Love Bombing

Love Bombing
Bab 45. Gaun Yang Terkoyak



Hari ini seluruh anggota keluarga mansion tampak sibuk. Pasalnya ini merupakan hari pernikahan Axel dan Esme. Grace yang menjadi perias pengantin wanita sudah datang sejak pagi.


"Apa aku bisa masuk ke kamar Axel?" tanya Grace pada Bastian.


"Bisa. Akan kuantar ke sana. Oh, ya, bagaimana kau bisa mengenal Esme dengan sangat baik?" Bastian penasaran.


"Kami terlibat dalam sebuah kejadian buruk, Om. Dia rela menukar nyawanya hanya untuk menolongku. Kiranya Axton menghancurkan hidupnya, itu memang benar. Namun, semua jalan itu bukan sebuah kebetulan. Kami dipertemukan di tempat yang sama. Hanya saja aku lebih dulu bebas karena Esme."


Bastian terkejut. Ternyata Esme begitu baik. Kalaupun dia melepaskan wanita itu, paling tidak kehidupannya akan jauh lebih bahagia bersama Axel. Bagaimanapun Bastian harus rela.


"Papa? Grace? Kalian di sini?" tanya Axel yang baru saja keluar dari kamar.


"Kau mau ke mana, Axel?"


"Aku akan melihat persiapan pernikahannya, Pa. Jangan lupa temani Esme untuk datang ke kantor catatan sipil. Aku tunggu di sana!"


"Hati-hati, Axel! Oh, ya, boleh aku masuk? Aku harus mempersiapkan Esme secepat mungkin. Setelah itu, aku akan mengawalnya," ujar Grace.


"Masuk saja, Grace. Esme baru saja mandi. Dia juga sudah menunggumu."


"Baiklah."


Setelah Grace masuk, dia tidak tahu lagi ke mana seluruh anggota keluarga yang lain. Menurut pengetahuannya, di mansion ini ditinggali empat pria, satu wanita, dan beberapa maid. Esme seperti seorang Ratu di sini, tetapi tidak dengan Axton. Sampai kapan pun, pria itu tetap menganggap musuh Esme.


"Halo, Sayang! Kau kelihatan segar pagi ini."


"Ah, Grace, aku sangat bahagia, Sayang!"


"Selamat, ya! Akhirnya kau akan menikah juga."


"Terima kasih, Grace. Tanpamu aku tidak akan bisa seperti ini."


"Jangan berkata seperti itu, Sayang. Kau telah menyelamatkan aku. Sekarang giliranku untuk menjagamu. Kita akan menjadi kerabat sampai kapan pun. Oh, ya, apa gaun pernikahanmu sudah siap?"


"Siap. Aku letakkan di lemari itu. Hanya saja nanti kita ambil setelah aku selesai kau rias. Gaunnya tidak rumit, kok. Bisa dimasukkan dari bawah tanpa merusak riasan atau tatanan rambutnya."


"Baiklah. Mari kita mulai."


Esme duduk di depan meja riasnya. Walaupun tidak langsung ke cermin, Esme masih bisa melihat wajahnya yang mulai dirias Grace.


"Oh, ya, kau sangat beruntung sekali, Esme. Semua pria di mansion ini memperlakukanmu dengan sangat baik."


"Kau benar, Grace. Harusnya aku bertemu dengan mamanya Axel untuk mengucapkan terima kasih."


Grace mengehentikan sejenak kegiatannya. Dia menatap Esme dengan satu pertanyaan.


"Memangnya ada apa?"


"Oh, aku hampir lupa, Grace. Jadi, kisah mamanya Axel tidak jauh beda denganku. Dulu, mamanya Axel ternyata istri dari kakek Demian. Ternyata mantan suamiku menikah dengan mama tirinya."


"Oh, ya, ampun! Seperti mengulang kisah yang sama rupanya."


Esme terkekeh. Jika bukan karena itu, dia tidak akan bisa menikah dengan Axel. Apalagi saat ini dia sedang mengandung.


"Jadi, kakek sudah setuju kau menikah dengan Axel?"


"Ya, dia setuju. Hanya pria bajingan itu saja yang tidak pernah suka melihat aku bahagia."


Sampai kapan pun, Axton memang sudah berjanji tidak akan bisa menerima Esme. Apalagi dia juga tidak pernah dekat dengan wanita.


"Maksudmu Axton?"


