
Semalam setelah makan bersama Grace, Axel membawa Esme pulang ke mansion. Mereka tinggal di kamar yang sama karena beberapa hari lagi akan melangsungkan pernikahan. Semula Axton tampak keberatan, tetapi karena pembelaan Bastian, akhirnya mereka pun diizinkan tinggal di kamar yang sama.
"Kenapa kau kasar sekali pada Axel? Harusnya sebagai kakak beradik, kau harus bersikap lebih baik padanya."
"Jangan ajari aku kebaikan, Pa! Di mana wanita itu? Wanita yang kelakuannya sama persis dengan Esme. Ya, dialah wanita yang kusebut mama. Apa dia tidak ingin melihat putranya menikah dengan mantan istri suaminya?"
"Jaga ucapanmu, Axton! Papa cukup sadar diri bahwa ini karma yang harus diterima. Papa pernah menyakiti kakekmu. Namun, cinta tidak pernah tahu ke mana dia akan berlabuh, Axton. Mungkin kau belum mengenal sosok wanita yang mampu membuatmu jatuh cinta. Kalau sampai itu terjadi, maka kau akan menyadari betapa bodohnya pria mencintai wanita. Terkadang wanita yang dicintainya sudah menjadi milik orang. Tak ada lagi yang mampu menggantinya."
Meninggalkan perdebatan antara papa dan anak, sebuah kebahagiaan terdengar sangat jelas di sebuah kamar. Sepasang kekasih yang saling merindukan sedang bergelut dengan aktivitas panasnya di pagi hari. Walaupun Esme sedang hamil, tidak menyurutkan niat Axel untuk menidurinya.
"Terima kasih, Sayang. Aku sangat bahagia sekali," ujar Axel yang baru saja menyelesaikan pelepasannya. Dia terbaring lemah di samping Esme.
"Aku pun demikian, Sayang. Beberapa hari lagi kita akan menikah. Apakah kau sudah memikirkan tempat tinggal kita? Kalau kau memang tidak mempunyai pilihan, lebih baik tinggal di apartemenku saja."
"Bisa kita atur, Sayang. Jangan pikirkan itu dulu. Lebih baik fokus pada pernikahan kita. Aku sudah menyiapkan pesta yang meriah untuk itu."
"Kenapa, Axel? Apa kau tidak malu menikahi mantan istri papamu? Semua orang akan tahu mengenai hubungan kita."
"Aku merindukan Mama, Esme. Aku tidak menyalahkannya lagi perihal hubungan terlarang yang pernah terjalin antara papa dan bekas mama tirinya. Seolah aku mengulang kejadian yang sama seperti apa yang dilakukan Papa. Jadi, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk menghujat kita. Aku juga sengaja mengadakan pesta pernikahan itu untuk menarik perhatian Mama yang sembunyi selama ini."
Esme menjadi sedih melihat kondisi Axel. Ternyata selama ini dia benar-benar merindukan sosok mamanya yang pernah menjadi orang paling dibencinya.
Esme hampir lupa kalau orang yang ditunggu telah tiada. Dia pernah mendengar cerita dari Bastian, tetapi dia mencoba mengingat-ingat.
"Sayang, lebih baik hentikan rencanamu untuk membuat pernikahan mewah. Pasalnya mamamu tidak akan pernah datang. Aku lupa kalau Bastian pernah mengatakan padaku bahwa dia sudah tiada beberapa tahun yang lalu. Mungkin dia tidak ingin memberitahukan padamu karena sudah bisa dipastikan reaksimu akan seperti apa."
Justru Axel sangat terkejut sekali. Papanya tidak pernah mengatakan apa pun. Mungkin ini yang dimaksud ingin berbicara dengan Axton dan dirinya.
Axel bergegas mengambil pakaiannya yang berserakan. Dia pergi ke kamar mandi sejenak lalu menuju ke kamar papanya. Dia mengetuk kamar itu dengan waktu yang lumayan lama. Sampai pada papanya membuka pintu.
"Axel, ada apa? Maaf, papa sedang mandi."
"Apakah Papa ingin mengajakku berbicara soal Mama? Apa itu benar, Pa?"
"Iya, Axel. Kurasa sudah waktunya kalian tahu kenyataannya."
"Bahwa Mama sudah meninggal. Itu kan yang akan Papa katakan padaku?"
