
Waktu yang ditunggu pun tiba. Demian menarik kembali tuntutannya. Esme terbebas dari jeratan tuduhan palsu yang dilayangkan oleh Axton.
"Jadi, kapan kau akan menikah?" tanya Demian yang baru saja keluar dari kantor polisi.
"Satu bulan lagi, Kek. Aku harus menyiapkan pertunangan dulu, bukan? Jelas Grace juga tidak mau terburu-buru untuk menikah. Namun, untuk tunangan pasti dia setuju," jelas Axel dengan pemikiran yang matang.
"Hemm, putuskan tanggal pertunangan kalian. Kakek akan menyiapkannya."
Sial sekali nasib Axel kali ini. Namun, selama Esme belum hamil, dia akan mencoba mengulur pertunangan hingga pernikahan mereka. Grace juga tidak akan mau menjadi orang ketiga di dalam hubungan temannya.
Sepulang dari kantor polisi, Axel mengantarkan Demian kembali ke mansion. Sementara dia sendiri langsung pergi ke salon untuk menemui Grace. Kali ini dia tidak mau bicara langsung dengan Esme. Dia tidak ingin kalau kekasih hatinya itu setres memikirkan masalah ini.
"Axel, tumben kau datang ke sini," ujar Grace.
"Apa kau ada waktu? Aku ingin bicara denganmu. Bisa?"
"Tentu saja. Aku tidak terlalu sibuk. Ayo, ikuti aku."
Grace mengajak Axel ke sebuah ruangan di mana menjadi tempat penerimaan tamu khusus. Terkadang ada tamu yang menginginkan ruangan yang sangat privasi untuk melakukan negosiasi kepada pemilik salon.
"Duduklah! Kau mau minum apa?"
"Tidak perlu, Grace. Aku ingin langsung berbicara padamu."
"Hemm, aku akan mendengarnya."
Grace mengambil tempat di samping Axel. Walaupun tidak terlalu jauh, tetapi keduanya sangat menjaga jarak. Apalagi Grace juga tahu kalau pria yang ada di sampingnya adalah orang yang dicintai oleh Esme, wanita yang paling baik pada Grace. Tidak mungkin Grace bisa mengkhianati kebaikan Esme. Walaupun dari segi fisik, Axel adalah sosok yang luar biasa.
"Kakek memintaku untuk segera menikahimu."
"Apa?" Grace terkejut. "Ini kabar gila, Axel. Aku tidak mungkin melakukan hal konyol itu. Esme itu milikmu. Aku hanya membantu kalian saja."
"Ya, aku tahu itu. Ini memang kabar buruk, tetapi kabar terbaiknya adalah kakek sudah mencabut laporannya. Aku yang menyaksikannya sendiri. Namun, kebebasan Esme ditukar dengan pernikahan kita. Apa kau punya solusi?"
Masih lebih baik menjadi kekasih pura-pura Axel, daripada terjebak dalam perangkap pria tua itu. Walaupun Grace belum pernah bertemu dan berbicara langsung dengan Demian, tetapi dia yakin kalau pria itu sangatlah licik.
"Aku menunda pernikahan konyol itu demi sebuah drama pertunangan. Bagaimana menurutmu?" imbuh Axel.
"What? Bertunangan? Aku bingung, Axel. Bagaimana kita bisa mengatasi segalanya? Jelas ini sangat rumit. Pertunangan kita akan dihadiri oleh beberapa klien penting dari perusahaan. Selain itu, kakekmu itu pasti akan mengumumkan pada semua orang kalau kau akan menikah."
"Aku menunggu sampai Esme benar-benar hamil, Grace. Cuma itu yang bisa kulakukan. Kalau kita menggunakan pertunangan palsu, bagaimana? Kita memang bertunangan, tetapi nanti sebelum kita benar-benar masuk ke dalam perangkap pernikahan itu, salah satu dari kita harus mau melepaskan. Anggap saja kita sedang melakukan drama."
Sebenarnya ide itu cukup bagus. Namun, Axel tidak tahu kalau ternyata Demian sudah menentukan tanggal pertunangan berikut tanggal pernikahannya. Axel dan Esme benar-benar berada di ujung tanduk.
"Apa?" Axton terkejut. "Kenapa kakek tidak memberitahu aku? Kenapa Kakek memutuskan secara sepihak? Aku tidak mau kalau Esme bebas begitu saja. Dia harus dihukum."
