Love Bombing

Love Bombing
Bab 39. Masa Lalu



Bastian menyusul sang istri ke kamarnya. Dia melihat kalau Esme sedang menangis di sana. Entah, apa yang dilakukan istrinya saat ini? Sepertinya dia tidak senang dengan kebebasannya.


"Sayang, kau kenapa?"


"Kalau tahu akhirnya seperti ini, biarkan aku masuk penjara saja. Tidak ada gunanya hidup di dalam keluarga yang tidak menghargai aku. Lebih baik kau lepaskan aku sekarang juga. Ceraikan aku, Bastian!"


"Aku tidak akan menceraikanmu sampai kapan pun, Esme. Aku mencintaimu. Tidak seorang pun akan aku izinkan bisa memilikimu. Kaulah satu-satunya wanita yang bisa membuatku bertahan hidup sejauh ini."


"Bohong! Kau tidak pernah mencintaiku, Bastian. Kau hanya kasihan padaku, bukan?"


Bastian memaksa merengkuh Esme ke dalam pelukannya. Dia terus saja memberontak sampai Bastian akhirnya terdorong dan jatuh ke ranjang. Saat Esme berniat kabur, Bastian segera menarik tangan istrinya sehingga terjatuh di atas tubuhnya.


"Kau mau lari ke mana, Esme? Apa yang ingin kau buktikan jika akhirnya masuk penjara? Apakah kau bahagia sudah membuatku menderita?"


"Jangan terlalu percaya diri, Bastian. Kalau kau memang sangat mencintaiku, harusnya kau bisa melepaskan aku. Biarkan aku bebas!"


Tidak semudah itu, Esme. Bastian ternyata jatuh cinta pada pandangan pertama. Sejak dia tahu kalau Esme memiliki hubungan khusus dengan putranya, dia hanya sengaja membuat surat wasiat itu hanya untuk meyakinkan dirinya bahwa apakah hubungan mereka itu benar adanya atau hanyalah kepura-puraan semata.


"Justru karena aku sangat mencintaimu. Makanya tidak akan kubiarkan kau dengan pria lain. Meskipun itu anakku sendiri. Lebih baik aku menang karena mendapatkanmu. Kau harus tahu, Esme, sebelum mencintai orang lain, cintailah dirimu sendiri. Sama seperti yang kulakukan saat ini. Karena aku mencintai diriku sendiri, maka solusinya adalah kau. Kau adalah sumber kebahagiaanku."


Rasanya mual mendengar penuturan Bastian. Diam-diam dia telah merencanakan sesuatu hal yang besar sehingga membuat hubungan Esme dan Axel tidak akan bisa diperjuangkan lagi.


Sebisa mungkin Esme lepas dari Bastian. Dia harus menemui Axel untuk membicarakan masalah ini. Papanya sama sekali bertekad untuk mempertahankan pernikahan ini.


Saat Axel baru saja datang, tanpa memedulikan keadaan sekitar, Esme segera mendatanginya lalu memeluk Axel. Dia tentu saja terkejut karena melihat Esme menangis seperti telah dilukai seseorang.


"Ada apa, Ma? Kenapa kau menangis seperti ini?" tanya Axel.


"Aku ingin bercerai dari papamu, Axel. Aku sudah tidak tahan hidup dalam kepura-puraan seperti ini. Ternyata ini semua karena papamu!"


Melihat drama seperti ini, rupanya Demian dan Axton juga menyaksikan pasangan itu. Axton sudah bisa menduga kalau Esme masih menjalin hubungan dengan Axel.


"Kakek, apa kubilang. Lihat saja pasangan itu! Mereka masih terlihat mesra sekali. Aku sama sekali tidak percaya kalau mereka sudah mengakhiri hubungan," kata Axton seolah bisa membaca drama pasangan itu.


Bastian juga sempat menyaksikan interaksi yang terjadi antara Axel dan Esme yang masih terlihat seperti sebelumnya. Lalu, siapa sebenarnya Grace bagi mereka?


"Axel, apa yang kau lakukan pada mamamu sendiri? Bukannya kau mau bertunangan dengan Grace?" tanya Bastian.


Saat mendengar Bastian ada di sana, Esme segera melepaskan pelukannya. Dia pun berada di belakang Axel karena tidak ingin suaminya semakin menyakitinya.


