
"Papa, kau akan baik-baik saja!" Axel histeris. Dia tidak menyangka saat pulang mendapati kenyataan pahit seperti ini.
"Axel, aku benar-benar tidak sengaja," ujar Axton yang kemudian turun melihat kondisi papanya.
"Apa sebenarnya yang ingin kau buktikan, Axton? Apakah kau sengaja ingin menyakiti semua orang, hah?" Axel seperti hilang kendali.
"Axel, lebih baik segera bawa Bastian ke rumah sakit. Aku takut terjadi sesuatu padanya," ujar Esme yang melihat darah berceceran.
Ya, kepala Bastian terbentur dari setiap anak tangga dan berakhir di lantai bawah. Ini sungguh mengerikan sekali.
"Kau masih bisa bicara seperti itu setelah papaku terjatuh, hah?" bentak Axton pada Esme.
"Cukup! Kalian jangan bertengkar! Papa sedang kritis, kalian malah bertengkar!"
Axel mencoba mengangkat tubuh Bastian. Axel menyerahkan kunci mobilnya supaya Esme segera membukakan pintunya saat sampai di sana.
"Apa ini, Axel?" tanya Esme bingung setelah menerima kunci mobil tersebut.
"Sayang, siapkan mobil! Buka pintunya pakai itu!" perintah Axel.
Saat genting seperti ini pun mereka masih sempat bersikap romantis. Esme segera ke depan dan melakukan apa yang diperintahkan Axel padanya.
Axton masih terdiam di tempatnya. Dia sempat terkejut, tetapi mau bagaimana lagi? Papanya berada di tempat yang salah.
"Axton, cepat bantu aku membawa Papa!" teriak Axel.
Axton pun akhirnya turun. Dia membantu Axel membawanya ke dalam mobil. Mereka meletakkan Bastian di jok belakang. Dibaringkan agar mudah membawanya ke rumah sakit. Sementara Esme ingin ikut, tetapi dilarang oleh Axel.
"Aku akan ikut kalian," ujar Esme.
"Kau di mansion saja. Jangan khawatirkan Papa. Dia akan baik-baik saja karena Papaku adalah sosok yang sangat kuat," ujar Axel.
Mereka pun kemudian pergi ke rumah sakit. Axton memangku kepala Bastian yang terluka. Kondisinya belum sadar. Keduanya tidak ada pembicaraan yang berarti karena Axel sedang fokus mengemudi.
Axel melajukan mobilnya dengan kecepatan yang luar biasa. Tidak pelan seperti biasanya dan Axton tidak bisa protes karena memang harus sampai di rumah sakit dengan cepat.
Sampai di rumah sakit, Bastian segera dibawa masuk ke ruang emergency. Sementara keduanya menunggu di depan dengan perasaan cemas.
"Apa yang kau lakukan pada papa? Kau sengaja mencelakainya, bukan?" tanya Axel karena dia kesal. Dia tidak menyangka kalau adiknya tega berbuat demikian.
"Harusnya kau yang sadar diri. Kau yang membuat semua ini terjadi. Aku tidak menyangka kalau anak yang dibanggakan papa selama ini menjadi pengkhianat di dalam keluarganya sendiri. Bagaimana kalau papa sampai tahu jika anak sulungnya sudah menjalin hubungan sejauh itu dengan mama? Dia pasti kecewa dan kemungkinan akan mendepakmu keluar dari mansion!" tegas Axton.
Axel tidak mau mengalah. Selama ini dia mengenyam pendidikan di luar negeri bahkan harus bekerja di sana demi bisa menjadikan dirinya mandiri. Tidak seperti adiknya yang terus saja mengandalkan orang tuanya. Bahkan saat tahu adiknya memiliki pekerjaan yang buruk, yaitu menjual orang-orang baik ke tempat buruk seperti yang dilakukan Axton pada Esme membuatnya tidak memiliki kepedulian lagi pada sang adik. Mereka sungguh berbeda.
"Kau tidak berhak mencampuri kehidupanku, Axton. Seperti yang aku lakukan padamu. Apa aku pernah mengurusimu harus begini dan begitu? Tidak, kan? Oh, atau kau sengaja ingin menyakiti Esme? Kalau sampai kau menyentuhnya lagi, aku bisa pastikan kau akan mendapatkan pelajaran berharga dari hari ini. Kalau sampai Esme yang terbaring di dalam, aku akan menghabisimu!"
