
Berada di kamar seorang diri, Axel memijit pelipisnya. Rasanya dia ingin terbang ke langit dan tidak akan pernah kembali lagi. Semenjak perjodohan dengan Naomi diputuskan, seakan dunianya runtuh.
"Sial! Ini pasti gara-gara Axton. Aku tidak menyangka kalau dia akan selicik itu. Rupanya Esme benar. Dia selalu menganggap adikku adalah pria bajingan. Rupanya dia tidak senang melihat orang lain bahagia."
Axel menarik selimutnya. Ingin memejamkan mata pun terasa sulit. Bayangannya terus saja tertuju pada Esme. Mencintai mama tirinya sama saja bersabar menunggu dunia runtuh. Itu artinya, Axel tidak dapat memastikan kapan bisa merengkuh kekasihnya lalu hidup menua bersama.
"Cinta memang gila! Mengapa aku terjebak dalam cinta serumit ini? Mengapa harus Esme? Mengapa bukan wanita lain? Apa yang salah dengan diriku? Semakin aku mencoba lari dari kenyataan ini, dia seolah semakin mendekat."
Sementara Esme yang saat ini berada di dalam kamarnya pun merasa gelisah. Saat Bastian terlihat sudah lelap dalam tidurnya, Esme tidak tahan sehingga dia memutuskan untuk menemui Axel. Dia ingin agar Axel menolak perjodohan itu. Rasanya sangat sakit bila melihat orang yang dicintai bersanding dengan orang lain.
"Sayang, kau belum tidur?" tanya Esme yang baru saja masuk ke kamarnya.
"Aku sedang memikirkan rencana kakek, Esme. Aku juga dilema. Aku minta maaf atas kejadian siang ini. Aku tidak bermaksud membuatmu cemburu, tetapi aku pun cemburu melihatmu bersama papa."
Selama Axton tidak ada di mansion, kapan pun Esme masuk ke kamar Axel tidak akan ada yang peduli. Apalagi ini sudah larut, Bastian jelas sudah pergi ke alam mimpi.
"Kau pikir aku juga mau berlama-lama dengan papamu? Aku sangat merindukanmu, Axel. Bagaimana kalau rencana kakek, maksudku papa mertuaku itu berhasil? Kau pasti akan menikah dengan Naomi. Aku tidak sanggup melihat kalian hidup bersama. Apalagi sampai tinggal satu atap denganku. Aku tidak sanggup!"
Axel turun dari ranjang. Seperti sebelumnya, dia selalu memeluk Esme dengan sangat erat. Seolah pelukannya itu memberikan kekuatan tersendiri baginya. Dia harus punya jalan keluar agar terbebas dari belenggu perjodohan sang kakek.
"Apa aku harus pergi ke luar negeri lagi? Setidaknya sampai kakek menyerah."
"Dasar bodoh! Kau pikir aku akan kuat berlama-lama tanpamu? Aku bisa gila jika tidak melihatmu. Sedetik saja aku sudah frustasi!"
Esme meradang. Justru dengan Axel pergi ke luar negeri, Esme akan tersiksa di mansion suaminya. Tidak ada orang yang akan peduli padanya jika Bastian tidak berada di tempat. Apalagi Axton sudah menabuh genderang perang dengan menggandeng Demian.
"Justru aku yang semakin tersiksa, Esme!"
Esme kemudian meraih wajah Axel dengan menangkupkan kedua tangannya di sana. Rasa takut kehilangan dan cinta menggebu bisa dirasakan olehnya.
"Kenapa begitu, Axel?"
"Aku juga tidak sanggup melihatmu bersama papa, Esme. Mungkin mataku atau tubuhku bisa menerimanya, tetapi hatiku sangatlah rapuh. Sampai kapan hubungan kita terhalang oleh tembok setinggi ini? Kita saling mencintai, tetapi kau adalah istri papaku. Sementara Demian juga membuatku dalam kesulitan."
Esme menurunkan tangannya. Dia memegang erat kedua tangan itu seolah menyalurkan kekuatan bahwa mereka bisa melewati segalanya.
"Sabar, Sayang. Kita lewati bersama-sama, ya."
"Sayang, malam ini temani aku di sini. Izinkan aku lebih lama untuk bersamamu."
"Tapi Axel, papamu nanti–"
Axel membimbing Esme untuk naik ke ranjang. Di sana Axel membiarkan Esme duduk. Sementara Axel meletakkan kepalanya di atas pangkuan Esme. Dia memandangi wajah Esme sambil berbaring.
"Kau memang anak nakalku. Bahkan saat suamiku ada di mansion, kita bisa seperti ini terus."
"Hemm, papa juga tidak mungkin masuk ke sini. Dia pasti lelah seharian bekerja. Jadi, apa rencanamu ke depannya? Kepalaku semakin pusing saja."
"Mengapa kau tidak memberikan penolakan saja pada kakekmu? Atau mungkin kau bisa mengutarakan penolakanmu pada papa? Siapa tahu dia bisa membantumu dan mengerti bagaimana perasaanmu saat ini."
Cukup sulit dan rumit. Bagaimana kalau tiba-tiba papa menyarankan agar Axel membawa calonnya datang ke mansion? Padahal wanita pilihannya selama ini berada di mansion.
"Tidak mudah, Esme. Kakek merupakan sosok pria tua yang tidak bisa dibantah. Sementara papaku cuma bisa setuju saja atas saran kakek tanpa melihat keadaanku. Papa juga takut pada kakek. Wajar kalau pernikahan kalian disembunyikan dari kakek. Kalau Kakek tahu, sudah pasti kau tidak diizinkan menikah dengan papa."
Axel tidak bisa diam. Sambil memandang wajah Esme, tangannya menyentuh bibir Esme yang sudah menjadi candu baginya.
"Apa aku harus bercerai dari papamu?" tanya Esme.
"Itu tidak mungkin, Esme. Papaku sangat mencintaimu. