
Bastian dinyatakan koma oleh pihak rumah sakit. Hal itu menjadi pukulan telak bagi Esme. Walaupun dia tidak mencintai suaminya, tetapi kehidupan Esme bergantung padanya.
"Bagaimana kondisi papa? Apa sudah mengalami perubahan?" tanya Esme pada Axel yang saat ini sama-sama berada di rumah sakit.
Axel menggelengkan kepalanya. "Belum ada perubahan. Dokter mengatakan kalau benturan keras di kepalanya membuat dia koma. Namun, mengenai daya ingat, mereka belum bisa memastikan. Ada kemungkinan papa mengalami amnesia. Itu belum bisa dipastikan, Esme."
Walaupun di sana ada Axton, tetapi Esme hanya mau berinteraksi dengan Axel. Axton selalu memandangnya sebelah mata sehingga Esme tidak terlalu peduli pada anak bungsunya.
Demian tiba-tiba datang. Setelah sekian lama membangun tembok penghalang antara Axel dan Esme, kini dia datang untuk melihat kondisi Bastian.
Sebagai orang tuanya, Demian masuk lebih dulu ke ruang rawat Bastian. Sebenarnya mereka hanya diizinkan masuk satu per satu, tetapi Demian khusus meminta masuk bersama dengan Axton.
"Axton, mari temani kakek. Ada hal yang ingin kakek sampaikan padamu," ujar Demian pada Axton.
"Baik, Kek. Tunggu sebentar. Aku akan ke toilet, setelah itu aku akan menyusul Kakek," ujar Axton.
Demian masuk ke ruangan Bastian. Dia sudah menggunakan pakaian rumah sakit lengkap sebagai pengunjung ruangan khusus yang harus selalu steril.
Demian duduk di kursi. Lalu, dia mulai berbincang dengan Bastian yang masih belum sadar.
"Kau memang anakku yang pembangkang, Bastian. Harusnya kau menjadi sosok yang lebih baik. Kau harus belajar banyak dari Axel yang menurutku lebih baik darimu. Oh ya, sebagai orang tua, aku memang jahat. Namun, aku tidak ingin harta kekayaanmu akan menjadi milik istri jalangmu itu. Maka dari itu, kuharap kau bisa memahami papamu ini. Aku hanya akan memberikannya kepada orang lain. Kalaupun nantinya kau sembuh, aku tidak akan pernah mengubah surat wasiat itu. Karena aku yakin kalau Esme mengincar itu," jelas Demian panjang lebar.
Seharusnya Demian menanyakan kabar Bastian lebih dulu. Membicarakan hal-hal yang baik. Bukannya langsung membuat Bastian semakin tidak bersemangat untuk bangun.
Tidak lama, Axton pun menyusulnya ke dalam. Dia berdiri di samping brankar pasien papanya yang sedang koma. Dia berhadapan langsung dengan sang kakek, Demian.
"Kek, apa yang ingin kau bicarakan padaku? Apa ini tentang papa atau Axel?"
Demian menarik napas panjang. Dia melihat peralatan yang menimbulkan bunyi-bunyi kehidupan yang tidak pasti itu. Bila monitor menunjukkan garis lurus, itu artinya Bastian telah berakhir. Namun, monitor itu tetap berjalan dan bergerak lambat.
"Aku hanya mengantisipasi masa depan kalian, Axton. Aku sudah mengubah surat wasiat yang seharusnya untuk papamu, tetapi aku tujukan kepadamu."
"Benarkah? Kakek tidak bohong? Kenapa harus seperti itu?" tanya Axton masih tidak percaya.
"Karena aku tidak ingin wanita ****** itu mendapatkan peninggalan apa pun dari Bastian. Aku tahu Axel memang mendapat bagian yang sama denganmu, tetapi aku akan menghalangi wanita itu untuk bersatu dengan Axel. Kau akan mendukung kakekmu ini, kan?"
Tentu saja. Apalagi ini mengenai harta dan akan mendepak mama tirinya dari mansion. Namun, apabila papanya sembuh, kemungkinan Esme terdepak akan lebih lama lagi.
Setelah keduanya keluar dari ruangan Bastian, Axton masih penasaran dengan berapa bagian yang akan didapat. Sehingga dia pun meminta penjelasan dari sang kakek.
"Jadi, papaku tidak mendapatkan bagian sepeser pun dari warisan Kakek. Lalu, aku mendapat bagian berapa persen?"
