Love Bombing

Love Bombing
Bab 43. Pertama Kalinya



Alunan musik di sebuah kamar terdengar cukup keras sekali. Axton semula berbahagia dengan keputusan papanya untuk bercerai dengan istrinya. Namun, kali ini tidak lagi. Kakaknya berniat menikah dengan Esme dan membawa wanita itu kembali ke mansion.


"Ini tidak bisa dibiarkan. Kalau Esme menikah lagi, mereka harus keluar dari mansion ini. Aku butuh ketenangan."


Walaupun selama ini Axton terlihat mengalah, nyatanya akibat kecelakaan itu dia belum bisa memaafkan Esme. Dia masih meyakini bahwa Esme lah penyebab semua itu.


Dia keluar kamar berniat untuk bertemu dengan Axel. Sebagai saudara kandung, seharusnya Axel lebih mendukung adiknya ketimbang wanita lain. Dia mengetuk pintu kamar yang masih tertutup itu.


"Ada apa?" tanya Axel setelah membuka pintu dan melihat adiknya di sana.


"Aku ingin bicara denganmu."


"Soal apa? Apa kau mau masuk ke perusahaan? Kalau kau bisa masuk, Papa pasti lebih senang."


Selama ini Axton hanya membuat ulah di luaran sana yang merugikan banyak orang. Seringkali Bastian mengingatkannya untuk kembali pada jalur lurus, yaitu tidak boleh melakukan hal gila dengan menjual para wanita pada Madam Stella.


"Tidak perlu. Aku tidak mau bekerja bersamamu. Biarkan aku seperti ini."


"Sampai kapan, Axton? Kau harus melihat Papa dan Kakek. Keduanya sangat sayang padamu. Kalau kau melakukan hal bodoh itu lagi, mungkin sebentar lagi kau yang akan masuk ke penjara."


"Jangan menakuti aku, Axel. Ini bukan soal aku, pekerjaanku, ataupun kehidupanku. Ini soal Esme dan dirimu. Lebih baik putuskan untuk tidak melanjutkan pernikahan dengannya. Mengapa demikian? Karena Esme adalah wanita yang tidak tepat untuk tinggal bersamamu dan di mansion ini. Kau harus lihat kondisi Papa yang ...."


"Tidak perlu membahas orang lain, Axton. Aku yakin kalau sebenarnya kaulah yang tidak menginginkan aku menikah dengan Esme. Aku cukup sadar bahwa hubunganmu dengan Esme masih tidak baik. Tidak seharusnya kamu menghalangi kebahagiaanku. Kalau kau tidak mau aku tinggal di sini, aku akan pindah ke apartemen. Kau jangan khawatir!" Axel mendorong tubuh Axton keluar dari kamarnya. Lalu, pria itu menutup pintunya dan mengunci dari dalam.


Axton tidak mau menyerah. Dia menggedor pintu itu sehingga sang kakek tahu kalau Axton sedang kesal pada saudaranya.


"Ada apa lagi?"


"Kek, kenapa kau mengizinkan Axel menikah dengan Esme? Aku sangat membencinya!"


"Apa bedanya dengan kau membenci mamamu? Dia juga mantan istri kakek yang dinikahi papamu. Jadi, apa salahnya?"


Sial! Kali ini tidak seorang pun yang berpihak padanya. Kalau boleh memilih, Axton sebenarnya tidak mau terlahir dari ****** seperti mamanya. Kalau dia baik, tidak mungkin mau menjalani hubungan dengan papanya yang notabene adalah anak tirinya. Seperti kisah berulang di kehidupannya saat ini. Mungkinkah ini merupakan balasan kakeknya untuk papanya?


"Aku tak percaya ini, tetapi aku akan mencobanya untuk membuat mereka gagal!"


Sementara Axel sedang menghubungi Esme. Mereka sengaja bertemu untuk melakukan fitting gaun pengantin. Tidak ada lagi pesta pertunangan karena akan memakan banyak waktu.


"Jadi, kau akan menjemputku di mana, Sayang?" tanya Esme.


"Apartemenmu saja. Bagaimana?"


Jika biasanya fitting gaun dilakukan pada siang hari, tetapi tidak dengan Esme. Dia sengaja meminta jadwal pada malam hari lantaran harus menunggu Grace bebas dari jam kerja salon.


"Tidak, Axel. Aku akan menunggu di apartemen Grace saja. Biar kau tidak terlalu jauh menjemput kami."


