
Setelah selesai membacakan surat wasiat, pengacara itu pun segera undur diri. Dia tidak mau terlibat lebih jauh lagi dengan keluarga Bastian. Cukup sampai surat wasiat yang dibuatnya saja. Terlebih banyak anggota keluarganya yang menolak isi surat wasiat tersebut.
Axton memandang ke arah papanya. Wajahnya kesal, marah, dan benci. Harusnya Bastian membuang jauh-jauh Esme dari kehidupannya setelah papanya meninggal nanti.
"Papa seperti kehilangan akal sehatnya. Aku tidak percaya ini. Justru Papa malah memberikan kesempatan kepada Axel dan Esme. Papa pikir aku akan diam saja? Tidak, Pa! Sampai kapan pun aku menolak Esme yang telah membuat keluarga kita terpecah belah. Aku heran, sebenarnya Papa memihak siapa? Esme atau aku?" tanya Axton.
"Papa tidak memihak siapa pun, Axton. Tolong hargai apa pun keputusan papa. Lagi pula, siapa lagi yang akan merawat papa nantinya jika diberikan kesempatan untuk bisa menikmati kehidupan ini?" ujar Bastian.
Tidak ada yang bisa menggantikan Esme dengan mudah. Walaupun pernikahan yang mereka jalani saat ini sudah kacau karena hubungan Esme dengan Axel, tetapi Bastian mencoba bertahan. Dia yakin akan memiliki kesempatan untuk sembuh dan kembali hidup normal.
"Kalau begitu, kau pun harus menghargai keputusanku juga. Aku tidak akan pernah setuju kalau cucuku menikah dengan wanita ******. Di mana pun tempatnya, bagiku dia tetaplah ******," ujar Demian.
Kegagalan pertunangan Axel dengan Naomi tidak pernah membuat Demian menyerah. Dia terus mencari calon yang pantas untuk mendampingi Axel di kemudian hari. Biarkan Esme tenggelam dalam pernikahannya bersama Bastian.
"Kakek! Tolong jaga ucapanmu! Selama ini aku selalu menghormati Kakek, tetapi bukan seperti ini caranya. Coba posisikan Kakek berada di tempatku. Apa Kakek mau menjalani kehidupan sepertiku? Tidak, kan?" tanya Axel.
"Kau pikir aku juga mau berada di posisi seperti ini. Kau juga sudah mempermalukan aku. Apa kau lupa? Jika kau lupa, akan aku ingatkan kembali," balas Demian.
"Tidak perlu, Kek. Itu karena Kakek sendiri yang berulah."
"Sudah, Axel. Biarkan saja," ujar Esme menenangkan.
"Tidak bisa begitu, Esme. Sudah lama mereka merendahkanmu. Aku tidak bisa diam begitu saja. Apa mereka tahu alasannya? Tidak, kan? Mungkin Axton lupa kalau dialah penyebab semua ini terjadi."
"Itu sudah lama, Axel. Jangan kau ungkit lagi," balas Axton sengit.
Antara sedih dan senang, Axel dan Esme menerima keputusan dari Bastian. Itu akan menguntungkan jika Bastian tiada. Lalu, bagaimana jika Bastian kembali sembuh? Mereka akan mengalami banyak kesulitan lagi. Itu sudah pasti.
Beberapa hari kemudian, Bastian dinyatakan sembuh dan bisa kembali ke mansion. Esme bersama sopir yang menjemputnya. Padahal Esme sudah meminta Axel untuk pergi ke rumah sakit bersama, tetapi ditolak olehnya.
"Kenapa manyun begitu?" tanya Bastian saat berada di mobil menuju ke mansion.
"Axel tidak mau mengantarku menjemputmu," ujar Esme.
"Apa kau sangat mencintai putraku?"
Esme menoleh. "Aku tidak tahu, jawabanku akan menyakitimu atau tidak. Kalau ditanya, aku sangat mencintainya."
"Berikan kesempatan untukku bahagia. Setelah itu, terserah kau, Esme. Perjanjian akan berlangsung lagi setelah aku tiada nanti," ujar Bastian.
"Karena setelah aku tiada, yang berhak mendapatkanmu hanyalah Axel. Dia bisa menjadi pendamping yang baik untukmu."
