Love Bombing

Love Bombing
Bab 17. Axton Vs Axel



Cinta tidak pernah salah. Yang salah hanya saat cinta datang dan berada di saat yang tidak tepat. Apalagi bagi sepasang kekasih yang sudah membuat perjanjian cinta yang akan mereka lalui hingga akhir.


Axel menunjukkan betapa bahagianya saat bersama Esme. Dia mendekati wanita itu kemudian merangkulnya. Hal itu tidak luput dari pandangan keluarga Naomi.


"Kau jahat, Axel!" teriak Naomi yang merasa dipermainkan.


"Bukan aku yang menginginkan pertunangan ini, tetapi Kakekku. Kalau kau memang ingin, bertunangan saja dengan Kakekku."


Hal itu membuat banyak orang di sana yang meradang. Terlebih keluarga Naomi yang seperti sedang dipermainkan.


"Axel, jaga ucapanmu!" bentak Demian. Dia sudah cukup malu karena kelakuan cucunya.


"Apa Kakek pernah mendengar apa keinginanku? Tidak, kan? Kakek memutuskannya secara sepihak. Kakek hanya mendengar jawaban dari Naomi, tetapi tidak dariku."


Naomi dan beberapa orang anggota keluarganya lekas meninggalkan acara yang sudah berakhir dengan ricuh itu.


Sebenarnya mereka mau melakukan apa pun, itu bebas. Namun, menurut keluarga besar Naomi, apabila Axel sudah menjalin hubungan dengan Esme, mengapa mereka melakukan pertunangan?


Terlebih skandal hubungan mama tiri dan anak tirinya itu dibongkar langsung oleh Axel. Dia pun menunjukkan betapa cintanya pada sang mama. Bukan hanya sebagai seorang anak, tetapi juga seperti sepasang kekasih. Keduanya terlihat tidak canggung berpegangan tangan di hadapan orang banyak.


Bahkan untuk membuktikan itu, Axel memberikan kecupan bibir pada Esme sehingga membuat semua orang yang tersisa di sana seakan-akan menjadi saksi betapa cintanya Axel pada Esme.


"Oh, astaga, Axel!" pekik Axton kesal.


Ya, Esme sangat menikmatinya. Apalagi ini merupakan perwujudan cinta yang ditunjukkan anak tirinya.


"Sayang, apa kau yakin melakukan ini?" bisik Esme pada Axel. Wajar kalau Esme sedikit terkejut. Dia tidak mengira akan seperti ini akhirnya.


"Kau jangan khawatir. Janjiku padamu tidak akan pernah aku ingkari. Kita akan bersama selamanya," ujar Axel sehingga membuat beberapa orang geram.


Orang-orang yang paling dirugikan dan dipermalukan adalah pihak keluarga perempuan. Apalagi mereka sudah yakin akan menikahkan putrinya dengan Axel.


"Demian, lebih baik kau hentikan rencanamu untuk melakukan pertunangan antara Axel dengan Naomi. Kau pasti sudah tahu kan kalau mereka memiliki hubungan. Mengapa harus melibatkan Naomi? Kau sudah mempermalukan kami. Cucumu sangat menjijikkan!" tegas salah seorang keluarga Naomi.


"Aku minta maaf. Ini seharusnya tidak terjadi. Itulah sebabnya, mengapa aku membuat pertunangan ini. Tolong mengertilah posisiku," ujar Demian membela diri.


"Mengerti yang bagaimana? Aku tidak menyangka kalau hari bahagia ini menjadi hal yang paling menyedihkan bagi keluarga kami."


Naomi malu dan sedih. Dia lebih dulu pulang daripada untuk mengkonfrontasi secara langsung. Hal itulah mempermalukan keluarga Naomi. Apalagi mereka sudah sama-sama setuju. Itulah yang membuat pro kontra muncul. Banyak kontra lantaran pengakuan Axel yang tidak pada tempatnya sehingga membuat keluarga Naomi merasa dipermalukan.


"Lihat, apa yang kau lakukan, Axel? Apa ini pantas didapatkan oleh keluarga kita?" tegur Demian.


"Harusnya Kakek meminta izinku dulu. Kejadiannya tidak akan seperti ini. Kakek melakukannya sendiri tanpa meminta pertimbangan dariku. Apa salahnya kalau aku menjalin hubungan dengan Esme? Kami saling mencintai dan memiliki perasaan yang sama. Aku tidak memaksanya. Dia pun tidak memaksaku."


