
Kesempatan datang pada Esme. Saat ini syarat untuk melepaskan alat kontrasepsinya telah disetujui oleh dokter. Itu pun dilakukan secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan suaminya. Dia harus mengikuti saran yang diutarakan Axel beberapa waktu lalu.
"Dokter, apakah aku bisa cepat hamil?" tanya Esme sebelum meninggalkan ruang praktik dokter.
"Bisa, Nyonya. Tunggu sampai memasuki masa subur. Sekitar dua minggu lagi Anda akan memasuki masa subur. Nah, pada masa itulah bagus sekali untuk melakukan pembuahan."
"Apakah itu sudah pasti, Dok?"
"Tergantung sepanjang Anda mengalami menstruasi, Nyonya. Bila rata-rata menstruasi Anda memiliki rentang waktu panjang, maka masa subur bisa masuk di minggu ketiga. Namun, bila rentang waktunya lebih pendek, seminggu lagi juga sudah masuk masa subur."
Sejujurnya Esme tidak pernah peduli dengan masa-masa seperti ini. Dia pun memutuskan untuk mengira-ngira saja. Mungkin juga akan membeli alat bantu untuk mengecek kesuburannya.
"Baiklah, Dokter. Terima kasih banyak atas penjelasannya. Aku akan melakukannya dengan sangat baik dan tepat."
Rasanya lega sekali. Namun, bagaimana kalau Bastian yang memintanya lebih dulu? Sanggupkah Esme menolaknya? Dia juga tidak bisa lagi mengkonsumsi pil penunda kehamilan. Rencananya dengan Axel sudah benar-benar matang sekali.
Esme mengabaikan hal itu. Lebih baik dia memikirkan cara untuk memberitahukan kabar baik ini pada Axel. Tentunya juga tidak melewati Grace yang menjadi kekasih pura-puranya. Dia ingin memberitahukan secara langsung pada Axel karena sudah rindu sekali dengan pria itu.
Semenjak Axton kembali ke mansion, ruang gerak Esme dan Axel sangat terbatas. Mereka cuma bisa bertemu di meja makan atau saat Axel akan berangkat bekerja. Malam harinya pun mereka juga dipertemukan lagi di meja makan.
"Aku harus mengajak Axel untuk makan malam di luar. Cuma itu satu-satunya cara agar aku bisa berbincang langsung dengannya."
Setelah dari rumah sakit, Esme sengaja berkunjung ke perusahaan. Lagi pula di sana ada Bastian yang tidak akan mungkin mencurigai dirinya karena dia datang untuk bertemu dengan suaminya sendiri.
Sesampainya di sana, rupanya resepsionis mengatakan kalau Axel dan Bastian sedang mengikuti meeting dengan klien. Daripada menunggu lama, Esme memutuskan untuk masuk ke ruangan yang ditempati putranya lebih dulu. Dia akan meninggalkan pesan bahagia di sana.
"Kalau begini aku tidak perlu melakukan drama makan malam lagi. Ini akan lebih mudah ketimbang makan malam itu sendiri," gumam Esme sambil berjalan menuju ke ruangan yang ada di lantai atasnya.
Esme cuma sebentar kemudian pamit lagi pada resepsionis bahwa dirinya tidak jadi menemui Bastian. Sebenarnya dia cuma meninggalkan pesan singkat pada Axel bahwa semuanya bisa dilakukan dengan sangat cepat.
Axel dan Bastian baru saja keluar dari ruang rapat. Resepsionis yang tadi sempat bertemu dengan Esme lalu memberitahukan kabar ini pada pemilik perusahaan, yaitu Bastian. Namun, perbincangan keduanya sempat didengar oleh Axel.
"Tuan, tadi nyonya Esme datang ke perusahaan. Dia ingin bertemu dengan Anda, tetapi saat dia tahu bahwa Anda sedang meeting kemudian langsung pergi begitu saja."
Tumben sekali Esme mau menengoknya ke perusahaan. Bastian tidak berpikiran negatif padanya. Terlebih karena resepsionis mengatakan kalau Esme ingin bertemu, dia yakin kalau itu memang dilakukan semata-mata untuk menghormati keputusannya yang menjauhkan Axel dari Esme.
"Sebenarnya apa yang dilakukan Esme di sini?" gumam Axel kemudian meninggalkan papanya.