Bastian seperti memberikan angin surga, tetapi dia juga memberikan beberapa pekerjaan yang membuat Esme selalu sibuk bersama Bastian. Terkadang pergi ke rumah sakit untuk melakukan check up. Kadangkala Bastian meminta Esme untuk menemaninya sepanjang hari. Mulai dari Bastian membuka mata hingga terlelap kembali. Sehingga Esme tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Axel.
Kesibukan Esme mengurus Bastian membuatnya kehilangan banyak waktu untuk sekadar menengok kabar Axel. Beberapa kali pria itu memilih pergi pagi dan pulang di malam hari. Saat mendapatkan kesempatan, Esme menunggu Axel pulang di kamarnya.
"Kau?" Axel terkejut saat mendapati orang yang dirindukannya selama ini sibuk dengan papanya.
"Aku ingin bicara denganmu."
"Lebih baik kau keluar dari kamarku! Urus saja suamimu itu. Lagi pula saat ini aku bukan prioritasmu, kan?"
Axel seperti menjaga jarak dengan Esme. Apalagi semenjak Bastian di mansion, Axel sudah menahan diri untuk tidak cemburu, marah, kecewa, sakit hati, dan degup jantungnya yang semakin tidak menentu.
"Axel, tolong mengertilah posisiku."
Esme berniat untuk bermanja-manja dengan Axel karena beberapa hari ini dia memang kelelahan dan tidak bisa datang ke kamar Axel seperti sebelumnya. Seolah Bastian sengaja membuatnya sibuk. Apalagi pada malam hari, Bastian minta tidur di pangkuan Esme. Bagaimana dia bisa keluar dari kamar lalu menemui putranya?
"Kau juga harus bisa mengerti perasaanku. Di meja makan kau terus saja fokus pada papa. Bahkan hari-harimu habis hanya untuk papa. Lalu, kapan kau punya waktu untukku?" tanya Axel.
Tanpa menunggu aba-aba, Esme segera memeluknya. Jika biasanya Axel melakukan hal demikian untuk menenangkan Esme, maka kali ini Esme melakukan hal yang sama untuk Axel.
"Axel, aku bisa apa? Bukannya kita sepakat untuk menunggu perjanjian wasiat kedua turun? Kita masih bisa berhubungan, Sayang. Kumohon, mengertilah posisiku."
"Sampai kapan aku harus menunggu, Esme? Kau pikir aku tahan tidak bersamamu barang sedetik pun? Ah, lupakan saja. Kau tidak memiliki waktu lagi untukku. Jangan pernah ikut campur urusanku. Mau aku pulang lebih larut lagi, aku tidak akan peduli. Jangan lagi kau hadir di dalam kamar ini," jelas Axel.
"Axel, jangan terus salahkan aku. Aku juga lelah mengurusi papamu sepanjang hari. Kau pikir kau juga tidak setres memikirkan hari-hari indah bersamamu, hah? Aku kadang ingin kabur dari kenyataan ini, tetapi aku masih percaya dengan kekuatan cinta kita. Tolong jangan buat aku dalam posisi terdesak seperti ini. Aku mencintaimu dan sampai kapan pun aku akan terus seperti ini, Sayang. Kumohon!" Kali ini Esme menggenggam erat kedua tangan Axel, tetapi pria itu malah menepisnya.
"Jangan temui aku dulu sebelum kau yakin memiliki waktu untuk membahagiakanku. Aku tahu itu sulit bagimu, tetapi aku ingin tahu seberapa besar cintamu padaku," ujar Axel mengusir Esme.
Esme meradang. Terlebih Axel sangatlah keras kepala. Susah sekali untuk dikendalikan seperti sebelumnya. Mungkin karena kekecewaan menunggu Esme yang tidak lagi datang ke kamarnya untuk memadu kasih dan membisikkan kata-kata cinta.
"Oh, begitu, ya. Apakah aku harus membunuh papamu dulu agar kau memberikan kesempatan itu kepadaku? Axel, hubungan kita ini sudah rumit. Jangan membuatnya semakin rumit lagi. Aku janji akan berusaha membagi waktuku untukmu dan papamu. Tolong hentikan pertengkaran dan kesalahpahaman ini," pinta Esme mengiba.
Axel tidak mudah percaya pada Esme sebelum wanita itu membuktikan seberapa besar cintanya. Dia pun harus bisa meluangkan waktu untuk Axel jika masih ingin terus bersama.