"Tidak, Sayang! Kau harus ingat anak kita. Dia pasti kelelahan kalau kau datang ke tempat Grace. Tetap di situ karena aku akan pergi sekarang. Tunggu, ya! I miss you, Darling!"


"Miss you too, Babe!"


Akhirnya, disepakati bahwa mereka akan bertemu dari apartemen satu ke apartemen lainnya. Lagi pula, butik langganan yang direkomendasikan Grace tidak jauh dari salonnya bekerja.


"Mengurus rencana pernikahan, Pa. Kenapa? Apa Papa masih belum ikhlas melepas Esme untukku?"


"Tidak, Axel. Bukan itu. Papa hanya ingin mengobrol denganmu. Kupikir kita sudah lama tidak mengobrol sebagai anak dan papa. Kita juga akan berbicara dengan Axton. Anggap saja sebagai permintaan maaf papa karena membuat hubungan keluarga ini renggang."


"Maaf, Pa. Tidak untuk malam ini. Aku harus pergi sekarang."


"Pergilah! Berikan waktu padaku dan Axton saat kau sempat."


Axel hanya menganggukkan kepala. Dia segera meninggalkan mansion itu dengan menggunakan mobilnya.


Tidak terlalu lama, pada akhirnya mereka berada di dalam satu mobil yang sama. Esme duduk di belakang, sedangkan Grace di belakang.


"Maaf, gara-gara aku, kalian harus datang pada malam hari seperti ini. Oh ya, sepulang dari butik, aku mau mampir makan malam lebih dulu. Aku minta maaf, ya," ujar Grace.


"Kita akan pergi bersama-sama, Grace. Ke mana pun yang kau inginkan. Aku berterima kasih karena kau selalu menjadi sahabat terbaikku," ujar Esme.


"Tentu, Sayang. Aku berutang banyak padamu." Grace bersyukur hidup bersama wanita seperti Esme. Walaupun dia kesusahan, tetapi tidak menyerah begitu saja.


Tanpa mereka sadari, Axton ternyata mengikuti ke mana pun mereka pergi. Luka yang pernah didapatkan dulu ternyata membuatnya tidak menyerah.


"Sebaiknya aku lakukan ini sendiri. Aku tidak pernah rela kalau Esme berbahagia dengan pria lain. Apalagi dengan kakakku sendiri. Kau harus menerima pembalasanku, Esme!"


Memasuki butik, Axton terus membuntuti mereka. Dia ingin mengetahui gaun mana yang akan menjadi pilihan Esme kali ini. Setelah tahu gaun itu, maka dia bisa melakukan rencana selanjutnya.


"Sayang, bagaimana dengan ini?"


Gaun yang ditunjukkan pada Axel dan Grace adalah gaun pengantin warna putih dengan model kemben tanpa tali atau lengan yang membungkus pundaknya. Selain itu, di bagian bawahnya tidak terlalu panjang, tetapi memenuhi lantai. Belahan roknya juga cukup tinggi dan berwarna putih polos tanpa manik-manik atau hiasan berlian.



"Kenapa pilih gaun itu, Sayang? Mengapa kau tidak memilih gaun yang lebih bagus dari itu?"


"Karena Esme mencintai pria polos sepertimu," sahut Grace.


"Oh, astaga. Apakah aku sepolos itu?" canda Axel.


"Tidak, Sayang. Kau sudah terkontaminasi oleh cintaku. Apa kau lupa kalau aku tipikal wanita agresif? Kaulah salah satu korban cintaku, bukan?"


Axel terkekeh. Baru kali ini dia harus merebut istri papanya karena memiliki perasaan cinta pada sang ibu tiri yang sekarang sudah bercerai.


"Ehem." Grace berdeham. "Apakah aku harus menyaksikan hal seperti ini sampai nanti? Kumohon untuk tidak pamer kemesraan di hadapanku!"


Bagaimana tidak, Axel memperlakukan Esme dengan sangat manis sekali. Selain memberikan kecupan kening, dia pun mengecup bibir Esme sejenak.


"Aku tidak sabar untuk menunggu pernikahan dan kelahiran anak kita, Sayang. Aku mencintaimu."


Ini pertama kalinya Axel bersikap romantis di hadapan orang lain. Biasanya dia selalu menjaga privasi agar orang lain tidak tahu betapa manisnya hubungan mereka.