Seketika Bastian terkejut. Mungkin dia juga lupa kalau sudah mengatakan semua itu pada Esme. Tidak sekali pun Bastian menyembunyikan rahasia pada istri keduanya itu. Hanya saja, Bastian tidak pernah bercerita jika sang istri dulunya adalah istri papanya.
"Tidak perlu menjelaskan apa pun, Pa. Esme sudah mengatakan padaku," lanjut Axel.
"Justru aku marah kalau Papa tidak mau merestui pernikahanku dengan Esme. Mungkin ini agak berat, tetapi kenyataannya aku sangat mencintainya. Entah, bagiku dia adalah sosok wanita yang membuatku jatuh cinta sepanjang waktu."
Bastian terdiam. Tidak ada gunanya cemburu pada anak sendiri. Apalagi hubungannya dengan Esme sudah berakhir. Sebentar lagi Bastian tinggal duduk manis dan menanti kelahiran cucunya. Sebenarnya dia sempat ragu karena Esme hamil saat masih bersamanya.
"Tentu saja papa merestuinya, Axel. Oh, ya, bicaralah pada adikmu. Apa kalian selamanya akan bertengkar hanya gara-gara satu wanita? Papa tahu kalau Axton tidak bisa menerima kenyataan kalau kau akan menikahi Esme. Masa lalunya begitu buruk saat bersama Esme."
Satu hal yang sama sekali tidak ingin dilakukan oleh Axel adalah yang diminta papanya. Axton merupakan sosok adik yang selalu dibenci sepanjang waktu. Bukan karena tidak suka padanya, tetapi kelakuannya sangat bertolak belakang dengan prinsip keluarga.
"Tidak, Pa. Aku malas bicara padanya! Kalau Papa mau, mending Papa saja yang bicara."
"Ada apa ini, Axel?" tanya Demian.
Kakeknya baru saja bergabung lantaran mencari keberadaan Axel di kamarnya tidak ada. Esme yang memberitahukan kalau calon suaminya keluar dan mungkin sedang menemui Bastian. Ternyata benar kalau mereka ada di situ.
"Axel tidak mau bicara pada Axton, Pa. Aku berusaha memperbaiki keadaan, tetapi kedua anakku tetap bersikeras tidak mau mengalah. Axton pun demikian. Aku tidak tahu lagi harus bicara apa pada mereka," jelas Bastian.
"10 menit lagi kita bertemu di meja makan. Aku yang akan bicara padanya," ujar Demian.
Seperti waktu yang sudah ditentukan, Esme kembali duduk di sana. Namun, bukan nyonya mansion itu. Dia berada di sana sebagai calon istri Axel, anak dari pemilik mansion.
"Selamat datang kembali, Esme! Posisimu kali ini berbeda. Sebentar lagi kau akan menjadi menantu di mansion ini. Kau juga, Axton. Kakek ingin bicara padamu," kata Demian sebelum sarapan dimulai.
"Kalau ini soal Axel, maaf, Kek. Aku tidak bisa! Biarkan kami menentukan jalan hidup masing-masing karena aku pun tidak akan peduli padanya." Keputusan Axton sudah bulat.
"Axton, tolong jangan egois! Berikan kesempatan pada kakakmu untuk bicara berdua denganmu."
"Lebih baik aku hidup sendiri daripada punya Kakak yang tidak ingin mengerti kondisi adiknya," ujar Axton mengedarkan pandangan ke arah lain. Dia malas sekali melihat kemesraan kakaknya dengan Esme.
"Apa maksudmu, Axton? Apakah aku tidak peduli padamu?" Axel meradang. Dia sempat berdiri sejenak lalu menggebrak meja.
Esme mencoba menenangkannya. Dia meminta Axel untuk kembali duduk dan tidak terpancing emosi.
"Ya, kau sama sekali tidak peduli denganku. Kau sibuk mengurus wanita itu, bukan? Kau bahkan lupa pernah bersaudara denganku. Rasanya aku muak melihat kalian menikah. Aku membencimu, Esme! Kau yang membuat seluruh anggota keluargaku berantakan!" maki Axton.
Beberapa orang cukup terkejut. Sebenarnya yang mendasari Axton membenci Esme itu apa? Bukannya sudah jelas kalau sejak awal Axton lah yang membuat Esme menjadi wanita seperti itu.