Love Bombing

Love Bombing
Bab 46. Menutup Akses Axton



Demian memarahi Axton dengan suatu alasan. Apalagi ini menyangkut hubungan Axel yang sebentar lagi akan menjadi suami Esme.


"Axton, hentikan pertikaian kalian! Kakek muak sekali. Apalagi ini menyangkut kakakmu. Biarkan mereka bahagia," jelas Demian.


"Aku heran sama Kakek. Sebenarnya apa istimewanya Esme di mata kalian? Papa juga begitu," balas Axton tanpa memedulikan bahwa ada Esme di dalam mobil tersebut.


"Harusnya kau bisa melihat betapa istimewanya aku, Axton. Kau sengaja menjual wanita polos pada mucikari. Kau yang sudah mengubah seluruh hidupku yang baik menjadi jahat. Kalau kau tidak bisa menerima aku sebagai mama tirimu, maka kau akan menerima aku sebagai kakak iparmu. Aku akan selalu menjadi bayang-bayang kehidupanmu, Axton," balas Esme.


"Hentikan semua ini!" bentak Bastian. Dia sebenarnya sudah cukup lelah dengan keributan generasi muda dari keluarganya.


Mereka pun diam. Sementara perjuangan Grace untuk mendapatkan gaun baru tidak mudah. Dia sempat menghubungi Axel bahwa ada masalah pada gaun Esme. Axel pun segera memberitahukan bahwa Grace bisa mengambil gaun mana pun dengan uang yang akan ditransfer dari rekeningnya.


"Kurasa ini adalah ulah Axton lagi. Aku tidak habis pikir padanya. Padahal sudah jelas kalau pernikahan ini mendapat restu dari berbagai pihak. Malah dia berusaha membuat segalanya runyam. Awas saja kau, Axton!"


Menunggu memang menyebalkan, tetapi setelah menyadari kendalanya, Axel mencoba bersabar. Dia juga sedang memikirkan bulan madu yang akan dihadiahkan untuk sang istri nantinya.


"Walaupun kau sedang hamil, tetapi aku ingin memberikan bulan madu terindah yang tidak akan pernah kau lupakan, Esme," gumamnya.


Waktu menunggu yang seharusnya satu jam malah molor sampai hampir dua jam. Setelah Esme sampai di gedung catatan sipil, dia tidak langsung bisa masuk karena menunggu gaun yang dibawakan Grace.


Gaunnya memang jauh berbeda, tetapi mau bagaimana lagi. Esme harus segera memakainya. Tidak ada waktu menunggu lagi.


"Kau siap, Sayang?" tanya Grace.


"Hemm, aku siap. Terima kasih sudah memberikan gaun paling indah. Aku tidak bisa bayangkan tanpamu di sisiku, Grace."


"Berterimakasihlah pada calon suamimu. Dia yang membimbingku untuk mendapatkan gaun ini. Dia juga sudah membayarnya. Kau juga tahu kan kalau aku tidak punya apa-apa," canda Grace.


"Apa pun itu, terima kasih, Grace. Aku tidak tahu harus berbuat apalagi selain berterima kasih kepadamu."


Pernikahan pun segera dilangsungkan saat Esme kembali dengan gaun terbarunya. Axel sendiri mencoba menahan diri untuk tidak memaki adiknya. Biarkan sampai semua acara selesai.


Sekitar satu jam lebih, barulah pasangan ini disahkan sebagai suami istri. Axel memberikan kecupan mesra di bibir Esme. Setelah itu, dia memasang cincin pernikahan di jari istrinya.


"Terima kasih, Sayang. Jangan pernah kecewakan aku," ucapnya pelan.


Esme mengangguk. Rasa cintanya pada Axel tidak diragukan lagi. Terlebih ini masalah hati. Walaupun nantinya dia tinggal di mansion pun, Axel hanya peduli pada istrinya dan akan menjaganya dari sang adik.


"Selamat, ya!" ujar Demian.


"Selamat menempuh hidup baru," sambung Bastian.


Axton saja yang tidak peduli pada pernikahan ini. Dia masih menganggap Esme musuhnya. Namun, saat berniat meninggalkan gedung catatan sipil, tanpa sengaja dia menabrak Grace yang baru saja dari luar.


"Aduh!" pekik Grace.


Refleks Axton memegangi tangan Grace supaya tidak jatuh. Tatapan keduanya beradu untuk beberapa saat sampai pada suara Demian membuat mereka tersadar.


