
Kembalinya Axton dan keberadaan Demian membuat Esme merasa terdesak. Selain itu, kasus yang menuduhnya melakukan sabotase atas kecelakaan yang terjadi pada Axton masih bergulir.
Saat ini Esme berada di dalam mobil yang sama dengan Bastian. Duduk berdampingan seperti ini membuat Esme sama sekali tidak nyaman.
"Kenapa diam?"
"Memangnya aku harus bagaimana? Berteriak di dalam mobil? Kau saja tidak bisa membela istrimu," ujar Esme dengan nada yang sangat kesal.
Padahal niat Bastian hanya ingin bertanya saja, tetapi respon Esme di luar dugaan. Mungkin dia terlihat kesal karena Axton dan Demian akan tinggal di mansion yang sama. Jadi, Esme adalah satu-satunya wanita di sana.
"Minta kakek tua itu mencabut laporannya. Jika tidak, jangan harap kau bisa menyentuh istrimu ini. Nanti malam pun aku tidak akan pernah melayanimu sebelum aku terbebas dari tuduhan sialan itu!" ujar Esme dengan lantang.
Bastian terkejut. Selama ini dia sudah menahan diri karena sakit. Sekarang, saat dia benar-benar butuh, ternyata Esme memasang garis pembatas yang cukup tinggi.
"Jadi, kau baru menolak permintaanku setelah menyetujuinya."
"Ya, seperti itu. Aku jelas rugi besar, Bastian. Kau tahu kan, gara-gara ulah kakek tua itu, aku batal pergi ke luar negeri untuk bertemu temanku. Sekarang, kau minta aku melayanimu di ranjang. Maaf, aku tidak bisa!"
"Hemm, baiklah. Aku akan coba bicara pada Papa, tetapi kalau Papa menyetujuinya, kau harus mau melayaniku seperti sebelumnya."
"Tentu saja," ujar Esme penuh keyakinan. Padahal dirinya sedang menjauh dari Bastian secara perlahan.
Kedatangan Axel yang tidak jauh berbeda dengan Esme membuat Axton langsung menyindir mereka.
"Ck, jangan sampai kalian berpura-pura menjauh, tetapi kenyataannya masih bersama. Sungguh menjijikkan sekali," ujar Axton menghentikan langkah Axel.
"Jaga bicaramu, Axton. Kau sedang sakit dan kurasa tidak akan ada pelayan sebaik Esme di mansion ini. Pelayan hanya akan mengurus makananmu saja. Sementara para pria tidak akan mau menyuapimu!" balas Axel cukup frontal.
"Cukup! Setiap bertemu, kalian selalu saja ribut. Apa tidak malu karena kalian sudah dewasa? Lama-lama kakek akan menikahkan kalian semua," tegas Demian melerai kedua cucunya.
Bastian tidak berkata apa pun. Dia malah teringat akan ucapan istrinya. Apalagi sekarang ada kesempatan bisa bertemu dengan papanya. Jadi, tidak sulit untuk meminta waktu sebentar.
"Pa, biarkan saja. Setelah Axton sembuh, aku akan memikirkan pernikahan Axel sekaligus Axton. Kalau Axel sudah punya calon, sedangkan Axton menjadi tugas Papa untuk mencari pasangannya," ujar Bastian.
Mendengar kata sebulan, Axel semakin cemas. Begitu juga dengan Esme. Bagaimana kalau mereka belum bisa dipersatukan dengan kehadiran bayi yang mereka inginkan, tetapi keburu keluarga besar Axel mengumumkan pernikahannya. Bisa menjadi masalah besar nantinya. Kalau sudah seperti ini, Axel tidak bisa menyerah begitu saja.
"Pa, apa kau punya waktu untukku?" tanya Bastian lagi.
"Ada apa?"
"Bisa kita bicara di ruang kerjaku? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan."
Esme memisahkan diri menuju ke kamar. Begitu juga dengan Axel. Keduanya tampak kecewa dan cemas mendengar penuturan Bastian.
"Soal apa?" Demian sedikit heran.
"Ayolah, Pa. Kenapa harus main rahasia seperti itu di depanku," tegur Axton.
"Ini bukan urusanmu, Axton. Biarkan papa dan Kakek yang bicara," balas Bastian.
Mereka meninggalkan Axton seorang diri di ruang keluarga. Sementara Bastian saat berada di ruang kerjanya langsung bicara ke inti masalahnya.
