau, papa mertua ikut campur dalam urusanku. Apa sebenarnya maumu, hah?" bentak Esme.
Axton tersenyum sinis. "Kau ingin tahu apa keinginanku? Oke, dengarkan aku! Lebih baik kalau kau segera keluar dari mansion ini. Jujur saja, aku terlihat kasihan pada Axel. Itulah mengapa aku menyelamatkannya bersama kakek. Kalau kau tidak suka, sudah tahu kan pintu keluar di mana? Silakan keluar dari mansion ini dan dari kehidupan papa serta kakakku. Papa menikahimu bukan malah mendapatkan ketenangan, tetapi malah kehancuran untuk hidupnya sendiri. Menikah dengan wanita ****** yang diam-diam menggagahi anak tirinya. Wanita apa itu namanya, jika bukan ******?" balas Axton dengan suara yang menunjukkan bahwa dia sangat benci sekali.
"Jaga ucapanmu, Axton! Kau kan yang membuatku menjadi wanita seperti ini, hah? Apa kau lupa kalau semua penyebabnya adalah kau sendiri!" teriak Esme. Dia juga berniat menampar Axton, tetapi dengan sigap Axton mencegahnya.
"Lebih baik jaga tanganmu ini. Tangan ini sudah kotor, bukan? Kau buat tangan ini untuk menyentuh para laki-laki yang sudah tidur denganmu, bukan? Jadi, jangan sentuh aku!" Axton menurunkan tangan Esme secara kasar.
"Ck, baik, Axton. Kau mengajarkan aku betapa buruknya dirimu. Boleh jadi kau akan merasa menang saat ini, tetapi aku tetap akan melawanmu. Aku akan pastikan kalau perjodohan Axel dan wanita itu gagal. Akulah yang berhak memiliki Axel, bukan wanita itu."
Kepercayaan diri Esme yang cukup tinggi membuat Axton tertawa keras. Jelas saja wanita yang ada di hadapannya ini tidak sadar posisinya. Dia masih menyandang istri dari Bastian, papanya.
"Jangan terlalu percaya diri! Kau masih berstatus istri papaku. Bagaimana kau bisa menyelamatkan Axel dari rencana kakek? Kau kalah dua langkah di belakangku. Kau akan kesulitan untuk menggapai Axel. Lagi pula aku juga tidak akan setuju memiliki kakak ipar sepertimu. Jangankan kakak ipar, menjadi mama tiri saja aku sudah muak dan tidak pernah setuju."
Dendam Esme pada Axel semakin bertambah lantaran pria itu mengusik kesenangannya. Bagi Esme, Axel adalah cinta sekaligus masa depannya. Pria itu juga bisa menerima dirinya yang berstatus sebagai mama tiri.
Kalaupun Esme meminta cerai dari Bastian, dia tidak akan mendapatkan apa pun. Baik harta, kedudukan, dan cinta Axel. Dia pasti akan didepak dengan mudah oleh Axton. Jika itu benar terjadi, maka Axton akan menjadi pemenangnya. Itu tidak boleh terjadi.
Axton mengepalkan tangannya. Memang Esme benar, sejak kehadiran wanita itu, Axton semakin sulit untuk bergerak. Jangankan bergerak, untuk dirinya sendiri berada di mansion sudah sangat membuatnya sulit.
Axton mendorong Esme ke tepi, cukup dekat sekali dengan pembatas pagar lantai dua. Dia sengaja membuat Eşme ketakutan. Tinggal mendorong saja, Esme pasti jatuh dan tidak bernyawa.
"Axton, lepaskan aku. Kumohon," ujar Esme meminta. Dia tidak mau mati sia-sia.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Aku akan membuatmu mati, Esme. Kau sudah berada di tempat yang salah. Harusnya kau menyadari posisimu sekarang. Bukannya malah melawanku! Ingat, kau tidak bisa menjatuhkan aku!" Axton menekankan bahwa Esme tidak akan pernah bisa memenangkan persaingan ini. Dia harus mengalah.
"Harusnya aku yang mengatakan itu, Axton. Kau sudah membuatku dalam kesulitan. Kau juga membuatku berubah dari gadis pendiam menjadi wanita liar. Salah siapa? Kalau kau sampai mendorongku hingga terjatuh, aku tidak akan khawatir lagi. Setidaknya kematianku ditangisi oleh Bastian dan juga Axel. Lalu, bagaimana denganmu? Mereka akan mengirimmu ke penjara dan kau akan mendekam seumur hidup di sana."
"Tidak masalah, Esme. Setidaknya aku puas sudah mengirimmu ke tempat yang seharusnya. Setelah itu, keluargaku yang lain akan hidup dalam kedamaian."
Mereka tidak tahu kalau Bastian baru saja datang. Pria itu langsung melihat posisi Esme dalam keadaan bahaya. Terlihat sangat jelas kalau Axton menyakitinya.
"Axton, apa yang kau lakukan?" tanya Bastian.
Mengapa cuma Bastian yang bisa melerai Axton dan Esme? Mengapa bukan para maid atau siapa pun yang ada di mansion itu? Karena Axton sudah mengancam mereka untuk tidak ikut campur dengan apa pun yang terjadi antara dia ataupun Esme.
"Ingin membuat istri Papa menyadari kesalahannya," ujar Axton dengan sinis.
Bastian berjalan menuju ke tempat mereka berdiri dengan posisi Esme yang siap terjatuh ke bawah bila Axton mendorongnya.
"Tolong lepaskan Esme, Axton. Jangan gunakan kekerasan untuk membuatnya sadar," ucap Bastian. Setelah dia tahu bahwa Esme memiliki hubungan terlarang dengan Axel, dia mencoba mencari waktu yang tepat untuk menyelesaikannya.
"Kau juga harus menyadari kesalahanmu, Axton. Semua ini terjadi juga karenamu!"
"Cukup! Jangan lanjutkan lagi. Esme, kau pun salah," ujar Bastian.
"Axton juga salah, Bastian. Dia yang membuatku menjadi seperti ini. Tidak ada gunanya lagi bicara denganmu," ujar Esme.
"Jangan banyak bicara, Esme!" Axton berniat mendorong tubuh Esme, tetapi sayang yang terdorong malah Bastian karena Esme sendiri berpegangan kuat pada pagar tangga.
"Axton!" teriak semua orang saat melihat Bastian jatuh dari tangga.