Love Bombing

Love Bombing
Bab 34. Peringatan Axton



Esme tidak diizinkan pergi ke luar negeri. Namun, selama masa penyelidikan belum usai, Esme masih bisa bebas. Ada sedikit kelegaan di wajah Axel.


"Grace, rencana kita pergi ke luar negeri batal. Polisi tidak mengizinkan Esme. Jadi, kita akan berlibur di dalam kota saja. Aku minta maaf, ya," ujar Axel.


"Tidak apa-apa, Axel. Lagi pula tidak mudah memang harus berhadapan dengan hukum. Kuharap kau bisa membantu Esme lepas dari tuduhan palsu itu. Dia baik dan tidak mungkin tega melakukan itu."


Setidaknya Esme masih bisa dijangkau oleh Axel. Kalaupun gagal di luar negeri, di dalam kota sendiri Axel harus berjuang. Dia harus membuat Bastian sibuk mengurus Axton. Selagi ada kesempatan, Axel akan segera menanamkan pembibitan dengan Esme. Hanya tinggal beberapa hari lagi dan itu tidak boleh gagal.


Kegiatan sehari-hari Esme selama menunggu masa penyelidikan adalah di mansion, salon, dan kantor. Itu pun dilakukan saat Bastian tidak di rumah. Jelas itu juga tanpa meninggalkan Grace selaku kekasih pura-pura Axel.


"Hari ini aku akan ke rumah sakit. Apa kau mau ikut?" tanya Bastian.


"Tidak. Aku sibuk mau pergi dengan Grace. Kau juga tahu kan kalau dia itu adalah kekasih Axel. Jadi, tolong jangan menaruh curiga lagi padaku. Aku sudah lelah karena dituduh Axton menyebabkan kecelakaan itu terjadi. Sekarang, kau pun akan menuduhku yang macam-macam, bukan?" oceh Esme.


"Aku akan menyiapkan pengacara, Sayang. Kau jangan khawatir. Oh ya, aku sangat lelah mengurusi Axton selama ini. Malam ini aku ingin meminta jatah darimu. Aku berharap kamu segera menyiapkan diri. Aku tunggu di kamar seperti biasa. Aku sudah rindu itu, Sayang."


Fokus Esme terpecah. Bagaimana mungkin dia bisa melayani suaminya sementara niatnya untuk berhubungan dengan Axel masih dalam tahap rencana. Kalau sampai Bastian mengambil bagian pertama, dia takut kalau ternyata Esme akan hamil anak dari Bastian. Itu tidak boleh terjadi.


"A-aku tidak tahu, Bastian. Akan aku konfirmasi lagi nanti setelah pulang dari kantor." Cuma itu alasan yang bisa digunakan untuk mengamankan diri saat ini.


"Kenapa kau gugup sekali, Sayang. Kemarilah!" Bastian meminta Esme untuk duduk di pangkuannya. Ini bukan hal biasa lagi, tetapi Bastian memang seringkali melakukannya saat itu.


Setelah Esme menurut, Bastian pun mulai memberikan kecupan kening hingga turun ke bibir. Namun, saat Bastian akan ******* bibir seksi Esme, wanita itu segera mendorong mundur suaminya.


"Jangan sekarang. Kau pasti akan terlambat pergi ke rumah sakit. Kakek tua itu pasti akan menyalahkan aku lagi."


"Ah, aku minta maaf, Sayang. Aku terbawa suasana. Harusnya pagi-pagi tadi aku memintanya."


Untuk sementara waktu Esme aman. Setelah Bastian pergi ke rumah sakit, Esme segera mampir ke kamar Axel lebih dulu. Irama jantungnya sangat tidak terkontrol dengan baik.


"Ada apa, Sayang?" Axel terkejut saat melihat Esme menutup pintu dengan cukup keras.


"Aku takut, Sayang." Esme langsung menghambur ke pelukan Axel. Dia rindu sekali dengan pelukan hangat putranya. Ditambah dengan aroma tubuh yang selalu menjadi candu bagi Esme.


"Takut kenapa? Apa Papa marah padamu?"


"Bukan, Axel. Hanya saja malam ini Bastian memintaku tidur bersamanya. Aku takut kalau sampai dia menumpahkan benihnya. Aku tidak mau hamil dengannya. Bantu aku supaya bisa lepas darinya. Kumohon," pinta Esme.


