
Tidak butuh waktu lama sampai akta cerai itu diterimanya. Bastian mengabulkan permintaannya. Dia juga memberikan sejumlah uang untuk kompensasi perceraian mereka.
"Apakah setelah ini kau akan menikah dengan Axel?" tanya Bastian saat bertemu.
"Tidak! Aku masih marah pada putramu itu. Bisa-bisanya dia tidak mengakui anaknya sendiri. Awas saja kalau nanti dia mengejarku lagi! Aku tidak akan memberinya ampun."
Padahal selama ini tanpa diketahui oleh Esme, pria itu seringkali mengamatinya dari jauh. Bahkan saat dia pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilannya, Axel selalu ada di sana.
"Aku sudah melepaskanmu. Tolong berikan kesempatan Axel kali ini. Maafkanlah kesalahannya. Mungkin dia mengira kalau itu anakku. Namun, seandainya benar itu anakku, maka aku pun akan lebih bahagia lagi," ujar Bastian.
Tumben Bastian bisa berbicara sebaik itu. Saat ini memang Esme berada di restoran. Mungkin ada saatnya dia memberikan kesempatan pada Axel. Terlebih selama ini hampir tidak pernah bertemu. Ada rasa rindu yang membuncah di dada.
"Kalau begitu tolong hubungi dia. Minta dia datang ke sini. Aku menunggunya."
Tanpa banyak bicara, Bastian segera mengambil ponselnya. Dia tidak meneleponnya, tetapi mengirimkan pesan. Tanpa Esme tahu, rupanya Axel sudah ada di dekatnya dengan melakukan penyamaran.
"Papa memanggilku?" tanya Axel yang sudah berdiri di belakangnya.
"Axel!" Esme terkejut saat melihat seorang pria menggunakan jaket Hoodie dengan kacamata hitamnya. Terlihat sedikit brewokan karena selama berpisah dengan Esme, pria itu malas sekali untuk merawat diri.
"Nah, karena kalian sudah bertemu. Aku harus pergi sekarang."
Sebelumnya mereka terlihat dekat, tetapi saat lama tidak bertemu menjadi aneh seperti ini. Axel seakan baru saja mengenal Esme di pertemuan pertamanya.
"Duduklah, Axel!" Akhirnya keluar juga suara dari mulutnya.
"Apa kabar, Sayang?"
"Kau masih ingat padaku, Axel?"
"Tentu saja, Sayang. Aku masih sangat mencintaimu sampai detik ini. Mungkin kau juga tidak menyadari kalau selama ini aku selalu mengikutimu. Lalu, kau tinggal di apartemen atas namamu sendiri. Selain itu, kau juga memeriksakan anak kita ke rumah sakit. Aku tahu semuanya dan cukup detail, bukan?" jelas Axel.
Esme tidak bisa berkata apa pun untuk saat ini. Memang kenyataannya seperti itu. Setiap gerak-gerik Esme serasa ada yang mengamati. Ternyata itu adalah ulah Axel. Seringkali dia menoleh ke belakang, tetapi tidak ada siapa pun.
"Apakah itu artinya kau mengakui anak kita?"
"Tentu saja. Malah aku ingin mengajakmu menikah. Maukah kau menikah denganku?" Axel menunjukkan perhiasan yang sebenarnya untuk Grace waktu itu, tetapi karena Grace bukan calon istrinya yang asli, makanya sekarang diberikan kepada Esme.
"Apakah ini seperti sebuah drama? Maksudku, calon istriku adalah mantan istri papaku. Terkesan lucu, tapi membingungkan juga, bukan?"
"Sudahlah, Esme. Lupakan itu! Mari kita bicarakan masa depan saja. Kamu mengerti maksudku, bukan?"
"Aku tidak mau bahas itu di sini. Aku ingin kau mengajakku ke sebuah tempat romantis dan kau harus mengulanginya di sana. Lamar aku sekali lagi!"
Axel dengan senang hati menuruti permintaan Esme. Setelah keduanya berada di dalam mobil, Axel memang tidak tahu harus mengajak Esme ke mana. Namun, dia yakin akan menyukai tempat yang dituju kali ini.
"Sudah lama tidak bertemu. Kau semakin cantik saja. Usia kehamilanmu sudah memasuki 8 minggu, bukan? Aku bahagia."
