
Bebas dan ini merupakan kesempatan emas. Axel datang ke salon bersama Esme. Di sisi lain, rencana untuk tinggal di apartemen Grace untuk beberapa saat harus dilakukan. Misi ini tidak boleh terlewat begitu saja.
"Grace, bisakah kau membantuku lagi?" tanya Esme setelah sampai di ruangannya.
"Ada apa, Esme? Kau hari ini datang bersama Axel, ya."
"Iya. Makanya aku butuh bantuanmu."
"Katakan saja selagi aku mampu."
"Aku butuh apartemenmu. Cuma itu satu-satunya tempat yang paling aman."
"Kau jadi melakukan itu dengan Axel?" bisik Grace.
"Mau bagaimana lagi, Grace. Suamiku meminta aku melayaninya malam ini. Jangan sampai dia lebih dulu karena aku butuh sekali Axel."
"Kau tidak bisa pergi dengan keadaan seperti itu, Esme. Kau harus masuk dalam penyamaran. Aku takut kalau pihak kepolisian selalu mengawasimu karena perintah dari kakek tua itu. Apa kau lupa kalau segalanya dikendalikan olehnya?"
Ya, Esme hampir lupa kalau Demian yang membuatnya berhubungan dengan pihak kepolisian. Dia seolah mempersempit ruang geraknya untuk memporak-porandakan keluarga anak dan cucunya.
"Bagaimana selanjutnya?"
Tentu saja Esme butuh masukan. Jangan sampai ada pihak yang salah paham dengan semua ini. Beruntung karena Axel sudah menyiapkan segalanya.
"Kita harus bertukar peran. Kau jadi aku dan sebaliknya," ujar Grace membuat Esme tidak mengerti.
"Maksudmu?"
"Ayo, ikut aku!"
Grace membawa Esme masuk ke sebuah kamar di mana hanya ada mereka berdua. Di sana ada 2 pakaian yang harus mereka gunakan. Sementara Grace akan berperan menjadi Esme yang sedang melakukan perawatan. Sementara Esme akan menjadi Grace yang langsung pergi ke apartemennya.
Tidak akan sulit karena bentuk tubuh Esme dan Grace tidak jauh beda. Kalau dipoles sedikit saja, semuanya akan terlihat tidak bisa dibedakan. Jadi, penyamaran Esme akan aman sampai keduanya menyelesaikan misinya.
Axel yang saat ini berada di mobil hampir lupa kalau yang datang adalah Esme, bukan Grace.
"Grace, Esme di mana?" tanya Axel yang terkejut. Padahal dia sedang menunggu wanita yang akan menjadi mama dari anak-anaknya kelak.
Grace tidak langsung menjawab. Dia malah langsung masuk dan duduk di samping Axel seperti biasanya. Setidaknya supaya orang-orang tidak mencurigai keberadaannya.
"Grace, kenapa kau diam? Di mana Esme? Apa dia baik-baik saja?" Sekali lagi Axel mempertegas pertanyaannya.
"Sayang, apa kau tidak mengenaliku?"
Baru setelah mendengar suara Esme, Axel menyadari kalau wanita yang berperan sebagai Grace adalah kekasihnya sendiri.
"Astaga. Aku sangat terkejut. Jadi, apa sudah mendapatkan akses masuk ke apartemen Grace?"
"Tentu saja, Sayang. Hari ini aku hanyalah milikmu."
Tanpa menunggu lama, Axel segera mengemudikan mobilnya menuju ke apartemen yang di maksud. Selain itu, sebenarnya Esme juga sudah menyiapkan segalanya di apartemen itu. Dia juga sudah meminta tolong Grace untuk menyiapkan satu gaun indah yang akan digunakan untuk membahagiakan kekasihnya.
"Jangan lupa nonaktifkan ponselmu, Sayang. Mereka hanya tahu kalau kau mengantarkan aku ke salon, sedangkan kau pergi bersama dengan Grace. Ah, aku sangat mencintaimu, Sayang," imbuh Esme betapa hebatnya Axel.
Jalanan menuju ke apartemen Grace tampak tidak terlalu ramai, tetapi kawasan apartemennya memang lumayan bagus untuk sekelas pekerja salon seperti Grace.
"Kau menyukai tempatnya?" tanya Esme.
Ini pertama kalinya Axel masuk ke apartemen Grace. Tempatnya lumayan tertata rapi dan terlihat sekali kalau Grace sangat merawat tempat tinggalnya.
