
Pasca kejadian hari itu, hubungan Axel dan Esme semakin erat. Keduanya bahkan bebas melakukan apa pun di mansion. Terlebih Axton hampir tidak pernah pulang. Sementara para maid di mansion memang tidak pernah berhak ikut campur urusan majikannya. Itulah yang membuat mereka bebas.
Seperti pada pagi ini, mereka berada di kamar Axel. Esme sama sekali tidak pernah membiarkan Axel sekali pun masuk ke kamarnya. Lebih baik mereka bertemu di kamar ini, daripada di kamarnya bersama sang suami.
"Papaku sungguh beruntung memilikimu, Sayang," ujar Axel.
"Kenapa begitu? Bukannya aku memang harus seperti itu? Aku kan masih istrinya."
Esme benar. Dia bertanggung jawab penuh mengurus segala keperluan suaminya walaupun Bastian masih koma di rumah sakit. Dia pun sering datang ke sana untuk sekadar menengok bahkan berbincang-bincang.
Terkadang dia meminta dokter untuk memantaunya selama 24 jam jika Esme tidak bisa datang untuk menengok. Hampir setiap beberapa jam sekali, dokter mengirimkan pesan padanya. Beberapa kali Esme menarik napas berat karena suaminya tidak kunjung ada perubahan.
"Ya, karena kau sangat bertanggung jawab."
"Aku juga beruntung memilikimu. Aku merasa kehidupanku jauh lebih berwarna."
Esme tidak bisa membohongi diri. Dia memang menikah dengan Bastian, tetapi sumber semangat untuk bertahan adalah Axel, bukan suaminya. Apalagi gempuran Axton seolah terus saja membabi-buta menyerangnya.
"Itu kau, Sayang. Sementara aku, aku harus bersabar lebih lama lagi. Bukannya aku berharap papa tiada, tetapi kalau papa sembuh, kesempatan kita untuk bersama semakin tipis, Sayang. Aku rasanya tidak sanggup melihatmu bersama papa."
Ah, iya. Axel hampir saja melupakan perjanjian cinta yang mereka buat sebelumnya. Axel harus menepati janji walaupun risikonya harus menunggu entah sampai kapan.
"Ck, anak nakal! Bagaimanapun aku tetap istri papamu dan mama tirimu. Bukannya kau sudah berjanji padaku untuk selalu setia hingga akhir?"
"Tentu saja. Aku akan menunggumu. Aku tidak bisa berpindah ke lain hati. Aku merasa hanya kaulah wanita yang bisa mengerti aku."
"Aku pun demikian, Sayang. Ingat, hari ini aku memintamu untuk menemani ke rumah sakit. Di kantor sedang tidak sibuk, kan? Kalau tidak, temani aku selama seharian. Sepulang dari rumah sakit, kita bisa pergi makan siang bersama, " ujar Esme.
Itu pun jika semua rencananya berjalan lancar, yaitu ke rumah sakit untuk menengok sang suami, bertemu dokter untuk membicarakan perkembangan Bastian, dan yang paling terakhir pergi makan siang bersama anak tiri sekaligus kekasihnya, Axel.
Hari ini, mereka berencana untuk pergi ke rumah sakit menjenguk Bastian. Walaupun sehari-harinya dia datang ke sana, tetapi berbeda dengan hari ini.
"Sayang, kita ke rumah sakit untuk menjenguk papa. Entah, kapan pria itu akan sadar?" ujar Axel.
"Apa kau menginginkannya lekas sadar?"
Esme masih menikmati suasana seperti ini. Aman tanpa gangguan dari siapa pun. Bukan berarti dia tidak peduli kalau suaminya sakit. Dia masih mengurusnya selayaknya istri kepada suami.
"Tentu saja. Aku yakin kalau papa bisa memahami keadaan kita. Setidaknya kita bisa melawan Axton dan kakek. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan cara mereka membuatku tersudut."
Sebelum mereka pergi ke rumah sakit, Axel selalu memberikan kecupan bahkan ciuman yang sudah menjadi candu bersama Esme. Terkadang mereka pun melakukan olahraga yang membuatnya berkeringat bersama. Tidak peduli lagi halangan atau rintangan yang menghadang.
"Cukup, Axel! Ayo, segera berangkat. Aku tidak mau terlambat bertemu dokter hari ini. Mereka pasti akan memberikan informasi perkembangan kesehatan papamu."