"Benarkah? Sejak kapan kau tidak lagi meragukan aku?"
Axel sudah mencoba menerima keadaan setelah dia merasa kehilangan saat di mansion. Dia pun mengikuti ke mana pun Esme pergi. Bahkan dia selalu memastikan bahwa kekasihnya itu baik-baik saja.
Seringkali Axel meminta bantuan Grace untuk memberikan sesuatu pada Esme tanpa sepengetahuannya. Terkadang meminta Grace untuk mentraktir makanan yang disukai Esme agar dia merasa bahagia di kehamilannya kali ini.
"Sudah lama. Sejak Grace marah-marah padaku."
"Benarkah? Sungguh aku tidak tahu kalau Grace marah padamu. Aku minta maaf, ya."
Sampailah di suatu tempat, yaitu sebuah taman indah di pusat kota. Kondisi Esme sedang hamil. Jadi, kemungkinan untuk dibawa ke tempat yang jauh, Axel harus berpikir ulang.
"Kita parkir mobil di sini saja. Kau tidak lelah kan kalau harus berjalan beberapa meter ke tengah taman?"
"Tidak, Axel. Ayo!"
Seperti pasangan romantis, keduanya berjalan bergandengan tangan. Cukup erat dan sepertinya tidak bisa dipisahkan begitu saja.
Genggaman mantan anak tirinya yang sebentar lagi akan menjadi suaminya memang terasa berbeda. Esme seolah kembali muda dan mengenal cinta dengan sangat baik.
"Kenapa kau punya ide pergi ke tempat ini?"
"Katamu menginginkan tempat yang sangat romantis. Nah, disinilah tempatnya. Lalu, tunggu apalagi?"
"Kupikir ke sebuah tempat yang nyaman, indah, dan mengesankan."
"Adakah tempat seperti itu?" tanya Axel. Ternyata keduanya tidak memiliki pemikiran yang sama.
"Ada. Kau mau tahu? Bahkan kita sering pergi ke sana berdua. Mungkin kau lupa, tetapi tidak denganku. Justru tempat itu menjadi bagian terindah di antara hubungan kita. Kau pasti tahu tempatnya."
Kursi taman adalah tempat yang cocok untuk mengungkapkan perasaannya. Selain itu, ini adalah lamaran terakhir untuk Axel karena setelah ini mereka akan menikah.
Axel membimbing Esme untuk duduk di sana. Sementara dia sendiri duduk berjongkok di hadapannya. Setelah mengecup punggung tangan Esme, digenggam erat tangan itu.
"Sayang, sejak kita berpisah cukup lama, aku merasa tidak bisa tinggal dan hidup sendirian. Aku menginginkan kau untuk menjadi pendamping hidupku dan melanjutkan keturunan bersamaku."
"Terima kasih, Axel. Aku sangat tersanjung sekali. Rasanya akulah satu-satunya wanita yang paling bahagia di dunia ini. Aku bersyukur bisa bersamamu."
Axel mengambil cincin dari kotak pemberian papanya. Selain itu dia juga memasang beberapa perhiasan lainnya hingga satu kotak itu pun terlihat sangat indah saat dipakai oleh Esme.
"Ini sangat indah sekali, Axel. Aku sangat bahagia. Terima kasih, Sayang." Esme mengeratkan genggaman tangan kekasihnya.
Axel beralih duduk di sebelah Esme. Dia masih penasaran dengan tempat yang disebutkan Esme barusan. Bagi Axel, dia tidak pernah merasa datang ke tempat itu.
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Katakan saja."
"Di mana tempat yang kau maksud itu? Kalau perlu aku akan mengajakmu datang ke sana lagi."
Esme tertawa. Candaannya kali ini dianggap serius oleh Axel. Bagaimana bisa Esme menjelaskan sementara pemilik tempat itu adalah Axel sendiri?
"Kenapa tertawa? Apa ada yang lucu?"
"Bukan begitu, Sayang. Tempat itu ada di dalam bagian mansion papamu."
"Katakan, Esme!"
"Ranjang hangat milikmu."
Gara-gara candaan Esme barusan, Axel semakin gemas sehingga memeluk wanita itu dengan penuh cinta dan kasih.