"Apa kita akan berada di kamar Grace?"
Sementara Axel dan Esme sedang menjalani pembuahan secara alami, di kamar sebuah rumah sakit tampak Axton yang sedang mengaduh kesakitan. Pasalnya, dia harus melakukan perawatan patah tulang di tangannya.
"Ini sakit sekali, Dokter," ujar Axton.
"Sabar, Tuan. Memang prosedurnya harus seperti ini. Anda jangan tegang dan harus tetap rileks."
Bagaimana mungkin bisa seperti itu? Apalagi ini menyangkut dengan anggota tubuhnya yang sakit. Sementara Demian dan Bastian sedang menunggu di luar ruangan.
"Axel ke mana?" tanya Demian.
"Ke kantor, Pa. Kenapa?"
"Jangan lupa awasi terus pergerakan Axel dan Esme. Hari ini mereka keluar dari kantor polisi. Mereka minta penangguhan Esme selama masa pemeriksaan ini."
Tentu saja Bastian tidak tahu soal ini. Namun, yang dia tahu kalau Esme seringkali menemani Axel ke kantor. Apalagi di sana juga sudah dipastikan kalau akan ada Grace, calon menantunya.
"Orang kantor bilang kalau Axel sedang pergi ke salon untuk mengantarkan Esme."
"Iya, tapi dia pergi lagi."
"Apa? Jadi, Axel ke mana?" Bastian sontak terkejut. Tidak mungkin mereka masih menjalani hubungan di belakangnya.
Padahal saat ini baik Esme dan Axel sedang bermandikan keringat. Keduanya benar-benar tidak mengindahkan cinta terlarang yang tidak seharusnya mereka lakukan.
"Ke apartemen Grace."
"Papa mengawasinya?" Bastian curiga karena Demian selalu saja tahu pergerakan istrinya.
"Iya. Cuma Axel pergi bersama Grace. Jadi, aku merasa sedikit lega. Esme ada di salon itu."
Bastian juga lega mendengarnya. Jadi, selama ini hubungan antara Grace dan Axel benar adanya. Mungkin mereka pergi ke apartemen hanya untuk bersenang-senang. Jadi, Bastian lebih memilih fokus pada Axton saja di rumah sakit.
Setelah dokter keluar, kedua pria itu langsung masuk. Axton sudah lebih baik dari sebelumnya yang terdengar berteriak kesakitan.
"Aku bosan ada di rumah sakit ini, Pa. Aku ingin segera pulang. Tidak bisakah Papa menyewa dokter atau suster untuk merawatku di mansion saja?"
Bastian menoleh ke arah Demian. Pria tua itu diam dan mengalihkan perhatian.
"Kenapa kau ingin pulang?" tanya Demian.
"Makanan rumah sakit membosankan, Kakek. Aku ingin makan masakan koki mansion."
Demian jadi memiliki rencana lain untuk itu. Saat Bastian menolak rencana kepulangan anaknya, Demian malah setuju.
"Lebih baik kau di rumah sakit saja. Di mansion tidak ada yang akan merawatmu dengan baik," ucap Bastian.
"Kau salah, Bastian. Justru kalau di mansion, mama tirinya bisa merawat Axton dengan baik. Apa gunanya kau menikah dengannya kalau hanya dijadikan beban dan benalu di mansionmu sendiri?"
"Kakek! Aku tidak mau dengan wanita iblis itu. Dia pasti akan melukai aku, Kek. Aku menolaknya!"
Demian tersenyum. Ternyata bukan hanya Bastian saja yang bodoh, tetapi Axton juga. Sejak kedatangan Esme ke mansion Bastian, Demian merasa kalau seluruh penghuni mansion itu menjadi sosok pria bodoh, termasuk Axel.
"Kau pikir kakekmu ini akan membiarkanmu disiksa, hah? Kakek juga akan tinggal di sana. Apa kau lupa kalau kakek berencana tinggal bersamamu dan selalu ada di dekatmu?"
Axton semakin tenang. Itu artinya akan ada orang yang selalu membenci Esme sepanjang hari selain dirinya. Esme tidak akan pernah tahu kalau kedatangan Demian ke mansion akan membuatnya berada dalam situasi sulit. Sanggupkah pasangan dimabuk asmara itu mengendalikan semua orang yang menentang hubungannya?