"Kurasa sebentar lagi aku akan menikahkan kalian," ujar Demian.


Axton malah mendorong Grace sampai terjatuh ke lantai. Jelas saja Grace kesal diperlakukan seperti itu. Paling tidak ditolong terlebih dahulu, baru dilepaskan.


"Aku tidak peduli!"


Axton lebih dulu meninggalkan kantor catatan sipil untuk pergi ke sebuah tempat untuk menenangkan pikiran. Sementara Axel dan semua orang yang tersisa akan pergi ke hotel untuk melakukan resepsi pernikahan.


Banyak tamu undangan yang datang. Termasuk wanita yang pernah dijodohkan dengan Axel tempo hari. Wanita itu rupanya sudah menikah dengan pria lain. Jadi, tidak sulit bagi Axel untuk bersikap padanya.


"Selamat, Axel! Ternyata kita tidak berjodoh," ujar Naomi.


"Terima kasih. Oh, ya, kau datang bersama siapa?"


"Suamiku. Oh, ya, sekali lagi, selamat untukmu dan bekas mama tirimu. Kalian memang pasangan serasi," ujar Naomi sekali lagi.


Esme agak tidak nyaman dengan ucapan itu barusan, tetapi Axel segera menahannya untuk tetap sabar.


"Tidak perlu direspon seperti itu, Sayang. Biarkan saja," bisik Axel.


Suasana pesta pernikahan ini tampak meriah karena kedatangan Madam Stella. Walaupun pernah memiliki masa lalu yang buruk, tetapi wanita ini tetap berjasa pada kehidupan Esme.


"Selamat atas pernikahanmu, ya. Aku tidak menyangka kalau semua pria akan tertarik padamu, Esme," ujar Madam Stella.


"Terima kasih, Madam. Aku pun tidak tahu kalau akan menjadi seperti ini. Axel telah membuka mataku bahwa kami memiliki cinta yang sangat menggebu sekali."


"Pokoknya aku turut bahagia atas pernikahanmu, Esme. Ternyata kau menemukan pria yang baik juga. Oh, ya, tolong jaga Esme dengan baik. Sebenarnya dia baik. Hanya saja karena kesalahan seseorang, dia menjadi seperti itu," ujar Stella pada Axel.


"Madam, lupakan saja masa lalu kita. Oh, ya, apa Madam sudah bertemu dengan Papa mertuaku?"


"Kau ini memang meresahkan sekali, Esme. Tidak salah kalau Madam menjadikanmu yang pertama dan utama kala itu. Selamat, ya! Madam harus segera pergi. Kau juga beruntung bertemu dengan Grace. Dia juga sama sepertimu."


"Terima kasih, Madam."


Kedatangan Madam Stella rupanya hanya ingin memberikan hadiah pernikahan. Dia tahu dari Axton karena pria itu sering kali datang ke tempatnya untuk menjual para wanita seperti sebelumnya.


Sebelum meninggalkan tempat pesta, ternyata Madam Stella bertemu dengan Demian. Pria tua itu masih tampak gagah dengan penampilannya saat ini.


"Stella! Apa kabar?" sapa Demian.


"Tuan Demian, aku baik. Anda terlihat semakin tampan sekali."


"Kau sengaja memujiku atau memang untuk merendahkan aku? Aku sudah tua, tetapi ada yang ingin kubicarakan denganmu. Bisa kita duduk sebentar di sana?" Demian menunjuk deretan kursi yang banyak ditempati tamu, tetapi beberapa ada yang masih kosong.


"Tentu, Tuan Demian."


Setelah mendapatkan tempat, Demian mulai berbincang. Rupanya dia sengaja bertemu dengan Stella untuk membahas Axton.


"Aku minta tolong padamu untuk menutup akses Axton ke tempatmu. Kalau bisa tolak saja apa pun yang dia tawarkan. Aku hanya ingin memperbaiki keadaan cucuku saja, Stella. Aku sudah tua dan tidak ingin membuat segalanya semakin rumit. Apakah kau bisa melakukan itu untukku?"


Tidak mungkin bisa menolak permintaan Demian. Apalagi pada masa muda, dialah Casanova yang sebenarnya. Bahkan pesona Bastian masih kalah jauh dengan Demian. Hanya saja mengenai perasaan, Bastian jauh lebih pintar mengambil hati wanita.