Love Bombing

Love Bombing
Bab 50. Mengadopsi Istri



Grace sangat telaten sekali merawat Bastian. Gara-gara harus merawat Bastian di rumah sakit, salon tempatnya bekerja memecatnya secara tidak hormat karena Grace sering kali tidak masuk. Alasannya karena ngantuk setelah begadang.


"Grace, kau tidak masuk kerja hari ini?" tanya Bastian yang saat ini didorong dengan kursi rodanya menuju pintu keluar.


Hari ini Bastian diizinkan pulang, tetapi pihak keluarganya akan menjemput di depan pintu keluar. Alasannya, Axel sibuk di kantor dan Esme menyempatkan diri untuk menjemput menggunakan mobil milik Bastian dengan sopir pribadi.


"Aku dipecat, Om," ujar Grace.


"Aku minta maaf. Semua pasti gara-gara aku," ujar Bastian merasa bersalah.


"Bukan juga, tapi tidak apa-apa. Lagi pula, aku pun sudah bosan bekerja di sana."


Grace terus saja mendorong kursi roda itu sampai tempat yang dimaksud. Tidak lama, sebuah mobil masuk dan berhenti tepat di hadapan mereka.


"Bantu Papa naik," ujar Esme, "Grace, tasnya berikan pada sopir! Biar dimasukkan ke bagasi."


"Hemm, baiklah, Esme."


Setelah semuanya beres, Bastian duduk di jok belakang bersama Grace. Sementara Esme duduk di sebelah sopir.


"Kenapa Axel atau Axton tidak datang menjemput?" tanya Bastian.


"Axel sibuk di kantor, Pa. Perusahaan sedang mengalami perluasan bisnis. Jadi, dia sibuk. Kalau Anak bandel itu, aku tidak tahu!" jelas Esme.


Axton masih saja belum berubah. Padahal Axel sudah menghajarnya habis-habisan. Dia juga memperingatkan pada adiknya untuk tidak kurang ajar pada Esme. Selain itu, Axel juga sudah menawarkan Axton untuk masuk ke perusahaan. Hanya saja Axton lebih memilih menolak daripada bekerja sama dengan kakaknya.


"Hemm, sudahlah, Esme. Biarkan saja Axton tenggelam dalam dunianya. Papa sudah lelah membimbingnya." Bastian tahu kalau Axel tidak mungkin diam saja.


Grace yang saat ini duduk di samping Bastian merasa terhormat sekali. Baru kali ini dia benar-benar dihargai oleh seorang pria berumur. Mungkinkah Grace akan mengikuti jejak teman dekatnya, Esme? Atau dia memilih jalan lain dengan kembali ke lembah hitam saat tidak memiliki pekerjaan?


"Grace, terima kasih sudah menjaga Papa selama beberapa hari ini. Kau pasti sangat lelah harus membagi waktu antara bekerja dan di rumah sakit."


"Jangan khawatir, Esme. Aku sudah terbiasa." Grace tidak ingin menambah beban pikiran temannya karena dipecat.


"Grace dipecat dari pekerjaannya, Esme," sahut Bastian.


Esme langsung menoleh dan merasakan keram di perutnya sehingga dia pun mengaduh.


"Aduh, perutku!" pekiknya.


"Esme, lebih baik kau tenang saja dulu. Fokus ke depan saja! Jangan khawatirkan aku," kata Grace sambil melihat ke arah Esme yang sedang kesakitan. "Bagaimana sekarang? Apa sudah mendingan?"


"Lumayan. Ini sudah baik-baik saja. Kau jangan khawatir! Anakku dan Axel sangat kuat. Dia benar-benar bisa mengerti kondisi mommy-nya."


Seketika bayangan Grace adalah menikah dan bisa hamil seperti Esme. Namun, sampai detik ini dia belum menemukan orang yang tepat. Mungkin saja dia akan sendirian seumur hidup atau jodohnya memang belum datang.


Mereka tiba di mansion. Langsung disambut beberapa maid yang merindukan tuannya. Sementara Bastian malah merindukan Demian yang beberapa waktu lalu telah tiada. Terlebih Bastian tidak hadir ke pemakaman.


Lagi-lagi Grace terlihat peduli pada Bastian sampai mengantarkan pria itu masuk ke kamarnya. Kamar yang pernah ditempati oleh Esme saat menjadi istrinya. Dia sungguh takjub melihat keindahan kamar itu.