Setelah sampai di rumah sakit, keduanya masuk bersama-sama. Esme duduk di samping brankar, sedangkan Axel duduk di sofa.
"Halo, Suamiku. Bagaimana kabarmu? Aku berharap kau akan selalu baik-baik saja. Lekaslah bangun dan kita buat hari-hari bahagia yang sudah kita lewatkan," ujar Esme.
"Axel, papamu sadar," ujar Esme terlihat bahagia.
Axel segera bangkit lalu melihatnya. Bersamaan dengan dokter masuk, Bastian sudah membuka matanya.
Dokter segera memeriksa kondisi Bastian. Setelah beberapa saat, dokter pun tersenyum ke arah Esme dan Axel. Terlihat auranya semringah, itu artinya semua baik-baik saja.
"Ini sungguh keajaiban, Nyonya Esme. Suami Anda sangat kuat dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ujar dokter.
"Esme? Aku di mana?" tanya Bastian dengan suara pelan.
"Ini sungguh luar biasa, Nyonya. Suami Anda bahkan tidak mengalami amnesia," imbuh dokter.
"Terima kasih, Dok. Kami tidak menyangka kalau ini akan terjadi begitu cepat. Sayang, bagian mana yang sakit? Katakan pada dokter!" pinta Esme. Dia memegangi wajah Bastian, sesekali beralih pad tangan pria tambun itu. Hal itu tidak luput dari pandangan Axel.
"Aku hanya merasa lelah," ujar Bastian.
"Tuan Bastian istirahat saja dulu. Jangan terlalu dipaksakan. Kami akan memantau kondisi Tuan Bastian sampai beberapa jam ke depan."
"Baik, Dokter. Terima kasih," ujar Axel.
Setelah tim dokter keluar dari ruangan itu, mendadak Bastian meminta sesuatu pada Esme sehingga membuat mereka terkejut.
"Esme, tolong minta pengacaraku datang ke rumah sakit. Aku ingin membuat surat wasiat bersamanya," ujar Bastian.
Esme memandang ke arah Axel seolah meminta persetujuan. Entah, wasiat apalagi yang akan dibuat oleh Bastian? Padahal dia sama sekali tidak memiliki kekayaan yang diberikan dari Demian.
"Baik, Sayang. Tunggu sebentar, ya."
Esme mengambil ponselnya lalu mendial nomor pengacara suaminya yang memang sudah diketahui sejak awal. Bastian pernah memberitahukan padanya bahwa jika terjadi sesuatu pada dirinya, semua wasiat ada di tangan pengacara ini.
Setelah melakukan panggilan telepon, Esme mengembalikan ponselnya ke dalam tas. Dia kemudian mengambil salah satu tangan Bastian. Dia memperlakukannya seolah terdapat banyak kerinduan yang sempat hilang.
"Pengacara akan datang, Suamiku. Apa kau memerlukan sesuatu?"
Bastian menggeleng. "Bagaimana kondisimu? Axel, kau bagaimana? Di mana adikmu?"
Esme menutup mulut Bastian dengan satu jari telunjuknya. Dia sengaja melakukan itu agar Bastian tidak banyak bicara selama masa penyembuhan.
"Lebih baik pikirkan dirimu saja, Suamiku. Jangan khawatirkan anak-anak. Axton, Axel, dan aku, semuanya baik-baik saja."
Walaupun Bastian mencoba mengingat kejadian terakhir, dia berusaha sekuat tenaga hingga mengingatnya. Namun, dia tidak bisa menyalahkan Axton. Apalagi kabar mengenai hubungan Esme dan Axel. Dia sudah tahu semuanya. Itulah mengapa dia memanggil pengacaranya.
Esme berinteraksi dengan menggenggam erat tangan Bastian. Hal itu membuat Axel merasa tidak nyaman melihat Esme bermesraan di hadapannya. Rasanya ingin merengkuh wanitanya lalu memeluknya dengan erat. Axel tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhnya.
"Aku tidak tahu sejahat apa diriku kepada Papa? Yang pasti, Esme sangat membuatku merasakan sesak di dada. Walaupun dia dan Papa adalah sepasang suami istri, tetapi aku bisa cemburu juga, kan? Rasanya aku ingin hari ini segera berakhir," gumam Axel terlihat jelas sangat cemburu saat matanya beradu dengan Esme.