"Axel, kau memang sudah gila! Apa yang dilakukan Esme padamu sehingga kau berubah seperti ini? Ingat, papa masih butuh seorang istri untuk merawatnya. Kau bisa apa jika Esme kembali pada papa? Kau akan menyesal telah menolak Kakek," ujar Axton.


"Kau pikir aku peduli dengan nasihatmu, hah? Biarkan papa seperti biasa. Aku juga tidak akan merebut Esme dari papa. Biarkan berjalan sebagaimana mestinya."


Axton semakin geram. Apalagi melihat Esme diperlakukan seperti itu. Layaknya orang yang sangat penting. Padahal Esme lah yang menyebabkan terjadinya keributan antar keluarga. Bukan hanya dengan papanya saja, tetapi juga dengan kakaknya.


"Kau memang anak yang tak tahu di untung, Axel. Dasar pengkhianat! Sekali pengkhianat akan tetap jadi pengkhianat. Kau boleh merasa menang, tetapi aku tetap akan memperjuangkan apa yang seharusnya. Bisa saja aku akan meminta papa untuk menceraikan istrinya lalu mendepak wanita itu keluar dari mansion," ancam Axton.


"Itu malah lebih bagus dan memudahkan rencanaku untuk memiliki Esme. Lakukan itu, Axton. Aku akan berterima kasih padamu bahwa jalanku untuk menikah dengan Esme akan semakin terbuka lebar."


"Sial! Jadi, kau masih tetap nekat ingin menikahi ****** itu, hah?" balas Axton dengan sengit.


"Sayang, lebih baik kita pulang sekarang. Tidak ada untungnya bertengkar dengan Axton. Dia tidak akan pernah tahu apa yang kita inginkan. Dia hanya akan hidup dan tenggelam dalam urusan orang lain tanpa memikirkan kesalahannya sendiri."


"Axel! Urusan kita belum selesai!" teriak Axton.


Esme pun menurut saat Axel mengajaknya kembali. Setelah itu, tinggallah Axton dan Demian yang semakin geram dengan perbuatan mereka.


"Aku benar-benar dibuat gila oleh Axel, Kek. Apa kau memiliki rencana lain? Ini sudah sangat keterlaluan!"


Demian pun tampak diam memikirkan semuanya. Pesta pertunangan yang sedianya untuk Axel harus berakhir begitu saja. Sehingga dia meminta semua orang untuk membereskannya.


"Ayo, ikut aku, Axton."


Demian membawanya ke ruang kerja. Dia sedang melamun. Sebenarnya waktu yang tepat adalah menunggu Bastian sadar. Setelah itu, Demian tidak akan menyerah dengan cara yang sudah dipilihnya. Apalagi Axton yang merasa belum menang atas pertarungannya dengan sang kakak.


"Bagaimana caraku memisahkannya? Mereka sudah terlalu berani menunjukkan di depan publik. Terlebih di hadapan keluarga Naomi. Sungguh aku merasa malu. Bagaimana kalau papa tahu kejadian ini," ujar Axton.


"Kita tunggu Bastian sadar, Axton. Cuma itu satu-satunya cara."


"Oh ya, apakah Axel sudah tahu kalau dia mendapatkan bagian 50 persen dari warisan Kakek nantinya?"


Demian yakin kalau Axel bukan orang yang bodoh. Dia itu dipercayai oleh Bastian karena kecerdasan dan tanggung jawabnya yang luar biasa. Bahkan saat menggantikan papanya, tidak ada yang melakukan protes tentang kinerja Axel di perusahaan. Mereka terlihat nyaman saja.


"Kakakmu itu cerdas, Axton. Dia tinggal menunggu kapan aku mengumumkannya saja."


"Ah, sial! Bagaimana aku bisa melawannya jika dia terlalu kuat. Aku tidak habis pikir, apa yang istimewa dalam diri Esme sehingga kakakku mempertahankan hubungannya itu. Kalau seperti ini, aku menyesal tanpa sengaja membuat papa terbaring tak berdaya di rumah sakit."


Ya, perseteruan antara Axton dan Axel ini akan terus berlanjut sampai salah satu mau mengalah dan menyatakan kalah. Jika tidak, maka keributan ini akan terus tanpa tahu kapan akan berakhir.