"Iya. Siapa lagi? Aku heran sama dia. Terbuat dari apa hatinya? Asal kau tahu, banyak sekali wanita yang dijual pada Madam Stella. Aku saja ikut kesal dibuatnya."


"Mungkin. Dia itu kaku, sombong, dan menyebalkan. Kurasa tidak ada satu pun yang meniru papanya."


Diam-diam, Esme memahami Bastian dengan cukup baik. Axel juga berbeda dengan adiknya. Hanya Axton saja yang aneh dan tidak bisa diatur.


"Grace, seandainya kau dekat dengan Axton, apa kau mau? Kita bisa jadi saudara ipar."


Bukannya sedih, Grace malah tertawa. Dia bukan Esme yang terkadang memiliki jiwa lemah lembut. Grace sosok barbar yang mandiri. Kalau disandingkan dengan Axton, bukannya akur malah terjadi keributan yang lebih besar lagi.


"Apa kau sengaja ingin membakar mansion ini? Jelas kami tidak sejalan, Esme. Dia itu brengsek. Aku tidak suka," ujar Grace tanpa malu mengatakan kejujurannya.


Beberapa riasannya hampir usai. Tinggal memoleskan lipstik saja pada bibir Esme. Setelah itu, Grace akan menata rambut Esme.


"Nah, sudah kelihatan cantik," ujar Grace setelah rambut Esme terlihat cantik. "Oh, ya, aku juga bawakan Tiara dan veil untukmu, Sayang. Kau pasti kelihatan semakin cantik. Jangan lupa gunakan high heels senada."


"Iya, Grace. Aku sudah menyiapkan semuanya. Oh, ya, bisa kau ambilkan kotak gaun di lemari itu!"


Grace berjalan menuju ke lemari. Dia membukanya. Tampak sebuah kotak besar dan diambilnya kotak itu. Bukannya dibawa ke dekat meja rias, Grace meletakkannya di atas ranjang.


"Gaun ini sangat indah, Esme. Saat aku tahu kau mencobanya, aku yakin kalau kau terlihat cantik seperti seorang bangsawan."


"Iya, Grace. Aku menyukainya sejak awal melihat. Bisakah kau buka kotaknya? Aku akan memakai celana pendek dulu."


Grace mengangguk. Sesegera mungkin dia membuka kotak itu. Betapa terkejutnya Grace saat melihat isinya.


"Ya, ampun!" pekik Grace.


"Ada apa?"


"Lihatlah gaunmu, Esme! Ini sudah hancur dan tidak bisa dipakai lagi."


Gaun pengantin polos itu seperti bekas guntingan seseorang. Tidak mungkin ada orang lain yang sengaja menghancurkannya.


"Grace, sekarang bagaimana? Tidak ada waktu lagi. Aku harus bagaimana?"


"Begini saja. Kau pergi dulu dengan Bastian ke kantor catatan sipil. Aku akan menyusulmu. Aku akan carikan gaun yang cocok."


Grace buru-buru keluar. Tidak ada waktu lagi. Tanpa sengaja menabrak Bastian sehingga pria itu terkejut.


"Ada apa, Grace? Kenapa kau terburu-buru?"


"Tolong bawa Esme ke kantor catatan sipil. Sementara aku akan pergi ke butik. Tidak ada waktu lagi!" Grace segera berlari.


Bastian, Demian, dan Axton sudah menunggu Esme. Melihat wanita itu masih menggunakan baju biasa, Axton tertawa.


"Kau ini niat menikah atau tidak?" tanya Axton masih dengan tawanya.


"Jangan pura-pura, Axton! Aku tahu ini adalah ulahmu, kan? Kau sengaja membuat pernikahanku berantakan!"


"Ada apa ini?" tanya Demian.


"Cucu kesayangan Kakek sengaja merusak gaun pernikahanku. Lebih baik kita pergi sekarang daripada nanti Axton berulah lagi."


Mereka pun segera menuju ke mobil masing-masing. Axton masih terus saja mengejek Esme. Esme benar-benar kesal sehingga memutuskan untuk menampar Axton.


"Jangan main-main denganku, Axton! Gara-gara kau, gaun pernikahanku hancur. Apalagi yang akan kau lakukan setelah ini?" maki Esme yang sudah terlihat kesal.


Bastian dan Demian tampak terkejut dengan keduanya. Mereka sudah lama berada di tempat yang sama, tetapi tidak satu pun bisa akur.


"Membuatmu terpisah dari kakakku!" ujar Axton yakin.