Grace masih takjub melihat keindahan kamar itu. Terlebih pada meja riasnya yang mungkin pernah dipakai oleh Esme sebelumnya. Betapa beruntungnya temannya itu memiliki suami kaya yang kehidupannya tidak kekurangan suatu apa pun. Selain itu, tempat tinggalnya saja masih lebih bagus ketimbang apartemen miliknya.


"Grace, apa kau baik-baik saja?" tanya Bastian lagi.


"Oh, iya, Om. Aku baik-baik saja."


Hari ini Bastian sengaja meminta Grace untuk menemaninya sepanjang hari sampai anak-anaknya kembali. Sore hari menjelang malam, semua orang sudah berkumpul di rumah. Axton juga ada di sana dengan wajah yang menyedihkan bekas lebam karena ulah Axel.


"Axton, wajahmu kenapa? Sepertinya sering kali aku melihatmu seperti itu. Apa itu karena pekerjaanmu saat ini?" tanya Bastian.


"Sudahlah, Pa, jangan pedulikan aku. Aku mau berbuat apa pun terserah saja. Hidup adalah hidupku. Sebaiknya Papa tidak ikut campur!" Axton memberikan ultimatum.


Axel duduk di samping Esme. Dia menyandarkan kepalanya pada pundak sang istri. Selain itu, Axel juga menggenggam erat tangan wanita pujaan hati.


"Dia memang seperti itu, Pa. Aku sudah menawarkan pekerjaan di kantor, tetapi dia tidak mau. Salah siapa kalau seperti itu? Lagi pula, pekerjaan kotornya itu tidak akan membuatnya hidup kekal!" cibir Axel.


Axton ingin memberikan pelajaran pada kakaknya, tetapi diurungkan karena Axel sedang menempel pada istrinya.


"Awas saja kau, Axel! Aku pasti akan menghajarmu suatu hari nanti," batin Axton.


"Hemm, inilah salahku! Harusnya aku memiliki satu anak perempuan agar tidak terjadi keributan seperti ini," ujar Bastian.


"Kalau begitu, adopsi aku, Om!" ujar Grace spontan membuat semuanya tertawa. Rasanya lucu sekali mendengarkan jokes yang dilontarkannya.


Bastian melirik Grace. Wajahnya yang imut dan menggemaskan. Lalu, sikapnya yang sangat peduli pada siapa pun membuat orang tidak akan mudah berpaling. Begitu juga dengan Bastian. Selama ditemani di rumah sakit, Grace sangat telaten merawatnya.


Apa ini saatnya Bastian membuka hati? Terlebih Esme juga sudah bahagia dengan anaknya. Mau menunggu apalagi? Sementara Axton sendiri juga susah diatur. Daripada memperpendek usianya, Bastian juga harus memikirkan dirinya sendiri.


"Nah, benar itu, Pa. Lebih baik Papa adopsi Grace, daripada punya anak tidak tahu diri seperti itu!" canda Esme pada Axton.


"Kalau kau masih dendam padaku, jangan main keroyokan! Kalau berani, satu lawan satu!" tegas Axton.


"Wow, ngeri! Maaf, ya, aku malas ribut sama pembuat onar!" balas Esme lagi.


Rasanya Bastian seperti berhadapan dengan anak-anak kecil, yang pekerjaannya lebih suka berantem daripada sekadar memberikan ketenangan pada orang tuanya.


"Kalian seperti anak kecil saja! Papa juga heran padamu, Axton. Harusnya di usiamu saat ini lebih baik fokus menata kembali kehidupanmu. Bukannya malah seperti itu! Hidup tidak ada tujuan." Bastian beralih menatap kemesraan Axel.


Axton masih diam. Beberapa menit kemudian baru berkomentar.


"Lebih baik Papa urus diri sendiri, daripada terus saja mengomentari kehidupanku."


Mereka terdiam. Memang dasarnya Axton susah diatur. Mungkin juga efek tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari mamanya.


"Kau benar, Axton. Papa memang harus urus diri sendiri untuk memperpanjang umur. Selain itu, Papa juga harus menyiapkan diri menjadi seorang kakek. Sebentar lagi bayi Esme lahir. Maka dari itu, aku memutuskan untuk mengadopsi Grace menjadi istriku," ujar Bastian.