
Begitu mudahnya menjadi orang kaya. Apa pun bisa dilakukan dengan cara singkat dan cepat. Keputusan Bastian menikah lagi bukan tanpa alasan. Daripada membiarkan Grace tenggelam dalam kesedihannya karena kehilangan pekerjaan, apa salahnya dia mempekerjakan wanita itu seumur hidupnya.
"Grace, terima saja! Kami akan urus pernikahan kalian," ujar Axel.
Kali ini Axton tidak berkomentar apa pun. Dia kalah telak dari papanya sendiri yang di usia senjanya masih bisa menikahi wanita muda yang masih bugar. Kalau ceritanya seperti ini, Axton benar-benar kalah pamor.
"Esme, aku–"
Grace tampak sedikit ragu. Pasalnya Bastian adalah mantan suami temannya sendiri. Dia takut seolah menyaingi Esme untuk urusan pendamping.
"Terima saja, Grace. Aku setuju kalau kau jadi mama mertuaku," imbuh Esme.
"Baiklah, Esme. Aku menerimanya." Grace tidak punya pilihan lain daripada hidup tidak jelas.
Mereka memutuskan untuk melangsungkan pernikahan pada keesokan harinya. Memang terkesan buru-buru, tetapi niat baik harus disegerakan.
Kali ini Esme tidak terlalu ikut campur karena Axel yang akan meminta pihak butik menyiapkan satu gaun yang menurutnya sederhana, tetapi sangat indah. Perias pengantin juga didatangkan ke mansion karena pernikahan akan dilangsungkan di kantor catatan sipil.
Jangan tanya, sebelum sah menjadi istri Bastian Casey, Grace harus tinggal di kamar terpisah di mansion itu. Perasaannya sangat gugup sekali karena ini terkesan mendadak.
"Esme, aku sangat gugup! Aku tidak tahu kalau akhirnya akan seperti ini."
"Hemm, tidak apa-apa. Kau akan jadi mama mertuaku. Sebentar lagi akan memiliki cucu. Rasanya aku benar-benar bahagia. Apakah setelah ini aku akan memanggilmu Mama?" canda Esme.
"Mungkin juga, Esme. Aku gugup karena akan menjadi Nyonya Bastian Casey. Rasanya seperti mimpi. Apakah dia pria yang hebat?"
"Coba saja sendiri! Nanti kau juga akan tahu," balas Esme. Dia malu kalau harus menceritakan semuanya.
Kali ini Bastian dan Axton berangkat lebih dulu ke kantor catatan sipil. Sementara Axel dan istrinya akan pergi bersama calon mempelai wanita.
"Apakah sudah siap?" tanya Axel yang baru saja masuk.
"Sedikit lagi, Axel," jawab Esme.
Sekitar 5 menit berikutnya, Grace sudah siap dengan gaun pengantinnya. Sementara Esme dengan gaun pestanya yang menampilkan perut buncitnya.
"Kau juga cantik, Sayang," ucap Axel memuji istrinya.
Perjalanan menuju ke kantor catatan sipil sekitar setengah jam. Walaupun tidak terlalu jauh, tetapi lokasinya di tengah kota.
Tidak ada buket bunga pengantin, tetapi Bastian sudah menyiapkan cincin pernikahan. Pada pernikahan ketiga Bastian memang sangat berbeda sekali. Kali ini Grace akan menemaninya hingga hari tua. Itulah yang menjadi keputusan Bastian.
Suasana kantor catatan sipil tampak sangat ramai. Banyak pasangan yang akan mengantre untuk menikah hari ini, sedangkan Grace harus masuk untuk melakukan prosesi pernikahan terlebih dahulu.
Pandangan Bastian saat melihat calon istrinya dibuat terkejut. Pasalnya Grace juga tidak kalah cantik dari Esme. Bahkan keduanya pun bersahabat.
"Kau cantik sekali, Grace," ungkap Bastian dengan suara yang cukup pelan dan mampu membuat Grace tersipu.
"Terima kasih."
"Papa! Jangan lupa cincin pernikahannya," ujar Esme mengingatkan.
Hampir saja lupa. Bastian mengambil satu kotak dari saku jasnya. Berisi dua cincin pernikahan. Masing-masing langsung dipasangkan pada jari manisnya.
"Selamat, Papa! Aku ikut bahagia," ujar Axel.
