
"Kau meragukan kehamilanku, Axel? Aku tidak habis pikir bahwa rasa ragumu bisa mengalahkan cinta kita yang begitu kuat. Tidak masalah bagiku karena aku akan pergi dari mansion ini."
"Kau mau pergi ke mana, Esme?"
"Apa pedulimu, Axel? Kau bahkan meragukan janin yang baru saja tumbuh. Dia pasti kecewa mendengar papanya tidak mau mengakui anaknya sendiri. Kau akan menyesal telah meragukan aku!"
Padahal kondisinya belum terlalu pulih, tetapi dia sudah memasukkan bajunya ke dalam sebuah koper. Setelah itu dia keluar dari kamar suaminya yang disaksikan semua orang.
"Kau mau ke mana, Esme?" tanya Bastian.
"Aku mau pergi. Tidak ada gunanya aku berada di sini. Oh, ya, aku tunggu akta cerainya. Kau bisa menghubungiku jika perlu tanda tangan," pamit Esme.
Axel tidak bisa berbuat apa pun selain menyerah pada keputusan Esme. Dia terlalu cepat menyimpulkan sesuatu tanpa bertanya dulu pada Esme. Akhirnya wanita itu tersinggung dengan dan memilih pergi.
"Axel, ada apa?" tanya Demian.
"Salah paham dan pasti kebingungan dengan janin itu, Kakek. Kurasa Axel mulai ragu karena Esme bukanlah wanita baik-baik." Axton tampak mendapatkan kemenangan setelah Esme pergi.
"Jaga bicaramu, Axton! Bagaimanapun dia masih istri papa."
"Berhentilah untuk memujanya, Papa. Paling kalau dia keluar akan meminta pekerjaan pada Madam Stella lagi. Cuma itu satu-satunya pekerjaan yang sudah pasti menghasilkan uang," papar Axton.
Baik Bastian maupun Axel, keduanya sama-sama terluka. Sementara Bastian yang sudah terikat janji untuk menceraikan Esme harus ditepatinya.
Esme saat ini berada di dalam taksi menuju ke sebuah apartemen yang diam-diam dibeli atas namanya. Itu sudah dipersiapkan untuk mengatasi keputusan yang mendadak seperti ini. Dia tidak mungkin tinggal menumpang di apartemen Grace. Namun, untuk mengelabui semua orang, Esme terpaksa harus datang ke salon untuk menemui teman dekatnya.
"Esme, kenapa kau bawa koper? Apa ada masalah?"
"Aku memutuskan untuk keluar dari mansion itu, Grace. Tidak ada gunanya lagi aku bertahan di sana."
"Kenapa? Bagaimana hubunganmu dengan Axel? Bukankah kau juga akan bercerai dari suamimu?"
Semua itu benar, tetapi kalau orang yang dicintainya tidak percaya, untuk apa dia ada di sana?
"Axel meragukan kehamilanku, Grace. Dia tidak tahu aku seringkali berbohong pada Bastian untuk menjaga diriku. Dia malah tidak percaya."
"Mungkin dia syok untuk sesaat. Kalian baru melakukannya selama sekali. Sementara Axel curiga kalau kau juga berhubungan dengan papanya. Wajar kalau dia cemburu. Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah ini?
Esme pura-pura berpikir. Padahal dia sudah tahu apa jawabannya. Selama satu atau dua hari di tempat Grace tidak akan menjadi masalah.
"Sudahlah. Aku tunggu kau sampai pulang."
"Jangan! Ini belum terlalu siang. Aku masih banyak pekerjaan. Lebih baik kau datang saja ke apartemenku. Ini kartu aksesnya bisa kau bawa."
Mungkin itu lebih baik. Dia juga butuh membeli sarapan karena dari mansion belum terisi apa pun.
Axel tampak melihat keluar dari jendela kamarnya. Dia memutuskan untuk tidak datang ke kantor hari ini. Dia merasa menyesal sekali. Padahal baru beberapa waktu lalu dia mendapatkan lampu hijau dari sang kakek untuk meneruskan hubungan bersama Axel.
