Love Bombing

Love Bombing
Bab 6. Sinyal Cinta



Kepergian Bastian membuat Esme cukup leluasa untuk melakukan apa pun yang diinginkan. Melayani Axel sepenuh cinta, memperhatikannya, dan bahkan terkadang Esme ikut ke kantor bersama putra sulungnya.


Sepagi ini, Esme sudah berada di kamar putranya. Setelah membangunkan Axel layaknya pada sang suami, Esme pun bosan berada di mansion.


"Sayang, mama hari ini ingin ikut menemanimu ke kantor, ya?" ujar Esme.


Inilah salah satu bentuk perhatian Esme pada putranya. Anehnya, Axel pun tidak menolak perhatian itu. Apalagi suasana kantor saat ini sedang banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan.


"Mama boleh ikut, tetapi jangan ganggu aku saat bekerja," ujar Axel mengingatkan.


"Tenang saja, Sayang. Mama mau bersiap dulu."


Esme keluar dari kamar putranya. Dia mampir ke dapur sejenak untuk meminta maid menyiapkan perbekalan yang akan dibawa Esme dan Axel ke kantor.


"Maid, tolong siapkan dua bekal. Satu untukku dan satu lagi untuk tuan muda Axel. Kalian sudah tahu kan apa yang biasanya dimakan putraku? Hari ini aku mau pergi ke kantor. Ada urusan yang harus aku selesaikan bersama Axel," ujar Esme memberi perintah.


Para maid cukup bahagia melihat Esme memiliki perhatian lebih pada Axel. Hanya saja, cukup disayangkan hubungan Esme dengan putra bungsunya tidak sebaik dengan putra sulungnya.


"Baik, Nyonya. Apa ada lagi yang perlu disiapkan?"


"Tidak. Nanti aku akan membuat kopi di pantry kantor saja. Aku akan bersiap. Sekitar 10 menit lagi, aku akan kembali."


"Baik, Nyonya."


Ya, Esme akan bersolek secantik mungkin. Tentunya dia harus menggunakan pakaian yang sopan agar maid dan orang-orang di kantor tidak curiga. Rumor pernikahan Bastian memang sampai ke telinga seluruh karyawan kantor, tetapi mereka sama sekali belum tahu siapa istri Bastian yang sebenarnya.


Tidak lama, maid menyiapkan semua perbekalan itu di meja makan. Esme turun dengan penampilannya yang cukup cantik. Maid sebenarnya tidak mencurigai apa pun karena mereka hanya ditugaskan untuk bekerja tanpa boleh mengurus privasi bosnya.


"Semuanya sudah?" tanya Esme.


Maid yang sudah lama bekerja di mansion keluarga Axel juga tahu betapa beruntungnya Axel saat ini. Puluhan tahun tidak memiliki mama, tetapi sekarang istri papanya sangat perhatian. Wajar kalau Axel seperti kehausan akan kasih sayang. Sikapnya yang dingin perlu ditundukkan oleh seseorang.


"Sudah, Nyonya. Apa perlu kami bantu bawa ke depan?"


"Tidak perlu. Oh ya, kalau Axton kembali, jangan lupa kabari aku. Suamiku hanya berharap kalau aku juga perhatian pada Axton."


"Baik, Nyonya."


Axton merupakan ancaman bagi Esme. Itulah sebabnya dia selalu meminta maid untuk menginformasikan apabila anak bungsunya itu datang.


Setelah meletakkan paper bag makanan di jok belakang, Esme memilih duduk di depan. Tentu saja hal itu membuat Axel merasa risih sebenarnya.


"Kenapa duduk di situ? Duduk saja di jok belakang."


"Kau bukan sopir, Axel. Mama akan duduk di siji," ujarnya saat melihat maid mengamati mereka.


Axel pun segera mengemudikan mobilnya. Dia fokus mengemudikan tanpa memedulikan bahwa di sampingnya ada orang lain, yaitu Esme.


"Axel, jangan diam saja. Coba bicaralah!" pinta Esme.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Axel akhirnya.


"Cintamu, Axel. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama, tetapi penolakanmu membuat aku selalu dilema. Aku sadar kalau aku adalah mama tirimu, tetapi perasaan cintaku padamu sama sekali tidak bisa dibohongi."


"Kita jalani hubungan di belakang mereka, Axel. Aku yakin kalau kau menginginkan yang sama denganku, bukan?"