Kali ini Esme lebih terlihat seperti anak kecil yang sedang merengek. Axel semakin erat merengkuh Esme ke dalam pelukannya.


"Dasar nakal! Bagus kalau dihamili suami sendiri. Kenapa harus takut? Justru kau harus takut kalau aku yang menghamilimu, Esme."


Mendengar penuturan Axel, Esme kesal sehingga mendorong mundur dada bidang anak tirinya itu.


Tidak semudah itu. Cinta Axel pada Esme semakin kuat. Terlebih semakin keduanya mencoba untuk dijauhkan, semakin dekat pula keduanya menjalin hubungan.


"Nanti kita pikirkan di kantor. Grace pasti akan datang ke sana agak sore. Jadi, kita bisa melakukan pemanasan dulu. Aku juga tidak mau Papa mendahuluiku."


"Dasar anak nakal!" Esme mencubit hidung Axel kemudian segera keluar dari kamar itu.


Mereka pun pergi ke kantor berdua. Tidak ada yang akan curiga bila keduanya menjalin hubungan. Terlebih Grace seringkali datang ke kantor untuk sekadar menjadi kekasih pura-pura Axel supaya semakin dipercaya banyak orang.


Axel juga harus mewaspadai keadaan. Jangan sampai kesempatan emas ini akan merugikan dirinya. Bisa saja kalau Bastian tiba-tiba meletakkan CCTV rahasia untuk memantau kegiatan mereka.


"Esme, bersikap sewajarnya saat di kantor. Aku tidak mau kalau Papa salah paham lagi. Ini hanya untuk mengantisipasi supaya mereka tidak curiga. Kau paham kan maksudku?"


Sebenarnya kantor adalah tempat yang paling aman, tetapi kalau sampai Bastian memasang mata-mata di sana. Itu sama halnya menjebloskan diri sendiri jika sampai ketahuan.


"Lalu, bagaimana rencana kita?"


Tidak mungkin kalau Axel harus melakukan itu di sebuah hotel. Pasti akan menimbulkan kecurigaan lagi.


"Kita akan mencari tempat di apartemen Grace. Dia pasti akan memberikan tempat untuk kita."


Terdengar sedikit lega, tetapi tidak boleh berbangga dulu. Mereka tetap harus waspada. Jangan sampai pengalihan ini menimbulkan kecurigaan lagi.


Sementara di rumah sakit, kondisi Axton memang belum terlalu baik. Dia masih dalam masa pengobatan rutin. Patah tulang di tangannya tidak bisa langsung disembuhkan secepat kilat. Semuanya butuh proses sampai nanti dokter akan mengizinkannya pulang.


"Papa datang sendirian. Di mana istri kesayangan Papa itu?" tanya Axton.


"Pergi ke kantor bersama Axel. Kenapa?"


"Ah, Papa bodoh sekali. Kenapa memberikan kesempatan pada mereka untuk bersama? Mereka pasti sedang membodohi Papa."


"Cukup, Axton! Hentikan kecurigaanmu terhadap Mama tirimu dan kakakmu sendiri. Apa kau lupa kalau Esme sedang kau masukkan dalam masalah rumit yang sama sekali tidak pernah dilakukannya? Dia harus berurusan dengan kepolisian gara-gara kamu dan kakek. Aku tidak habis pikir dengan pola pikirmu juga."


Axton tidak peduli. Kalau perlu, dia akan mengirimkan Esme ke planet lain supaya tidak pernah kembali lagi ke bumi. Satu-satunya wanita yang seringkali membuat Axton berada dalam posisi sulit hanyalah Esme.


"Papa pasti akan menyesal karena tidak pernah mengindahkan peringatan dari aku. Kita lihat saja nanti siapa yang akan dirugikan dalam masalah ini. Papa atau aku?"


Axton tidak bisa percaya begitu saja. Masih sangat aneh dengan hubungan yang dibangun antara Grace dan Axel. Apalagi kedekatan Grace dengan Esme seolah bukan lagi sebagai calon mama mertua dan menantu. Entahlah, itu hanya perasaan Axton saja atau memang kenyataannya demikian?