"Bodoh sekali kau, Axel! Harusnya kau percaya dulu sampai semuanya benar-benar terbukti. Sekarang menyesal tidak ada gunanya. Kau harus bertindak untuk menemukan Esme. Jangan sampai dia kembali lagi ke lembah hina itu. Bagaimana kalau ternyata itu anakku? Lalu, pria lain datang untuk menjamah kekasihku. Tidak! Itu tidak boleh," batin Axel.
"Kau mau ke mana? Kenapa belum bersiap?" tegur Bastian.
"Aku akan mencari Esme, Pa. Jangan sampai ucapan Axel itu benar. Papa tidak mau kan kemungkinan janin yang dikandung Esme menjadi santapan pria hidung belang. Maka dari itu, aku memutuskan untuk tidak pergi ke kantor selama beberapa hari sampai aku menemukan Esme."
"Kenapa kau sangat khawatir sekali? Mungkin saja saat ini dia berada di tempat Grace. Bukankah kau bilang kalau cuma dia teman terdekatnya?"
Axel hampir lupa. Pemikirannya sudah terprovokasi oleh ucapan Axton sebelumnya. Wajar kalau dia sempat berpikiran negatif.
Kalau benar Esme ada di sana, maka solusinya adalah membelanjakan beberapa makanan dan kebutuhan lainnya. Setidaknya Axel harus memastikan bahwa kehidupan Esme terjamin.
"Kenapa kau diam lagi?" tanya papanya.
"Aku akan pergi ke supermarket dulu, Pa. Maaf, aku harus berangkat sekarang."
Axel pergi ke supermarket seorang diri. Ini pertama kalinya pergi tanpa ditemani oleh Esme. Ada rasa penyesalan, tetapi untuk mendekati Esme tidak mudah. Butuh waktu yang tepat.
Beberapa kantong belanjaan sengaja diletakkan di depan unit apartemen Grace. Kantong-kantong itu bertuliskan nama Grace sehingga tidak seorang pun berani mengambilnya.
Grace baru datang. Dia dikejutkan dengan tumpukan belanjaan di luar. Berhubung Esme ada di dalam, Grace terpaksa memencet bel.
"Grace, kau sudah datang?"
"Esme, apa kau belanja sebanyak ini? Kenapa diletakkan di luar?"
"Aku tidak ke mana pun. Aku juga tidak belanja sebanyak ini. Lihatlah, ini untukmu, Grace! Ada namamu di kantung belanjaan ini."
Tanpa banyak bicara, Grace mengambil belanjaan itu untuk dibawa masuk. Setelah itu, mereka membongkarnya di dapur.
Beberapa terlihat makanan yang sama sekali tidak disukai Grace, tetapi sangat disukai oleh Esme.
"Esme, kau yakin tidak mengenali pengirimnya? Dia hapal betul makanan kesukaanmu. Lihat, hampir 90 persen dia mengirim makanan ini untukmu. Kurasa aku tahu siapa orangnya."
"Jangan sebut namanya. Aku saja masih kesal. Bisa-bisanya dia memperlakukan aku seperti itu. Aku akan membuatnya semakin pusing," ujar Esme yakin.
"Jangan seperti itu. Kalian saling mencintai. Kabur juga bukan solusi."
"Terus kau pikir aku akan bertahan di kamar Bastian sementara dia tidak percaya padaku. Aku tidak mau, Grace. Sungguh aku kesal dibuatnya. Siapa yang punya rencana? Dia juga yang mengorbankan aku seperti ini. Aku keluar dari mansion itu sendirian. Kalau dia peduli, tentunya akan mengikutiku ke mana pun."
"Sudah cukup, Esme! Kau harus memikirkan masa depan. Bagaimana dengan anakmu nantinya kalau kalian sama-sama keras kepala? Bukannya aku mengguruimu, tetapi coba berikan kesempatan ini padanya sekali lagi. Dia pasti ingin mendekatimu, tetapi kau yang menjauhinya."
Tidak mudah bagi Esme untuk bisa menerima semua itu. Terlebih saat ini dia lebih sensitif sehingga akan semakin sulit didekati. Mood-nya juga kerapkali berubah-ubah.
"Sudahlah, Grace. Biarkan saja. Aku hanya menunggu akta cerai itu sampai di tanganku. Setelah itu terserah aku mau melanjutkan kehidupan bersama Axel atau tidak," ungkap Esme.