"Selamat untuk pernikahan Papa yang ketiga. Kuharap tidak akan ada lagi kejadian anak tiri jatuh cinta pada mama tirinya lagi," ujar Axton seolah menyindir Axel.
Grace dan Bastian tersenyum. Inikah paket komplit itu? Menikah dengan mendapatkan suami, anak, dan menantu. Sebentar lagi Grace akan memiliki cucu dari Esme.
"Tidak akan ada drama seperti itu, Axton. Akan kupastikan," sahut Esme.
"Itu karena kau pemenangnya, Esme! Kau berhasil membuat Papa hampir gila. Oh, atau kau sengaja membawa Grace untuk masuk ke dalam kehidupan papaku," tuding Axton.
"Cukup! Jangan bertengkar di hari bahagia papa. Kalau kau mau, segera cari pasangan dan menikahlah!"
Nah, itu baru saran yang benar. Namun, tidak semudah yang mereka ucapkan. Pada dasarnya Axton adalah pria yang suka foya-foya tanpa memikirkan komitmen ataupun masa depan. Dia lebih baik menikmati kehidupannya sendiri saja.
"Jadi, apakah aku harus menyiapkan tiket bulan madu untuk kalian?" tanya Axel saat semua orang sudah berada di tempat parkir.
Mereka harus cepat keluar karena ada pernikahan lain setelahnya. Sebelum mereka pulang, masih ada perbincangan yang ingin diungkapkan dari seluruh anggota keluarga.
"Tidak perlu, Axel! Papamu harus melewati masa pemulihan dulu," ucap Grace seolah-olah sudah berperan menjadi mamanya.
"Wah, sangat bijak sekali, Mama. Kali ini Papa tidak salah pilih istri," ungkap Axel yang terus memujinya.
"Asal kau tidak gelap mata saja lagi!" Lagi-lagi Axton menuduh kakaknya seperti itu.
Axel cuma tersenyum lalu mengalungkan tangannya ke pundak sang istri. Lalu, dia tersenyum smirk memandang adiknya.
"Kau pikir ini apa, Axton?" Axel menunjuk perut buncit Esme. "Ini adalah hasil kerja kerasku selama ini. Jadi, apa aku masih membutuhkan wanita lain lagi? Tidak, adikku tercinta! Istriku bisa membunuh kalau aku ketahuan kurang ajar di luaran sana. Iya, kan, Sayang?"
Esme tersenyum lalu mencubit pinggang suaminya yang terlihat sangat nakal itu. Setelah itu berganti mengamati pasangan pengantin baru.
"Jangan katakan soal kerja keras, Sayang. Papa kita juga akan bekerja keras nanti malam. Aku yakin kalau Grace ... oh, maaf, maksudku Mama Grace akan memberikan servis yang luar biasa!" goda Esme pada Grace membuat wanita itu tersipu.
"Esme!" pekik Grace merasa malu saat digoda menantunya yang ternyata sahabat baiknya itu.
"Hemm, apakah kalian akan berbicara terus seperti ini? Di mansion sudah menyiapkan jamuan makan. Ayo, pulang! Papa ingin menikmati kebahagiaan ini tanpa gangguan dari siapa pun." Bastian terlihat semringah dan menggandeng istrinya dengan sangat mesra.
Saat memutuskan kembali, Axton tidak ikut di dalam satu mobil yang sama dengan papanya, melainkan dengan sang kakak.
"Berdamailah dengan keadaan, Axton! Pada dasarnya mereka akan bahagia pada waktunya. Kalau kau terus seperti itu, sampai kapan bisa berubah? Sebagai kakak ipar, aku hanya ingin agar kau bisa mengerti Papa. Dia cuma ingin satu darimu, yaitu berubahlah dan hidup dengan baik. Sikap burukmu dan foya-foya itu tidak akan bisa membawamu pada kebahagiaan. Hanya iri dan kecemburuan yang kau miliki pada orang lain." Esme menasihati Axton.
"Apa pedulimu padaku? Apakah ini adalah kata damai yang kau tujukan padaku?" balas Axton dengan angkuhnya.
Sementara Axel fokus mengemudi, dia juga mendengar perdebatan adik dan istrinya.
"Anggap saja seperti itu. Apalagi sebentar lagi kami akan memiliki bayi. Aku malas ribut atau apa pun itu. Papa juga sudah bahagia dengan pilihannya. Tinggal kau yang belum bisa menerima kenyataan bahwa hidup itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Semuanya perlu usaha dan kerja keras. So, mari kita berdamai!"