Love Bombing

Love Bombing
Bab 10. Esme Cemburu



Bastian telah kembali. Namun, dia diminta untuk membawa seluruh anggota keluarganya ke sebuah restoran. Dia pun harus mengajak Axel untuk ikut serta.


"Pa, kenapa kita harus pergi ke restoran? Sebenarnya siapa yang meminta kita untuk datang?" tanya Axel yang saat ini duduk di depan.


"Kakekmu, Demian. Dia yang meminta papa untuk buru-buru pulang. Entah, apa yang akan dilakukan pria tua itu pada kita," ujar Bastian.


"Kakek? Itu artinya dia papa kamu, Sayang?" tanya Esme pada Bastian.


Sebenarnya Axel cukup risih dengan panggilan sayang yang diucapkan Esme untuk suaminya. Sejujurnya dia cemburu, tetapi tidak mungkin bisa nekat untuk mendekati Esme saat ada papanya.


Sesampainya di sana, rupanya Demian dan Axton sudah menunggu. Seperti acara keluarga biasa, tetapi mereka belum tahu jika orang yang ditunggu adalah Naomi, gadis yang akan dijodohkan dengan Axel.


"Papa, mengapa mendadak memintaku untuk datang ke sini? Apa sebenarnya yang ingin Papa tunjukkan?" tanya Bastian.


"Papa ingin kenal dengan istrimu. Mengapa kau menikah diam-diam di belakang papa, hah? Apa kau sudah tidak menganggap papamu ini ada?" sesal Demian.


"Maafkan aku, Pa. Itu terjadi sangat mendadak. Oh ya, perkenalkan ini istriku, Esme."


"Apa kau yakin kalau dia itu istrimu? Berasal dari mana dia? Apakah dari keluarga kaya juga? Atau–"


"Cukup, Kek! Kalau Kakek meminta kami untuk datang kemari, tolong hargai Papa dan Mama," ujar Axel. Dia risih bila mendengar ada orang lain yang dengan sengaja ingin menghina Esme.


Mereka pun akhirnya duduk bersama. Sebelum pelayan menyiapkan semua makanan, tiba-tiba datanglah seorang gadis cantik. Dia mengenakan gaun yang cukup simpel, tetapi terlihat cantik.


"Selamat siang, Kakek. Maaf, sudah membuatmu menunggu lama. Halo, semuanya," sapa Naomi.


"Tidak apa-apa. Kau juga belum begitu terlambat. Naomi, perkenalkan itu Axel. Pria yang kakek ceritakan padamu." Ujar Demian menunjuk Axel.


Axel menoleh sekilas. Pandangan matanya beradu. Kemudian Naomi mengulurkan tangannya berniat untuk menjabat tangan Axel sebagai pertemuan perdana.


"Hai, Axel. Aku Naomi. Kakek sudah cerita banyak tentangmu. Ternyata kau sangat menarik bila bertemu langsung seperti ini."


Axel membalas jabatan tangan Naomi. Namun, Naomi seakan ingin berlama-lama menggenggam tangan itu sehingga seseorang berdeham.


"Ehem."


Bunyi dehaman Esme. Jantungnya berdetak lebih cepat karena merasa suasana siang ini sangat tidak kondusif. Perasaannya semakin tidak menentu saat kehadiran Esme.


Esme kemudian menatap Axton yang sejak tadi diam tanpa kata. Dia seolah sedang menertawakan mama tirinya bahwa skenario yang sedang berlangsung di hadapannya adalah ulahnya.


"Naomi, silakan duduk. Kakek memberikan tempat spesial di samping Axel agar kalian bisa lebih dekat dan saling mengenal."


"Terima kasih, Kek."


Pelayan membawa makanan ke meja. Demian memang sengaja memintanya seperti itu. Setidaknya semua orang sudah berkumpul baru makan bersama.


"Axton, kenapa kau tidak pulang ke mansion?" tanya Bastian. Sebagai orang tua, wajar kalau dia khawatir.


"Papa tidak akan peduli padaku. Jadi, untuk apa aku pulang," ujar Axton dengan entengnya.


"Axton, kakek minta jangan ribut di sini. Malu sama Naomi," tegur Demian.


Mereka pun makan dalam diam. Namun, sesekali Naomi menawarkan pada Axel untuk mengambilkan makanannya.


"Axel, apa kau mau main course-nya? Aku ambilkan, ya?"


"Tidak perlu. Aku bisa mengambilnya sendiri," tolak Axel.


