Love Bombing

Love Bombing
Bab 52. Aland Brylee (Happy Ending)



Kedamaian mansion sungguh terjaga semenjak kedatangan Grace. Wanita itu berperan besar sebagai ibu rumah tangga yang mengurus anak-anak sekaligus menantunya. Dia juga bersikap bijak sekali. Sungguh suasana yang damai.


Sementara Axton, perlahan mulai lebih sering berada di mansion ketimbang keluyuran. Itu menjadikan nilai plus untuk kesehatan Bastian sendiri.


"Papa jauh lebih baik sekarang, Axton. Terima kasih sudah menjadi anak yang baik." Bastian memujinya.


"Aku hanya sedang malas ribut, Pa," sahut Axton dengan nada yang cukup datar.


Kali ini Axton memang diminta kakaknya untuk selalu standby di mansion. Alasannya untuk mengantisipasi bila sewaktu-waktu istrinya mengalami kontraksi.


Seperti hari ini, Esme berteriak kesakitan dari dalam kamarnya. Tidak seorang pun mendengar karena mereka sedang berada di lantai bawah di mana ruang makan berada.


"Aduh, sakit!" teriak Esme.


Suara dari kamar itu tidak mudah di dengar oleh orang dari luar. Supaya banyak yang tahu, Esme harus keluar. Namun, karena rasa sakit di perutnya yang semakin lama semakin bertambah membuatnya tidak bisa melakukan apa pun.


Terpaksa Esme menghubungi Grace karena cuma dia yang bisa diandalkan kali ini. Grace melihat ponselnya berdering dan ada nama Esme di sana.


"Siapa, Sayang?" tanya Bastian.


"Esme, Dad," jawab Grace.


"Bukannya Esme ada di kamarnya?" Seketika Axton ingat pesan kakaknya.


"Wah, iya! Jangan-jangan terjadi sesuatu padanya. Dad, kau tunggu di sini saja. Aku dan Axton akan naik."


Mereka berdua buru-buru pergi ke kamar Esme. Grace sengaja meninggalkan ponsel di meja karena panik. Tanpa mengetuk pintu, Grace langsung menerobos masuk.


"Sayang, ada apa?" tanya Grace.


"Sepertinya aku mau melahirkan, Grace. Tolong bawa aku ke rumah sakit sekarang. Aduh, rasanya sakit sekali! Bayi ini seperti mau keluar saat ini juga," ungkap Esme.


Axton bingung harus melakukan apa? Sementara Grace masih menginterogasi Esme. Dia mendadak bingung dengan dirinya sendiri.


"Axton! Kenapa diam saja? Ayo, bantu angkat Esme ke mobil!" teriak Grace panik.


"Aku?" Axton masih sempat menunjuk dirinya sendiri. "Bagaimana caraku mengangkatnya?"


"Oh, astaga! Gendong!"


Seketika Axton baru bertindak setelah mendapatkan peringkat dari Grace. Axton benar-benar kena batunya. Dia tidak berbuat apa pun, tetapi menjadi orang pertama yang paling repot.


Awalnya Esme menolak, tetapi saat diyakinkan oleh Grace barulah setuju. Grace segera turun membersamai Axton yang menggendong Esme menuruni anak tangga. Cukup melelahkan sekali, tetapi melewati lift pun tidak mungkin.


Bastian ditinggalkan sendirian di mansion. Istri dan anaknya sedang panik mengantarkan Esme yang akan melahirkan. Daripada sibuk dan tidak ada teman, dia pun segera mengabari pada Axel kalau istrinya akan melahirkan.


"Jadi, aku harus ke rumah sakit sekarang, Pa?"


"Jangan bodoh, Axel! Jemput papa dulu. Aku juga ingin menjadi orang pertama yang melihat cucuku nanti!"


Kalau sudah turun aturan seperti itu, Axel harus menahan diri. Dari kantor dia harus pulang ke mansion baru ke rumah sakit.


Sementara Esme langsung dibawa ke ruang persalinan. Rupanya dia sudah mengalami kontraksi beberapa hari sebelumnya, tetapi tidak sesakit hari ini. Dia langsung masuk ke sana tidak ditemani siapa pun.


Sementara Axton dan Grace menunggu di luar dengan rasa cemas dan panik. Axton sendiri juga kelelahan karena menggendong Esme dari anak tangga paling atas sampai bawah. Rasanya seperti tertindih beban berat.


"Bobot wanita itu berapa ton? Rasanya aku seperti mengangkut ribuan ton!" umpat Axton.