Axel tidak menjawab. Dia memilih melihat kiri dan kanan seolah fokus mengemudi. Padahal pikiran dan hatinya sudah sangat terganggu dengan perhatian Esme.


Sesampainya mereka di kantor, Axel berjalan lebih dulu menuju ke ruangannya. Memang tidak banyak yang tahu sehingga menganggap Esme adalah pasangan Axel. Mereka pun cuma bisa melihat dari jauh tanpa berkomentar apa pun. Hanya beberapa yang mengelu-elukan keberuntungan jika mendapatkan suami seperti Axel.


Setelah duduk di meja kerjanya, Axel langsung membuka laptop. Beberapa laporan perjalanan bisnis papanya sudah diterima melalui email.


"Papa mengirimkan pesan padaku kalau beberapa hari lagi dia akan pulang. Sebaiknya kau jaga sikap. Jangan sampai papa membencimu," ujar Axel setelah melihat Esme menutup pintu lalu duduk di sofa.


Esme beranjak dari tempat duduknya. Dia berdiri di belakang Axel lalu memeluk pundak pria itu.


"Kau jangan khawatir, Sayang. Mama akan bertindak semakin hati-hati. Asalkan kau tidak menolak mama."


Sebenarnya agak menjijikkan menjalin hubungan dengan Esme. Apalagi dia adalah istri papanya. Hubungannya jelas akan ditentang seluruh keluarga besar.


Entah, pikiran apa yang membuat Axel tiba-tiba menonaktifkan CCTV yang ada di ruangannya saat ini. Mungkin hanya untuk antisipasi saat papanya kembali membawa kesalahpahaman antara anak dan papa.


"Lain kali jangan lakukan itu di sini, Esme. CCTV kantor sudah merekam apa pun yang kau lakukan. Aku menyelamatkanmu kali ini. Aku sudah menonaktifkan CCTV di ruangan ini."


Esme kemudian memberikan kecupan di pipi Axel dari samping. Dia cuma bisa menjangkau itu, tetapi kemudian dia beralih duduk ke pangkuan putranya.


"Esme, apa yang kau lakukan?"


"Memberikan kebahagiaan, Axel. Aku yakin kalau kau sudah bekerja cukup keras. Kau butuh kebahagiaan itu," ujar Esme yang sudah memajukan wajahnya hingga berjarak beberapa centimeter saja.


Ya, Esme mendaratkan ciuman pada bibir Axel. Saat Axel terdiam, dia menggigit bibir bawahnya sehingga Axel memberikan akses masuk untuk memberikan ******* dan kecupan. Keduanya seakan lupa tempat dan hubungan yang terjalin. Sama-sama saling menikmati hingga Esme mendorong tubuh Axel karena merasa kehabisan napas.


"Axel, kau hampir saja membunuhku."


"Siapa yang mulai duluan?"


Sikap Axel berubah. Dia tidak lagi dingin seperti sebelumnya. Apalagi balasan ciuman itu menjelaskan bahwa Axel sangat menggebu-gebu.


"Tidak masalah siapa yang mulai, asalkan kau merespon. Itu sudah lebih dari cukup."


"Bagaimana kalau aku menginginkan lebih?" tanya Axel memandang lekat wajah Esme. Apalagi saat ini wanita itu masih berada di pangkuannya.


"Kau meminta lebih? Kau mau aku layani seperti papamu?" tanya Esme membalas tatapan Axel.


"Ck, aku seperti menjadi pengkhianat di mansionku sendiri," ujar Axel dengan suara pelan, tetapi masih bisa didengar oleh Esme.


"Tidak masalah, Sayang. Jangan sembunyikan apa pun dariku. Kau bisa berbagi keluh kesah, kasih sayang, dan cinta kepadaku. Kapan pun kau menginginkannya, aku siap."


"Bagaimana kalau kau sampai hamil? Papaku pasti bisa salah paham."


Esme bisa menangkap sinyal cinta yang diberikan Axel. Ciuman barusan sudah jelas membuat Axel membalas dan menatapnya dengan cara yang berbeda.


Esme pun memindahkan kepalanya ke bahu Axel lalu membisikkan sesuatu di sana.


"Katakan saja kalau kau mencintaiku, Axel. Bisikkan dengan lembut kata-kata cinta itu. Aku akan mendengarnya."