"Axel, tolong jangan bersikap seperti itu. Kita semua berada di sini bukan hanya untuk menikmati santap siang saja, tetapi juga ada hal penting yang ingin aku sampaikan," ujar Demian.


"Apa itu, Pa?" tanya Bastian.


"Aku berencana menjodohkan Axel dengan Naomi."


Esme langsung terbatuk-batuk. Bastian segera mengambilkan istrinya minum.


"Sayang, makannya pelan-pelan," ujar Bastian.


Bersamaan dengan itu, rupanya Naomi mencari kesempatan untuk mengelap sudut bibir Axel yang menyisakan sedikit bumbu makanan di sana.


"Makannya pelan-pelan, Axel. Jangan gugup seperti ini," ujar Naomi.


Axel tidak menolaknya karena merasa pada posisi serba salah. Saat dia ingin menolak sang kakek, papanya pasti akan memarahinya. Apa pun keputusan kakek, Axel tidak bisa membantah.


"Papa memang seorang Kakek yang sangat perhatian sekali. Bahkan aku tidak terpikirkan untuk menjodohkan Axel di usianya yang sudah cukup matang ini," ujar Bastian memberikan pujian.


"Kau benar, Bastian. Aku sengaja mengumpulkan kalian untuk mendengar persetujuan Naomi. Kalau Naomi sudah setuju, maka tahap selanjutnya adalah pertunangan. Kalian jangan khawatir karena aku yang akan bertanggung jawab hingga kedua cucuku naik ke pelaminan."


Esme berada dalam posisi paling sulit. Musuhnya bertambah satu, yaitu papa mertuanya. Dia ingin menyangkal dan tidak setuju dengan perjodohan ini, tetapi dia takut kalau Axton akan melaporkan kejadian beberapa waktu lalu saat bersama Axel.


"Naomi setuju, Kek. Ternyata Axel adalah sosok pria impianku. Kapan pun Kakek menyiapkan pesta pertunangan, keluargaku juga pasti siap. Oh ya, Axel, apa kesibukanmu sehari-hari? Sebagai calon tunanganmu, aku ingin tahu banyak hal tentangmu."


Berniat diam, tetapi Demian sudah memberikan kode agar Axel menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh Naomi. Bahkan power seorang Bastian Casey tidak ada bandingannya dengan Demian.


"Aku mengurus perusahaan Papa."


Tidak hanya bertanya, tetapi Naomi juga sudah berani bergelayut manja di lengan Axel. Itu pun dilakukan setelah dia menyelesaikan makan siangnya.


"Wah, kau sosok pekerja keras. Boleh kita selfi sebentar? Setidaknya aku bisa membayangkanmu dari potret yang ada di ponselku."


Tanpa menunggu persetujuan, Naomi mendekatkan wajahnya tepat di samping wajah Axel. Hanya berjarak beberapa centimeter saja sehingga keduanya pasti akan bersentuhan.


Kelakuan Naomi membuat Esme meradang dan cemburu yang tidak berkesudahan. Baginya, Axel hanya miliknya.


"Tolong jangan terlalu dekat dengan putraku," tegur Esme. "Dia tidak terlalu suka."


"Oh, ya ampun. Aku minta maaf, calon mama mertua. Aku harap kau bisa membimbingku untuk menjadi istri yang baik sepertimu," ujar Naomi.


Walaupun Naomi belum tahu seluk-beluk keluarga Axel dengan baik, tetapi kakek sudah bercerita kalau Axel memiliki mama tiri. Usianya malah lebih muda darinya.


"Ah, Mama, jangan seperti itu. Wajar kalau calon Kakak ipar harus berkenalan dulu. Iya kan, Pa?" sahut Axton yang merasa puas membuat Esme terbakar api cemburu.


"Iya, Sayang. Axton benar. Biarkan saja Axel dan Naomi berkenalan lebih jauh. Mereka nantinya juga akan membangun komitmen pernikahan. Sebagai orang tua, kita hanya bisa mendukungnya saja," sahut Bastian.


"Bastian benar. Jadi, bagaimana, Axel? Kau mau menerima Naomi, bukan?" tanya Demian.


Tentu saja Axel tidak bisa menjawab. Ini terlalu rumit baginya. Menerima tidak mungkin, menolak pun tidak bisa.


Sementara Esme semakin cemburu pada Naomi yang terus berusaha untuk memberikan perhatian pada Axel. Gadis itu mencoba menyuapi Axel dengan makanan penutup.


"Tolong jangan seperti ini, Naomi," tolak Axel. "Mengenai keputusan Kakek, aku belum bisa putuskan. Tolong beri aku waktu!"