"Aku mau Papa cabut tuduhan kecelakaan Axton itu. Bebaskan Esme, Pa. Dia tidak bersalah."
Demian mengira kalau ini adalah masalah perusahaan, tetapi kenyataannya malah masih urusan satu wanita itu saja.
"Kau itu sadar atau tidak, Bastian. Esme itu sudah menghancurkan keluargamu. Kau, Axton, dan Axel tidak bisa seperti dulu lagi. Pikirkan lagi rencana konyolmu itu. Apa yang kau pertahankan dari seorang Esme? Dia tidak bisa memberikanmu keturunan juga."
Selain itu, semangat hidup Bastian didapatkan kembali dari istri mudanya itu. Semangat yang sangat menggebu apalagi mengenai hubungan tentang hasrat dan keinginan pribadinya.
"Aku mencintai Esme, Pa. Tidak ada alasanku untuk bisa melepaskannya."
"Kalau begitu alasan kita sama. Aku juga tidak akan mencabut laporannya."
Sulit rasanya melakukan negosiasi dengan papa sendiri. Apalagi ini menyangkut cinta dan dendam. Rasanya harus mengorbankan salah satunya.
"Ayolah, Pa. Tolong kabulkan permintaanku ini. Jarang sekali aku meminta sesuatu pada Papa dengan permohonan yang menurutku sudah tidak wajar lagi."
"Itu karena kau sudah dibutakan cinta oleh wanita hina itu!"
"Cukup, Pa! Jangan hina Esme lagi. Dia seperti itu karena ulah Axton. Papa jangan tutup mata atau lupa masalah itu."
Pertengkaran itu terjadi tanpa diketahui oleh anak-anaknya. Keduanya bersikeras pada keputusan masing-masing. Demian ingin Esme berada di dalam jeruji besi, sedangkan Bastian menginginkan kebebasan.
"Kalau begitu, apa pun permintaan Papa akan aku kabulkan. Asal Papa melepaskan Esme," ujar Bastian untuk terakhir kalinya.
"Kalau begitu nikahkan Axel dengan Grace secepatnya. Kalau kau bisa melakukan itu, maka besok aku akan mencabut laporan itu. Bagaimana?"
Demian tahu cerita Axel yang memiliki kekasih bernama Grace. Beberapa kali Demian juga mengamatinya. Sepintas tidak ada yang salah dengan hubungan mereka, tetapi menurut kecurigaan Axton kalau hubungan kakaknya hanyalah kamuflase saja.
"Benarkah?"
"Hemm."
"Kalau begitu aku akan bicara dengan Axel. Terima kasih atas kebaikanmu, Pa."
Bastian bergegas menuju ke kamar Axel. Di mana pria itu ternyata sedang mondar-mandir karena dilema. Saat pintu diketuk, Axel buru-buru membukanya karena takut Esme lah yang datang. Apalagi di sini suasana tidak kondusif sehingga dia pun berjaga-jaga.
"Papa?" Axel terkejut.
"Kenapa kau terlihat kaget sekali?"
"Tidak. Kupikir kakek atau Axton," ujar Axel beralasan.
Bastian pun segera masuk ke kamar itu lalu menutup pintunya. Pembicaraan ini harus diselesaikan hari ini juga sebelum Demian berubah pikiran.
"Papa ingin agar kau segera menikah dengan Grace."
"What? Apa maksud Papa? Ini mendadak sekali."
Belum usai penanaman bibit masa depan, kini Axel dipusingkan dengan keputusan mendadak ini. Bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Esme kalau seperti ini?
"Kakek menukar kebebasan Esme dengan pernikahanmu. Apa kau mau menolong papa?"
Mengejutkan sekali. Ujian cinta yang bagaimana lagi ini? Axel harus merelakan kebebasan kekasihnya demi menikah dengan wanita lain. Ini tidak bisa dibiarkan. Axel harus mencari jalan keluar lebih dulu.
"Apa rencana Kakek?"
"Kalau kau setuju menikah dengan Grace, maka kakek akan mencabut laporannya besok."
"Apakah ini benar? Kalau cuma jebakan Kakek, aku tidak mau melakukan apa pun. Pastikan kalau Kakek besok membebaskan Esme. Setelah itu keputusan pernikahan ada di tanganku," ujar Axel dalam dilemanya.