Sesampainya di ruangan, Axel lantas duduk di kursinya. Dia memindai ke segala arah dan melihat bahwa ruangannya tetap seperti biasanya.
Saat Axel berniat untuk membuka laptopnya, di dalam sana ada sebuah kertas kecil yang kebetulan tidak pernah ditemukan sebelumnya.
"Kertas?" gumam Axel. "Seperti sebuah pesan."
Segera mungkin Axel membuka kertas kecil itu. Cuma berisi pesan dan kode yang mampu dipahami Axel dengan cepat.
"Masa suburku sekitar satu atau dua minggu ke depan."
Satu kalimat panjang itu sudah mewakili suasana hati Axel saat ini. Esme benar-benar menunjukkan bahwa dirinya sangat mencintai Axel dan ingin bersatu dengannya.
"Ehem." Bastian berdeham saat melihat Axel terpusat pada laptopnya.
Buru-buru Axel menyembunyikan kertas kecil itu. Dia bahkan langsung merobeknya lalu membuang ke tempat sampah.
"Oh, Papa. Kupikir Papa asyik berbincang dengan resepsionis."
"Sudah selesai. Esme datang ke kantor sangat cepat. Dia pergi lagi. Padahal aku ingin mengajaknya untuk makan siang bersama. Ya sudahlah. Nanti kita pergi berdua saja."
"Memangnya mama tidak mengirimkan pesan pada Papa? Kenapa tidak buat janji saja."
"Malah papa pikir kalau mama mengirimkan pesan padamu. Jadi, papa tidak tahu apa pun."
Selama masa-masa seperti ini, keduanya jarang sekali berkabar. Asalkan sudah bertemu di meja makan, itu artinya semua baik-baik saja. Jangan sampai merusak kepercayaan papanya juga.
"Tidak ada, Pa. Kami tidak seakrab dulu. Jadi, banyak waktu yang digunakan mama untuk fokus mengurus Papa," ujar Axel dengan perasaan lega. Sebentar lagi pasti akan semakin mudah untuk bersama mamanya.
Semakin ke sini, Bastian percaya penuh pada Axel. Pada kenyataannya Axel sedang menyusun rencana baru untuk bisa bertemu dengannya seperti waktu yang sudah dijanjikan. Perasaan cinta dan sayang Axel pada Esme sudah tidak ada lagi jarak antara mama tiri maupun anak tiri. Keduanya sangat erat dan bisa saling memahami.
Sementara Axel sendiri sudah tidak peduli dia bersaing dengan papanya. Cinta yang dimiliki saat ini adalah sesuatu yang sangat menantang sekali. Axel harus bersaing dengan papanya sendiri demi wanita yang amat sangat dicintainya.
Bila suasana di kantor sangat damai, maka lain halnya dengan di mansion. Axton menghalangi Esme untuk masuk ke mansion lantaran suatu sebab.
"Dari mana saja kau? Jangan bilang baru saja menemui Axel."
"Kau terlalu memiliki pemikiran negatif padaku, Axton. Kau memang membenciku, tetapi bukan berarti aku melakukan hal yang sama padamu. Aku bahkan sangat kasihan padamu karena tidak pernah bahagia lagi."
"Apa pedulimu padaku, hah?"
"Kau memang tidak pernah bahagia. Makanya kau selalu saja membuat orang lain menderita. Berapa wanita lagi yang akan kau korbankan untuk kebahagiaanmu sendiri?"
Sejauh ini pekerjaan Axton masih seperti dulu. Mengatasnamakan agensi model untuk menjual para gadis pada madam Stella. Selama Axton tidak langsung berhadapan atau bertengkar dengan Esme, wanita itu membiarkannya. Namun, saat ini ketika Axton sudah memasang badan melarang Esme masuk, dia pun akhirnya marah.
"Banyak. Aku tidak peduli pada mereka. Lagi pula mereka sama sepertimu Esme. Kau terlalu bodoh untuk menyadari bahwa agensi kecil seperti kalian tidak akan mampu memberikan kehidupan. Cuma itu cara yang luar biasa! Kau pun mendapatkan uang darinya, bukan?" Ucapan hinaan ini ditujukan Axton pada mama tirinya sehingga membuat Esme meradang.