Love Bombing

Love Bombing
Bab 25. Wanita Pengganti



Malam semakin larut. Hari ini pengganggu sebenarnya sudah pergi sejak sore hari. Dia memiliki pekerjaan penting di luaran sana. Sementara Bastian sendiri belum tidur karena mengawasi Esme supaya tidak pergi ke kamar Axel.


"Kau mau jadi security?" tanya Esme kesal.


"Iya. Aku tidak mau kalau kau mencuri kesempatan lagi untuk mendekati anakku. Biarkan dia hidup normal dan menentukan masa depannya."


"Jadi, menurutmu aku adalah penghalang masa depan putramu?"


Bastian berdeham. "Memangnya kau tidak merasa? Dengan menjalin hubungan dengannya saja sudah membuatnya berubah drastis. Entah, rayuan apa yang membuat Axel berubah menjadi pembangkang seperti itu?"


"Pikiran kolot orang tuanya juga berpengaruh," ujar Esme geram.


Esme terpusat pada jam dinding yang ada di kamarnya. Dia melihat malam semakin larut dan Bastian tidak kunjung tidur. Kalau harus memberikan obat tidur, dosisnya memang harus ditambah. Namun, itu juga tidak akan langsung membuat Bastian tertidur. Butuh waktu lagi sampai dia benar-benar mengantuk.


Sayang, sampai detik ini pun Bastian tidak kunjung meminta minum. Biasanya sebelum tidur dia meminta segelas air putih lalu beranjak ke ranjangnya dan terlelap.


Bastian saat ini sudah tidak menggunakan kursi roda lagi. Pemulihannya sangat cepat dan di luar nalar.


"Sayang, ambilkan aku minum," perintah Bastian.


Akhirnya waktu yang ditunggu pun tiba. Mungkin saja Bastian sudah mengantuk sehingga dia pun menyerah. Buru-buru Esme pergi ke dapur untuk mengambil segelas air dan memuluskan rencananya.


"Hemm, ada lagi yang kau inginkan?"


"Tidak. Segeralah kembali. Ingat, jangan temui Axel!"


"Kalau kami tidak sengaja bertemu di dapur, apa kau juga akan melarangnya? Dasar pria tua yang aneh!" geram Esme.


"Terserah apa katamu, tetapi aku sudah memperingatkanmu."


Esme malas sekali mendengar ucapan suaminya. Dia lekas keluar untuk mengambil segelas air. Tidak hanya itu, dia pun sesegera mungkin harus memasukkan serbuk obat tidur yang sudah disiapkan.


Para maid tidak terlihat sama sekali. Mungkin saja mereka sudah beristirahat. Esme dengan hati-hati melangkah ke dapur. Jangan sampai membuat kegaduhan di sana sehingga membuat salah satu maid mencurigainya.


Kebetulan lampu dapur memang remang-remang. Kalau ingin mengambil sesuatu harus menyalakan lampu utama. Namun, saat Esme hendak menekan saklar lampu, seseorang membekap mulutnya sehingga tidak bisa berteriak.


"Ssstt, jangan berteriak!" bisik Axel pelan.


Kini posisi Esme dan Axel berada di antara lemari es dan beberapa lemari penyimpanan yang cukup tinggi. Kalau untuk bersembunyi sejenak, itu adalah tempat yang paling aman. Tanpa menunggu aba-aba, Axel lekas mencium Esme dengan brutal. Dia sudah merindukan saat-saat seperti ini. Esme pun demikian sehingga keduanya hampir kehabisan napas.


"Cukup, Axel!" ucap Esme pelan. "Aku harus segera mengambil air. Keburu papamu menyusulku ke sini," ujar Esme.


"Hemm, pergilah. Kalau kau ada kesempatan, datanglah ke kamarku," pinta Axel. Dia pun lebih dulu meninggalkan dapur dan menyelinap ke tempat lainnya agar tidak ada yang curiga.


Esme kembali ke kamarnya. Namun, saat berniat memberikan segelas air, Esme lupa menaruh obat tidurnya karena panik.


"Lama sekali? Kau tidak pergi ke kamar Axel, kan?"


