
Axton mengubah keputusannya. Dia akan kembali ke mansion untuk membalas semua rasa sakit hatinya pada Esme yang telah membuat keluarganya berantakan. Dia pun akan mencoba berbicara dari hati ke hati dengan kakaknya.
Hal mengejutkan saat Esme dan Axel baru pulang dari kantor. Aura bahagia itu mendadak berubah menjadi geram. Ya, sampai saat ini Esme masih membenci Axton.
"Wah, Mama ... sungguh luar biasa sekali."
Axton merentangkan tangannya berniat untuk memberikan pelukan pada Esme. Dia memang sengaja melakukan itu.
"Mundur, Axton!" tegur Axel yang memasang wajah cemburu.
"Wah, kurasa kau harus belajar banyak hal dariku, Kakak. Di luaran sana masih banyak wanita cantik, seksi, dan memesona. Bahkan salah satu dari mereka itu masih bersegel. Jadi, mengapa kau masih bertahan dengan wanita yang masih bersuami? Lebih-lebih dia adalah Mama tiri kita, Kak."
"Jaga bicaramu, Axton! Kau adalah bajingan. Sampai kapan pun, kelakuanmu akan tetap seperti itu. Lihat dirimu sekarang! Apa kau juga memiliki wanita bersegel itu, hah? Tidak, kan? Bahkan kurasa kau juga meniduri ****** yang lebih rendah daripada aku. Jangan sok suci!" balas Esme tidak mau kalah.
Axton tertawa. Dia bersikap seolah menjadi pemenangnya. Dia mengitari kakak dan mama tirinya sambil bertepuk tangan. Hal itu membuat Bastian yang ada di kamarnya mendadak minta keluar diantarkan oleh pelayan.
"Setidaknya ****** yang kutiduri jauh lebih terhormat. Dia kubayar dan aku mendapat pelayanan maksimal. Aku tidak merebutnya dari suami siapa pun. Jadi, siapa di sini yang paling mengenaskan? Apakah itu kau, Kak? Ingat ya, papa kita masih hidup. Dia memerlukan istrinya. Jadi, aku sarankan lepaskan ****** ini dan menikahlah dengan wanita pilihan kakek."
Tamparan keras langsung mendarat di pipi Axton. Bukan dari Esme, melainkan tangan Axel sendiri. Axton terkejut sehingga memegangi pipinya.
"Sudah cukup bicaranya?" tanya Axel yang disaksikan oleh Bastian.
"Ada apa ini?" tanya Bastian.
"Papaku tercinta. Apakah kau masih menginginkan istrimu ini? Lihat, bagaimana cara selingkuhannya membela? Aku ditampar, Papa. Haruskah aku membalas menampar Kakakku sendiri?" ujar Axton dengan mulut manisnya.
"Esme, masuk ke kamar! Aku ingin bicara dengan anak-anakku," ujar Bastian.
Sejujurnya Esme terkejut. Mengapa suaminya cepat sekali berubah? Padahal pagi tadi masih memberikan kesempatan untuk dekat dengan Axel, tetapi sekarang berubah lagi seiring berjalannya waktu.
"Bastian, tapi ini tidak seperti yang kau bayangkan," ujar Esme mencoba bertahan di sisi Axel. Apa pun yang terjadi nantinya, Esme harus tetap mendukung Axel.
"Masuk kataku!" Nada suara Bastian berubah total. Terdengar kasar sekali.
"Bastian?" ujar Esme lemah.
Akankah cinta terlarang itu berakhir hari ini juga? Apakah Axel akan memperjuangkan juga?
Daripada menambah keributan, Esme memutuskan untuk segera masuk ke kamar. Itu pun karena Axel memberikan kode dan meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Axel, selama ini papa selalu memberikan kesempatan kepadamu untuk melanjutkan bisnis perusahaan. Namun, papa harus mengatakan kekecewaan kali ini. Sejujurnya papa tidak paham dengan pemikiranmu untuk memilih menjalin hubungan yang kau tahu kalau Esme adalah mama tirimu. Tolong jelaskan pada papa, Axel!"
Axel tahu kalau ini pasti akan terjadi. Dia juga sudah berjanji pada Esme akan mengatasi ini semua.
"Apakah Papa bisa membahagiakan Esme?" Satu pertanyaan itu mewakili segalanya.
Pertengkaran yang seharusnya terjadi antara Axton dan Axel, kini malah berbalik pada Bastian dan Axel.