"Wanita hamil memang begitu. Semakin tua kehamilannya, bobot tubuhnya juga mengikuti. Cuma tidak setiap wanita seperti itu. Esme saja yang akhir-akhir ini doyan sekali makan. Pantas saja kalau berat."


"Memangnya kau tidak ingin hamil juga?" tanya Axton seolah menginterogasi mama tirinya.


"Ck, jaga bicaramu! Memangnya kau mau punya adik kecil yang nantinya akan dikira anakmu oleh orang lain? Aku tidak mau, ya. Dia anakku dari suamiku, bukan anak tiriku!"


"Kalau begitu, mari kita proses bersama!"


Axton tertawa. Rupanya Grace tahu semuanya. Papa dan kakaknya memang tidak ada bedanya. Sama-sama perebut istri orang.


Tidak lama, dokter mengabarkan jika telah lahir seorang bayi laki-laki yang tampan dan menggemaskan.


"Ah, bayi laki-laki, Axton!" Refleks Grace memeluk anak tirinya. "Oh, maaf!"


"Hemm, keponakanku laki-laki rupanya. Apakah ada trik khusus untuk mendapatkannya?" tanya Axton ambigu.


"Apa maksudmu?"


"Ah, tidak. Aku hanya bercanda."


Dari jauh, Bastian dan Axel datang. Mereka terlihat buru-buru sekali. Napas Axel pun seperti dikejar ribuan klien bisnisnya.


"Apakah anakku sudah lahir?" tanya Axel setelah sampai di depan Grace dan adiknya.


"Kali ini kau harus membayar mahal padaku. Aku tidak ikut berbuat, tetapi ikut bertanggung jawab. Anakmu laki-laki, Kak! Selamat, ya!" ujar Axton.


Axel memberikan pelukan pada adiknya. Tinggal menunggu Esme dipindahkan ke ruang rawat dan bayinya.


"Terima kasih, Axton! Kau baik sekali."


Tidak lama, Esme pun didorong keluar dari ruang persalinan untuk dipindahkan ke ruang rawat. Dia juga bersama dengan box bayi yang berisi bayi laki-laki yang tampan.


"Ah, anakku laki-laki, Papa!" Axel sangat terharu dan bahagia sekali.


Setelah mereka sampai di ruang rawat, Axel segera mendekati istrinya yang sedang terbaring lemah di sana. Dia mengecup terus kening sang istri sebagai ucapan terima kasih.


"Sayang, anak kita laki-laki. Terima kasih sudah menjaga dan merawatnya dengan baik. Kita sudah menjadi orang tua sekarang. Apakah kau memiliki nama untuknya?" tanya Axel.


Esme menggeleng. Selama ini dia belum pernah tahu jenis kelamin bayinya. Dia hanya menerka-nerka saja kalau anaknya nanti adalah perempuan. Ternyata dia salah. Jadi, Esme belum menyiapkan nama untuk anak laki-lakinya.


"Kalau kalian belum menyiapkan nama, Papa siap memberikan nama untuk cucu kebanggaan papa itu. Bagaimana?" usul Bastian.


Sebenarnya agak rumit juga karena mendadak seperti itu. Namun, Grace segera menepis keinginan suaminya. Pada dasarnya harus Axel atau Esme yang memberikan nama untuk putra mereka.


"Biarkan saja, Dad. Itu hak mereka karena sebagai orang tua. Sebaiknya kita tunggu sampai Axel atau Esme memberikan nama." Mungkin Grace benar dengan ucapannya.


"Kenapa kau bingung, Kak? Segera berikan nama! Ambil nama belakangmu dan tinggal cari nama depannya saja. Kenapa kali ini kau mendadak tidak bisa berpikir?" sahut Axton.


Wajar kalau Axel mendadak bingung. Tidak ada persiapan nama yang dipilih sebelumnya.


"Akan kupikirkan," ucap Axel.


"Siapa pun namanya, aku berharap kau yang memberikannya, Sayang," ujar Esme.


Setelah berpikir cukup lama dan mengandalkan ponsel. Kalo ini Axel telah menemukan nama yang cocok untuk jagoan kecilnya.


"Yes, aku menemukannya!" seru Axel.


Grace memberikan kode supaya tidak berteriak. Ditakutkan kalau bayi itu akan terbangun dan menangis.


"Maaf, aku sangat antusias sekali," ucap Axel dengan pelan.


"Jadi, siapa namanya?" tanya Grace.


"Aland Brylee."


*TAMAT*