Axton memandang lekat ke arah kakaknya. Walaupun berasal dari keluarga yang sama, nyatanya keduanya bertolak belakang.
Axel benar-benar kesal pada adiknya. Padahal yang terjadi dengan Bastian karena ulahnya, tetapi seolah semua kesalahan tertuju pada Axel.
"Kau yang membuat papa seperti itu! Kau yang membuat segalanya semakin rumit, Axton!" bentak Axel. Jika dia tidak ingat kalau ini rumah sakit, Axel pasti sudah memukuli adiknya hingga babak belur.
"Malah itu lebih bagus. Kau akan senang kan kalau papa mati. Lalu, kau bisa memiliki Esme, tapi bukan itu tujuanku, Axel. Aku harus menghubungi kakek sekarang. Aku tahu apa yang harus aku lakukan." Saat seperti ini pun masih sempat Axton mencari bala bantuan untuk melawan Axel.
Axel bahkan tidak peduli lagi dengan apa yang akan dilakukan adiknya. Ya, Axton segera mendial nomor kakeknya. Dia ingin mengabarkan kondisi papanya saat ini.
"Halo, Axton. Ada apa?" tanya Demian setelah mengangkat panggilan tersebut.
"Kek, papa masuk rumah sakit. Kecelakaan karena terjatuh dari tangga. Aku tidak sengaja melakukan itu karena sedang ribut dengan Esme."
"Hemm, kau ini selalu saja buat kakek sulit. Bagaimana kondisi papamu sekarang?"
"Entahlah, Kek. Masih ditangani di dalam. Nanti akan aku kabari lagi kondisinya."
"Baiklah. Aku tunggu segera."
Axton pun memutuskan sambungan teleponnya. Sementara Demian merasa perlu melakukan sesuatu sebelum tahu kabar terbaru Bastian, anaknya.
Demian meminta pengacara untuk datang ke rumahnya. Ada hal penting yang harus dibahas bersama dengan pria itu.
"Mengapa Anda memanggilku, Tuan?" tanya pengacara.
"Aku ingin mengubah surat wasiat yang kubuat 10 tahun yang lalu. Kau tahu kan kalau semula surat wasiat itu aku tujukan kepada Bastian. Nah, aku mau mengubahnya untuk kedua cucuku. Bastian tidak akan mendapatkan apa pun dariku."
Sejenak pengacara terkejut. Dia mengeluarkan berkas lamanya dan melihat kepemilikan perusahaan dan seluruh aset memang ditujukan kepada Bastian.
"Mengapa Anda ingin mengubahnya, Tuan?"
"Karena aku tidak mau semua aset yang kutujukan pada Bastian akan dimiliki istri barunya. Apalagi Bastian sekarang sedang mengalami kecelakaan. Kita tidak akan pernah tahu nasib baik atau buruk yang akan terjadi padanya. Aku hanya ingin kedua cucuku lah yang mendapatkannya."
Pengacara pun manggut-manggut saja. Lagipula dia hanya berhak membuatkannya lalu meminta tanda tangan dari Demian. Semuanya akan selesai.
"Jadi, perbandingannya berapa, Tuan? Apakah aku buat sama 50:50 atau ada yang lebih besar?"
Begitu sulit memutuskan ini. Apalagi kalau dijatuhkan pada Bastian, Demian tidak akan susah payah membaginya.
"Ya. Berikan sama saja. Lagi pula mereka adalah cucuku, Axel dan Axton. Mereka anak-anak Bastian yang akan hidup sebatang kara bila Bastian tiada," ujarnya pelan.
"Baiklah, Tuan. Akan segera aku buatkan. Bila sudah selesai, akan aku kirimkan lagi ke sini untuk meminta tanda tangan Anda."
"Ya, segera buatkan!"
Tanpa sepengetahuan Bastian, Demian telah mengubah surat wasiatnya. Dia tidak ingin kalau Esme akan mendapatkan warisan jika Bastian sampai tiada.