"Aku tidak bersalah!" sahut Esme dengan nada ketus. Dia baru saja bergabung dengan seluruh anggota keluarga yang sedang berkumpul.
"Bastian telah menukar kebebasan Esme dengan pernikahan Axel," ujar Demian.
"Apa?" Respon Esme benar-benar di luar dugaan. "Bastian, apa yang kau lakukan? Kenapa kau diam saja? Kenapa harus Axel yang menanggung masalahku?"
"Karena Axel yang mau, Esme. Dia tidak ingin keluarga kita terus saja berselisih paham. Apalagi kami juga tahu kalau kau tidak bersalah."
Esme tidak tahu harus bagaimana sekarang? Terlebih hubungan palsu yang dibuat antara Axel dan Grace akan segera diresmikan. Apa sebenarnya yang ada dipikiran Axel saat itu? Mengapa dia terlalu terburu-buru mengambil keputusan?
"Aku harus bicara pada Axel!" ujar Esme yakin.
"Tidak perlu. Axel yang akan bicara padaku. Sebagai Mama tirinya, kau harus memberikan support pada anak sulung suamimu. Aku juga sudah memutuskan pertunangan akan digelar seminggu lagi. Jadi, kau harus pastikan semuanya berjalan lancar. Kau urus fitting gaun pertunangan bersama Grace," jelas Demian.
Apa-apaan ini? Esme baru saja merasa bahagia mendapatkan kebebasannya dari fitnah keji itu, tetapi sekarang dia mendapatkan kabar bahwa Axel ternyata berkorban demi dirinya.
"Apa ini, Axel? Mengapa kau memutuskan hal itu tanpa meminta persetujuanku? Ini sama saja kau mengeluarkan aku dari penjara, tetapi kau melakukan sesuatu ... ah, aku benar-benar tidak paham dengan jalan pikiranmu!" batin Esme.
"Sayang, lakukan saja apa yang diminta Papa. Siapkan pertunangan Axel di hotel berbintang. Kau urus dengan event organizer. Setidaknya libatkan Grace untuk menentukan tema pertunangannya. Oh ya, pastikan perhiasan dari nenek moyang keluarga kami akan dipakai Grace." Bastian memang sudah berjanji untuk memberikan perhiasan itu pada Grace.
Esme tidak mendengar ucapan Bastian. Dia malah terlena dengan lamunannya sendiri. Pikirannya tidak jauh-jauh dari Axel dan omong kosong yang sama sekali tidak masuk ke dalam jalan pikirannya.
"Esme!" teriak Axton karena wanita itu sedang terlihat melamun. "Lihatlah, Pa! Bagaimana dia langsung berpikir seperti itu? Padahal ini hanya pertunangan Axel, belum pernikahannya."
Sontak Esme merespon teriakan Axton barusan. "Kau memang tidak tahu apa-apa, Axton. Makanya setiap ada pembicaraan, kau selalu menjadi pihak yang ... percuma saja aku bicara. Dasarnya kau memang anak laki-laki yang menyebalkan!"
"Nah, benar-benar tidak paham apa yang ada di otakmu, Esme. Kita sedang membahas kakakku, tetapi kau pura-pura mengalihkan pembicaraan. Apa kau masih berharap bisa kembali padanya? Jangan mimpi! Axel akan menikah dengan Grace dalam waktu dekat. Lupakan saja cinta gilamu itu!"
"Axton, jaga ucapanmu!" bentak Bastian. Dia tidak suka ada keributan lagi di mansionnya.
"Papa! Kenapa kau terus saja membelanya? Aku lebih tahu dia, ketimbang Papa. Ingat, suatu hari nanti Papa akan menyesal saat tahu kalau Esme itu memang wanita yang tidak tulus padamu. Kau akan menyesalinya," ujar Axton kemudian meninggalkan ruang keluarga untuk menuju ke kamarnya.
"Nah, kau lihat anak bungsumu, Bastian. Dia sama sekali tidak peduli pada istrimu. Kurasa dia memang benar," imbuh Demian.
"Jika Anda bukan mertuaku, mungkin aku akan bersikap lebih kasar dari ini," ujar Esme kemudian memutuskan untuk masuk ke kamarnya.
Esme menangisi kabar yang membuatnya resah. Jangan sampai Axel jadi bertunangan dengan Grace. Bagaimana nasibnya nanti?