Love Bombing

Love Bombing
Bab 22. Ancaman Kecil



Tanpa sepengetahuan Esme, Bastian bersiap untuk menemui papanya. Dia ingin menanyakan perihal perubahan surat wasiat Demian. Mengapa Bastian mendadak dicoret dari daftar ahli warisnya? Padahal dia sendiri masih hidup dan segar bugar seperti ini.


Demian yang sebenarnya sudah tinggal lama bersama Axton mendadak terkejut melihat kedatangan putranya, Bastian. Pria yang dianggap sudah di ambang akhir kehidupannya mendadak muncul tanpa pemberitahuan.


"Kenapa Papa mendadak terkejut begitu?" tanya Bastian yang baru saja didorong di atas kursi roda oleh sopir pribadinya.


"Tidak ada. Papa hanya heran saja. Kenapa kau malah ke sini sendirian? Di mana istrimu? Apa kau sudah bosan bersamanya lalu ingin berdamai denganku?" cerocos Demian menghujani banyak pertanyaan.


"Papa bicara apa? Aku ke sini ingin menanyakan hakku."


"Oh, masuklah dulu! Anakmu terus saja tinggal di sini. Sebenarnya di mansionmu yang besar itu kenapa? Apakah sudah bukan menjadi tempat ternyaman lagi?"


"Axton saja yang keterlaluan. Salah siapa menabuh genderang perang dengan istriku."


Demian bukannya kesal, dia malah tertawa. Hanya satu wanita rendahan saja mampu mengobrak-abrik seluruh pria penghuni mansion yang dulunya rukun.


Saat Bastian baru saja masuk, Axton turut menyambut kehadiran papanya. Selama dia tinggal di tempat kakeknya, tidak pernah sekali pun Bastian menanyakan kabar atau keberadaannya. Apalagi sang kakak yang terus saja sibuk mengurus skandalnya yang entah sampai kapan itu akan berakhir.


"Oh, tumben Papa datang ke sini. Apakah mau menjemputku atau ada kepentingan lain?" Axton langsung duduk di kursi tanpa menunggu jawaban papanya.


"Papa ingin bertemu dengan kakekmu. Dia sudah membuat papa kehilangan segalanya. Jadi, mengapa Papa lakukan itu padaku?" tanya Bastian langsung ke Demian.


"Harusnya kau juga sudah tahu alasannya. Lepaskan istrimu dan kembali seperti biasa. Fokus pada anak-anakmu dan perusahaanmu. Maka aku akan mengembalikan semuanya. Bagaimana?" ujar Demian memberikan penawaran.


Sejujurnya tanpa sepengetahuan Demian dan juga kedua anaknya, Bastian sudah jatuh cinta pada Esme. Hal itu yang menyebabkan dia tetap mempertahankan rumah tangganya yang terkesan tidak masuk akal itu.


"Kebahagiaanku bukan urusan Papa, tetapi aku menuntut hakku yang seharusnya juga menjadi milikku. Silakan Papa berikan sebagian hakku pada anak-anak, asalkan aku juga mendapatkannya. Dari 100 persen, aku cuma minta 40 persen bagianku."


Lagi-lagi Demian tertawa. "Hidup itu pilihan, Bastian. Kalau kau memilih Esme, ya lepaskan apa yang seharusnya menjadi hakmu itu. Lagi pula aku sudah membagikannya pada anak-anakmu. Kurang apalagi? Kalau Esme meminta harta bagianmu dan kamu tidak bisa memberikannya, suruh dia bekerja!"


"Nah, itu benar, Kek. Jangan biarkan wanita itu menang atas apa yang menjadi hak Papa selama ini. Lagi pula Papa sendiri yang membawanya masuk ke mansion dan papa juga yang harus mendepaknya dari sana," ujar Axton mendukung keputusan kakeknya.


"Harusnya kau berkaca dulu, Anak muda! Siapa yang membuat segalanya rumit? Kau juga, kan? Seandainya kau tidak menjualnya, papa juga tidak akan mungkin bisa menolongnya."


"Papa aneh! Aku tidak hanya menjualnya, tetapi masih banyak lagi wanita-wanita yang kujual dengan alasan kehidupan semakin membuat mereka terpuruk. Apakah Papa juga menolong mereka?" tanya Axton sengaja memojokkan papanya.


"Kau pikir papa adalah panti sosial yang harus bertanggung jawab atas semua kelakuanmu, hah? Ingat Axton, karma akan berlaku juga untukmu. Apa yang kau lakukan padanya, suatu saat berbalik padamu," ujar Bastian.