"Kau pikir aku bisa terbang ke dapur, hah? Aku juga perlu berjalan satu demi satu anak tangga. Kenapa mansion sebesar ini tidak ada jalan pintas dari dapur menuju ke kamar ini?" ujar Esme yang tidak terima dituduh terus-menerus.


"Hemm, berikan airnya."


Kadang Esme terngiang ucapan Grace yang memintanya untuk segera bercerai dari Bastian. Namun, ada banyak hal yang menjadi pertimbangannya. Salah satunya adalah Axton. Jika bukan karena kekuatan Bastian, mungkin anak nakal itu akan terus membuat Esme terpojok.


"Sayang, kemarilah! Temani aku tidur. Jangan lupa kunci pintunya," pinta Bastian lagi.


"Hemm, aku harus mengganti pakaianku. Sejak tadi aku berkeringat sampai tidak nyaman."


"Pergilah. Jangan lupa lekas tidur," pesan Bastian.


Istri bandelnya itu butuh pengawasan khusus. Namun, Bastian sudah sangat mengantuk sehingga saat Esme keluar dari kamar mandi, pria tua itu sudah tertidur.


Esme segera mengganti lampu tidurnya menjadi remang-remang agar Bastian tidak terbangun lagi. Dia pun bergegas menuju ke kamar Axel. Tentunya harus dengan perlahan dan berhati-hati.


Seperti biasa, kamar itu selalu terbuka untuk Esme. Sesampainya di sana, ternyata Axel belum tidur. Dia memang sengaja menunggu kedatangan Esme.


"Akhirnya kau datang juga." Axel langsung menghujani Esme dengan pelukan hangat yang penuh dengan kerinduan.


"Gara-gara aku panik, sampai lupa memasukkan obat tidur untuk papamu."


"Ck, kau memang licik. Kau bisa membuat mansion yang penuh kedamaian ini menjadi peperangan. Lihat, bagaimana Axton berusaha keras untuk memisahkan kita. Papa dan kakek pun turut andil di dalamnya."


"Ck, kau harus menghargai usahaku. Cuma sampai kapan kita akan seperti ini terus, Axel? Aku sudah lelah harus sembunyi-sembunyi seperti ini. Apakah aku harus bercerai dari papamu?"


Axel menarik diri. Dia langsung duduk di sofa untuk menetralkan perasaannya. Dia juga meminta Esme untuk duduk di sebelahnya.


"Tidak akan mudah, Esme. Kita harus berjuang lebih keras lagi."


"Kau tidak ada rencana memiliki wanita lain, kan?"


"Tidak ada yang bisa menggantikanmu, Esme. Kecuali kita memilih opsi kedua."


"Opsi apalagi itu?"


"Kita butuh wanita pengganti. Maksudku, aku butuh seorang wanita kepercayaan yang akan membuat kita bisa bertemu terus-menerus."


Axel memikirkan satu wanita yang bisa dijadikan tameng sebagai kekasih bayangan. Di mana wanita itu akan bertugas untuk menjadi kekasih pura-puranya kemudian mengajak Esme dengan dalih jalan-jalan. Dari situ semua orang tidak akan mencurigai hubungan Esme dengan Axel lagi. Intinya mereka berharap bila Axel segera move on dari mama tirinya.


"Bagaimana kalau dia jatuh cinta padamu, Axel? Kau terlalu sempurna untuk ukuran pria seusiamu. Aku pasti akan cemburu. Selain itu, kalian pasti akan sering bersentuhan secara langsung. Aku tidak sanggup, Axel."


"Makanya aku memintamu memilih wanita itu. Pilih yang paling dekat denganmu dan mendukung semua rencanamu. Dari situ baru kita masuk opsi pertama."


"Apa lagi?"


"Lebih baik urus kegagalanmu hari ini, Sayang. Waktuku tidak banyak lagi. Aku harus segera merebutmu dari papa. Tolong segerakan dan carilah wanita yang tepat."


Ingatan Esme langsung tertuju pada Grace. Wanita yang saat ini bekerja di salon. Apalagi dia juga siap membantu apa pun yang dibutuhkan Esme sebagai wujud balas budinya di masa lalu.


"Aku bisa minta tolong teman dekatku. Kau sudah simpan nomor Grace, kan? Kita bisa mulai dari sana."