"Perlu Papa garis bawahi kalau Esme sama sekali tidak bahagia dengan pernikahan ini. Apakah Papa berkenan melepasnya untukku? Sebagai seorang pria, aku sudah menjelaskan maksud dan tujuanku, bukan?" Tantang Axel.
Axton melotot. Ini bukan rencananya. Dia tidak tahu kalau ternyata Axel akan membalikkan kata-kata ini. Dia hanya tahu kalau kakaknya tetaplah menjadi pria yang polos dan sewaktu-waktu mengalah pada papanya.
"Esme bahagia bersama papa, Axel. Jadi, tolong menjauhlah darinya," balas Bastian singkat kemudian meminta pelayan membawa kembali ke kamar.
"Pa, urusan kita belum selesai!" teriak Axel.
Ternyata Axel berhadapan dengan tiga pria sekaligus. Demian, Bastian, dan Axton.
"Percuma! Papa tidak akan mendengarmu lagi," ujar Axton mengejek.
Sementara Esme yang saat ini sudah mengganti pakaiannya dengan baju santai, dia harap-harap cemas. Jangan sampai hubungannya dengan Axel berakhir begitu saja. Kalau sampai Bastian menghalangi jalannya, dia akan memastikan kehancuran untuk Axton dan Bastian.
"Bagaimana dengan Axel?" tanya Esme setelah tahu Bastian masuk ke kamar.
"Lupakan dia, Esme. Kau istriku. Tidak seharusnya menjalin hubungan dengannya. Ingat, kalau aku yang mengeluarkanmu dari lembah hitam itu!" tegas Bastian.
"Apa katamu? Kau pasti sudah dipengaruhi oleh Axton dan Demian."
"Tidak sama sekali, Esme. Ini demi hubungan kita. Kau pun dilarang untuk menemui Axel. Aku akan selalu memantau kalian."
Esme menggeleng. Jika ingat bagaimana Madam Stella memperlakukannya di tempat pelacuran, Esme rasanya ingin kembali ke sana. Daripada hidup di mansion yang ternyata menawarkan sejuta kebohongan.
"Kau keterlaluan, Bastian! Ingat bahwa aku tidak akan pernah memaafkan Axton. Sekarang kau pun ikut membuatku dalam posisi yang paling sulit. Aku pastikan kau akan hancur saat tahu bagaimana rasa putus asa Axel menghadapi dirimu. Kau tidak tahu kan kalau Axel lebih rapuh ketimbang anakmu yang bajingan itu!"
Bastian tertawa. "Aku bisa memahami Axel lebih jauh ketimbang dirimu, Sayang. Dia hanya terobsesi kepadamu. Saat ada satu wanita yang mampu meluluhkan hatinya, maka kau pun bukan apa-apa baginya. Dia itu seperti diriku, Sayang. Akan selalu terobsesi dengan apa yang ingin dimilikinya."
"Kau salah, Bastian. Aku bisa memahami putramu melebihi dirimu. Dia bahkan memiliki pemikiran yang tidak sejalan denganmu. Dia tipe setia, bertanggung jawab, dan pastinya lebih penyayang ketimbang dirimu. Dasar pria egois! Oh, aku paham sekarang. Mengapa kau menduda selama itu? Itu karena kau sendiri yang egois dan Demian yang selalu ikut campur dalam rumah tangga anaknya. Sayang, Axel adalah pribadi yang akan membuktikan semua ucapannya menjadi kenyataan," jelas Esme.
Jika saat ini Bastian tidak duduk di kursi roda, sudah pasti Esme akan mendapatkan tamparan karena melawan semua perintah Bastian.
"Benarkah kau yakin akan menang? Mari kita lihat saja, Sayang. Aku sudah memilikimu seutuhnya. Sementara Axel, dia hanya akan mendapatkanmu di sela-sela waktu senggang kita. Kalau aku membuatmu sibuk, maka Axel perlahan akan menyadari bahwa dirimu sudah tidak ada artinya lagi."
"Oke. Aku terima tantanganmu. Mari kita lihat siapa pemenangnya, Bastian? Kau dengan segala keegoisanmu itu atau cinta kami yang selalu menggebu dan tidak bisa dipisahkan?"
Semakin ke sini, hubungan Axel dan Esme terancam bubar. Esme tidak bisa menemui Axel karena Bastian sudah melarangnya.