Bukannya mendapat hak, Bastian malah harus bertengkar dengan anaknya. Sementara di kantor, Axel dan Esme sedang menikmati kebersamaannya yang paling indah tanpa gangguan siapa pun.


"Axel, aku penasaran dengan apa yang akan kau lakukan padaku?"


Saat ini Esme berada di sofa. Sesekali dia memandang kekasihnya yang sedang fokus bekerja. Terlihat sekali sangat bersemangat dan berharap pekerjaan ini segera usai lalu pulang ke mansion.


"Aku masih memantapkan pikiranku, Esme. Nanti kalau aku sudah menemukan jawabannya, maka aku akan memberitahukan kepadamu."


Axel terpaksa menghentikan pekerjaannya. Dia menyusul Esme yang duduk di sofa. Karena dia sedang bahagia, Axel jadi tidak tega memendam rencananya sendiri.


"Apakah kau masih menggunakan alat kontrasepsi?"


"Iya, masih. Aku hanya berjaga-jaga supaya tidak hamil dengan papamu. Kenapa?"


"Lepaskan saja. Aku yang akan menghamilimu," ujar Axel yakin.


Tentu saja ini membuat Esme dilema. Apa mungkin bisa dengan mudah berhubungan dengan Axel lalu hamil? Bagaimana kalau Bastian memaksanya untuk berhubungan? Itu tidak bisa dilakukan. Posisi Esme serba salah.


"Sulit, Axel. Papamu tidak akan menerima penolakanku. Selama ini aku selalu bertugas menjadi istri yang baik. Bagaimana bisa? Bagaimana kalau papamu memaksa sehingga aku khilaf?"


Semula Axel bersemangat dengan rencana itu, tetapi saat Esme mematahkan semangatnya, dia pun langsung kembali ke mejanya untuk melanjutkan pekerjaan.


"Axel? Sayang, apa kau marah padaku?"


"Hemm, lebih baik kau pulang dan tidurlah dengan suamimu. Untuk apa kau di sini kalau malah mendukung suamimu sendiri, ketimbang selingkuhanmu?"


"Sepertinya kau lapar, Axel. Makanya kau salah paham terus sama aku. Aku belum konsultasi dengan dokter yang memasang kontrasepsinya. Tunggu aku lepaskan, baru kita pikirkan ulang. Jangan merajuk lagi. Aku bisa pusing mendengarnya."


Ternyata berurusan dengan anak tirinya jauh lebih rumit ketimbang suaminya. Dia harus merayu Axel sampai pria itu benar-benar menyerah dan mengalah untuk mengikuti kemauan mamanya.


Seperti siang ini, Esme harus merayunya supaya mau makan siang bersama. Padahal Axel sudah mengancam Esme bila tidak mau mengikuti kemauannya, dia akan menjauhi Esme secara perlahan dan akan memilih wanita lain lalu menikahinya.


"Kau terlihat puas sekali setelah membuatku terjebak dengan rencanamu," ujar Esme saat berada di restoran.


"Cinta butuh perjuangan, Sayang. Kalau aku sudah berjuang, tetapi kau tidak, untuk apa dipertahankan lagi?"


Selalu kata-kata itu yang digunakan Axel untuk membuat Esme harus menentukan pilihan. Saat senggang, dia harus segera pergi ke dokter. Dia tidak tahu prosedur apa yang akan dilakukan dokter saat bertemu nanti. Dia juga lupa tidak bertanya apakah alat kontrasepsinya ini bisa dilepaskan sewaktu-waktu atau bagaimana.


"Jika aku hamil, bagaimana?"


"Ceraikan papaku dan menikahlah denganku. Gampang, bukan?"


Mulut memang mudah berucap, bagaimana kalau kenyataannya Bastian tidak mau melepaskannya? Bagaimana jika dia malah mau menganggap cucunya menjadi anaknya sendiri?


"Apa kau bisa pastikan rencanamu itu mudah? Apakah papamu akan melepaskan aku?"


"Tentu saja. Dia pasti mau melepaskanmu untukku. Apa kau tidak mau hidup bersamaku?"


Esme mana mungkin bisa menolak pesona anak tirinya yang semakin hari membuatnya menggila. Bukan hanya karena sikapnya yang berubah drastis, tetapi seringkali Axel menggunakan ancaman-ancaman kecil untuk membuat Esme berada dalam dilemanya.