Axton yang gila akan harta dan merupakan sosok yang konsumtif semakin terlihat bersemangat saat tahu mendapatkan warisan. Namun, dia juga perlu tahu bagian yang akan didapat.
Pembicaraan ini diketahui Esme yang kebetulan berada di belakang keduanya. Saat Esme berniat masuk lebih dulu sebelum pulang ke mansion. Sayang, rupanya dia mengetahui kalau Demian sama sekali tidak memberikan bagian warisan untuk sang suami.
Esme tidak menunggu waktu lama. Dia hanya menengok Bastian dan merasa kasihan pada pria tambun itu.
"Aku tidak mengerti pikiran orang tuamu, Bastian. Kau mendadak menjadi sosok yang tidak diharapkan. Bagaimana kalau kau tahu bahwa semua harta yang seharusnya untukmu, tetapi tak sepeser pun akan kau dapatkan. Aku harus menemui Axel," ujar Esme dengan suara pelan.
Axel sengaja pulang lebih dulu untuk menghindari sang kakek. Sementara Esme menitipkan penjagaan Bastian pada suster. Dia menyusul Axel yang kembali ke mansion.
Mengenai Axton, dia tidak akan mungkin pulang ke mansion hari ini. Apalagi Demian sudah memberikan jatah untuk masa depannya. Dia pasti akan pulang ke rumah Demian dan membayangkan rencana masa depan berfoya-foya.
Sesampainya di mansion, Esme segera menuju ke kamar putranya. Saat ini Axel sedang duduk di meja kerjanya yang ada di dalam kamar.
"Sayang, maaf aku langsung masuk," ujar Esme tanpa mengetuk pintu.
"Oh, Sayang. Aku kira maid yang masuk. Kalau mereka masuk tanpa permisi, aku bisa marah. Ada apa? Bagaimana kondisi papa?"
"Masih sama, Axel. Aku membawa kabar buruk untukmu. Jujur, saat aku mendengar pun sangat terkejut."
Axel berdiri. Dia merengkuh Esme ke dalam pelukannya. Cinta yang mereka miliki seolah tidak lekang oleh waktu ataupun keadaan.
"Kabar apa?"
"Papamu dicoret dari hak waris yang seharusnya untuknya. Dia tidak mendapatkan sepeser pun harta peninggalan Demian. Dia mengalihkan wasiatnya pada Axton. Selebihnya aku tidak tahu. Aku bingung, Axel. Bagaimana kalau papamu sampai tiada? Aku jelas tidak akan mendapatkan apa pun. Aku pasti akan hidup sebatang kara dan miskin," ujar Esme.
"Kakek pasti hanya mengalihkan warisannya kepadaku dan Axton. Dia tidak akan jauh-jauh dari para cucunya. Kau percaya padaku, kan?"
Esme mengangguk. Axel memberikan kecupan sejenak, tetapi Esme mendorong tubuh Axel.
"Kenapa? Apa kau mulai membenciku?"
Esme menggeleng. "Itu artinya kau harus menikah denganku, Axel."
"Aku juga berharap begitu, Esme. Namun, aku tidak mungkin kan mengakhiri kehidupan papaku? Bagaimanapun kondisinya, dia tetaplah papaku. Bagaimana kalau pada akhirnya papaku sembuh. Sejujurnya sebagai seorang anak, aku tidak akan menjadi orang yang jahat sehingga tega menghabisi nyawanya. Kalau aku tega, sejak dia jatuh dari tangga. Aku akan membiarkannya. Nyatanya aku masih memberi kesempatan padanya untuk hidup."
"Iya, Sayang. Aku pun tahu itu. Aku cuma berharap agar kau tetap bersabar dengan hubungan kita. Jangan sampai kau meninggalkanku saat seperti ini. Bagaimana kalau Demian tetap melanjutkan rencananya? Kita tidak akan pernah tahu, bukan? Apalagi dia cukup memiliki kekuatan itu untuk menjatuhkan lawannya dari satu sisi."
Kekhawatiran Esme jelas beralasan. Itu juga yang sedang ada di dalam pikiran Axel sekarang.
"Aku akan tetap bersabar menunggu hari untuk kita tiba. Aku pun akan menolak semua permintaan Demian. Tidak peduli kondisinya akan seperti apa nantinya. Hanya kau dan namamu yang ada di dalam hatiku, Esme."