
Jika bukan di rumah sakit, Bastian akan seketika memarahi Esme. Untuk sementara waktu dia perlu menahan diri. Sementara Axton yang sudah tersadar tiba-tiba menyadari ada yang salah dengan dirinya.
"Aku di mana?" tanya Axton.
Kebetulan di dalam ada suster sehingga pria itu segera tahu mengenai alasan, mengapa dia ada di ranjang dengan jarum infus ada di tangannya?
"Anda sedang berada di rumah sakit, Tuan."
"Aku sehat. Kenapa harus ada di sini?"
"Anda memang sehat, tetapi kecelakaan itu yang membuat Anda harus berada di brankar ini. Tunggu sebentar akan aku panggilkan keluarga Anda."
Masih dalam kebingungan, suster pun meninggalkannya. Tidak lama Bastian sudah berada di samping brankar tersebut.
"Papa? Kenapa aku di sini?"
"Kecelakaan, Axton."
"Kakek? Kakek di mana?" Axton ingat kalau tujuannya berada di jalan adalah untuk menjemput sang kakek.
"Kau mengalami kecelakaan tunggal. Kakek belum ada bersamamu."
Axton langsung teringat pada Esme. Apa pun yang terjadi dengannya pasti karena ulah Esme. Terlebih cuma wanita itu yang selalu berseteru dengannya.
"Ini pasti gara-gara Esme."
"Apa maksudmu, Axton?"
"Kecelakaan yang terjadi padaku pasti disebabkan oleh Esme. Dia pasti menyabotase mobilku sehingga aku mengalami tabrakan. Aku mau Papa melaporkannya ke kepolisian. Kurasa dialah pelakunya."
Mana mungkin Esme terlibat dengan kecelakaan Axton? Kalau dia mau, harusnya sejak dulu dia melakukannya. Kali ini Bastian tidak setuju.
"Jangan menuduh seseorang tanpa bukti, Axton! Papa yakin kalau Esme sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kecelakaan ini. Kalau dia mau, seharusnya sudah dari dulu Esme melakukannya. Kenyataannya baru kali ini kau mengalami kecelakaan, bukan?"
Membela Esme berarti sama saja melawan Demian. Axton memang berlindung di balik kekuasaan Demian.
"Papa membela wanita sialan itu, hah? Aku yakin kalau dia masih dendam sama aku, Pa. Papa jangan coba-coba untuk menentang kakek."
"Papa tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu tentang Esme. Kalau sampai dia memutuskan untuk datang ke sini itu artinya dia tidak tahu apa pun tentang kecelakaan yang kau alami. Jiwanya bukan kriminal, Axton. Papamu paham betul bagaimana dia bersikap."
"Lalu, apa Papa juga percaya kalau dia sudah mengakhiri hubungan dengan Axel? Anak kebanggaan Papa itu."
Tentu saja Bastian percaya. Terlebih hubungan Axel dengan Grace juga sudah jelas. Mau penjelasan yang bagaimana lagi? Bukankah Esme juga sudah menunjukkan ketidaknyamanan bersama Axel?
"Terserah apa pun ucapanmu, Axton. Yang pasti papa tegaskan kalau Esme tidak ada sangkut pautnya dengan kecelakaan yang kau alami. Aku bisa menjamin itu. Kalau sampai kakekmu ikut campur dan menuduh Esme, akan aku pastikan kalau kau dan kakekmu yang akan membayar tuduhan palsumu itu."
Sementara Bastian membela mati-matian, seorang Esme, ternyata di luar ruangan keduanya sedang membuat janji temu. Ya, Esme ingin pergi bersama Grace ke luar negeri. Sementara membiarkan Bastian mengurus perusahaan.
"Apa kau yakin rencana ini akan berhasil?" Axel sempat ragu. Kecintaannya pada Esme membuat pria itu setuju saja pada setiap ucapannya.
"Aku yakin, Axel. Bukannya kau akan pergi dengan Grace? Sementara aku akan menyusulmu ke tempat lain dan kita bertemu di sana. Cuma ini waktu yang kumiliki, Sayang. Kau tahukan kalau aku harus segera mengambil keputusan ini sebelum Bastian menginginkannya denganku."