"Aku sudah memutuskan untuk tidak menikah dengan Grace, Pa. Sebagai orang tua, kau harusnya lebih peka! Aku sangat mencintai Esme, terapi kau seolah mau menang sendiri. Aku tidak terima!" balas Axel tegas.


Demian memberikan tepukan tangan diikuti oleh Axton. Selain itu, pria tua itu semakin mendekat ke arah Axel.


Entah itu berupa ucapan dukungan atau hanya sekadar basa-basi saja bahwa tidak layak menjalani hubungan seperti ini.


"Bastian, lebih baik ceraikan Esme sekarang!"


Ucapan Demian barusan membuat semua orang yang ada di sana terkejut. Begitu juga dengan Esme yang tidak mengerti apa maksudnya.


"Kakek!" seru Axton. "Kenapa Kakek lakukan itu? Kalau Papa menceraikan Esme, itu artinya Axel bisa bersamanya. Aku tidak terima itu, Kakek!"


"Aku juga tidak bisa menceraikan Esme, Pa. Aku lelah mengulang kembali luka yang sama," ujar Bastian.


Luka yang sama? Mereka yang tidak paham pembicaraan Bastian dan Demian tampak terlihat bingung.


"Apa maksudmu, Pa? Apa kalian menyimpan rahasia besar yang kami tidak tahu?" tanya Axel yang sudah semakin penasaran.


Demian akhirnya membawa mereka ke ruang keluarga dan berbicara di sana dengan baik. Axton sebenarnya sudah memberontak sejak awal, tetapi Demian mampu mengendalikan anak nakal itu.


Betapa mengejutkan. Ternyata kisah hidup Bastian dan Demian tidak jauh seperti kisah Yanga terjadi antara Bastian dan Axel saat ini. Itulah mengapa Demian menginginkan Axel menikah dengan wanita lain. Namun, semakin Demian mencoba melepaskan, Axel malah semakin erat.


"Jadi, mamaku dan Axton adalah mantan istri Kakek?" Axel menjadi orang pertama yang bertanya.


Sementara Axton sendiri mencoba memahami bahwa Esme tidak jauh beda dengan mamanya. Betapa menyedihkannya kisah ini berulang untuk yang kedua kalinya.


"Kenapa Papa menyembunyikan rahasia sebesar ini? Kenapa Papa bersikap tidak jauh beda dengan Axel?" Axton tidak terima jika orang yang dicintainya ternyata saling memperebutkan wanita yang sama.


"Lalu, ke mana perginya Mama sekarang? Apakah Mama memang pergi karena bercerai dengan Papa atau ada alasan lain?" Selidik Axel.


Sebenarnya istri Bastian pergi karena tidak sanggup melihat Bastian dan Demian yang selalu berselisih paham karena wanita itu. Jadi, rumor mengenai istri Bastian selingkuh atau apa pun tidak pernah terbukti. Justru saat itu Bastian lah yang merayu istri papanya.


"Jadi, pernikahan Papa dengan istri Papa tidak memiliki anak?" Kini Esme tidak tahan ingin menguak kisah masa lalu Demian.


"Istriku berselingkuh di belakangku dan memiliki anak, yaitu kau, Axel. Maka dari itu, aku sengaja menceraikannya kemudian dia menikah dengan Bastian. Setelah aku pikir-pikir, tidak ada salahnya mengulang sejarah yang sama, tetapi dengan akhir yang berbeda. Bagaimana menurutmu, Bastian?" tanya Demian.


Ternyata inilah bentuk karma kontan. Kisah hidup yang sangat rumit, tetapi penuh intrik dan tipuan. Selain itu, kenapa harus para wanita yang menjadi tempat rebutan di antara para pria itu? Padahal di luaran sana masih banyak wanita lain yang mungkin bisa membuat mereka bahagia.


"Aku akan menceraikan Esme, Pa. Setidaknya inilah caramu membalasku, bukan? Aku tidak menyangka kalau kisah ini sangat menyedihkan," ungkap Bastian.


Esme dan Axel rasanya tidak sabar ingin segera menikah. Ternyata kehidupan keluarganya jauh lebih rumit ketimbang hubungan asmaranya sendiri dengan mama tirinya. Tenyata itulah alasan Demian membenci hubungan itu karena mengingatkan pada kisah masa lalu.