"Hemm." Bastian berdeham sehingga mengejutkan keduanya. "Apa yang kalian bicarakan? Tampaknya serius sekali."
"Oh, aku hanya sharing dengan Mama tentang rencanaku untuk mengajak Grace berlibur, Pa. Selama ini kami jarang sekali punya waktu bersama. Aku juga berharap setelah kami pergi bersama lalu bisa memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya."
"Oh, aku pikir kalian masih menjalin hubungan di belakangku. Oh ya, apa kau ingin menemui adikmu?" tanya Bastian.
"Tentu saja, Pa. Aku akan masuk sebentar. Ma, apa kau juga ingin masuk bersamaku?"
Esme menggeleng. Dia malas sekali bertemu dengan Axton.
"Tidak perlu. Lain waktu saja. Dia pasti kesal sama aku," ujar Esme.
"Kau benar, Esme. Dia menyalahkanmu atas kecelakaan yang menimpanya," ujar Bastian.
"Apa?" Sontak hal ini mengejutkan Axel dan Esme.
"Yang benar saja! Aku tidak tahu apa pun mengenai kecelakaan ini. Kalau dia pikir aku yang melakukan sabotase, itu tidak mungkin. Walaupun aku sangat membencinya, tetapi aku masih memiliki sisi kemanusiaan. Kalau aku mau, harusnya sudah sejak awal aku membunuhnya!" geram Esme. Justru semakin Axton menyudutkannya, malah dia semakin berniat ingin segera hamil anak Axel. Setidaknya akan ada pria yang percaya sepenuhnya pada Esme.
"Ya, aku juga tahu itu. Aku juga sudah membelamu di hadapannya, tetapi dia tidak percaya penuh."
"Biarkan aku yang bicara, Pa. Papa jangan khawatir."
Axel masuk diiringi rasa kesal pada sang adik. Apalagi tuduhan itu sangat tidak beralasan sekali.
"Kau senang, bukan?" tanya Axton saat melihat kakaknya masuk.
"Apa maksudmu?"
"Kau senang melihat aku menderita seperti ini. Ini pasti gara-gara ulah wanita jahat itu. Aku yakin kalau dia pelakunya dan kau ingin membelanya, bukan?" Saat Axton berniat untuk menggerakkan tangannya, tetapi ada rasa nyeri di sana. Bukan nyeri biasa, tetapi sangat nyeri sekali.
"Aduh! Kenapa ini sakit sekali?" lanjut Axton.
Axel segera memanggil dokter karena ada sesuatu yang terjadi pada adiknya. Saat dokter masuk, Axton pun akhirnya tahu kalau dia mengalami patah tulang di tangannya.
"Apa? Tanganku patah tulang, Dokter? Ini tidak mungkin! Aku pasti baik-baik saja." Axton tidak terima.
"Sabar, Tuan Axton. Kami juga memerlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk melakukan perawatan pada tangan Anda. Jangan terlalu khawatir karena kami pasti akan membantu Anda mengatasi segalanya. Lebih baik Anda fokus pada kesehatan lebih dulu sambil berjalan, maka proses penyembuhan akan kita lakukan."
Saran dokter rupanya bukan menjadi alasan bagi Axton. Dia tetap tidak terima sehingga meneriakkan nama Esme sebagai penyebab kecelakaan ini terjadi.
"Ini gara-gara Esme! Dia harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi padaku!"
Axel tidak tahan sehingga dia pun akhirnya menampar sang adik di hadapan dokter dan beberapa perawat. Sungguh ini bukan Axel yang dikenal adiknya, tetapi sikap Axton itu sangat keterlaluan.
"Axel, kau menamparku!"
"Itu sebagai balasan karena kau asal bicara tanpa bukti. Bukan maksudku untuk membela Esme atau Mama tiri kita itu. Namun, kenyataannya memang seperti itu. Dia tidak bersalah atas apa yang terjadi padamu. Itu murni karena kau teledor! Harusnya kau ingat bagaimana kecelakaan itu terjadi," geram Axel.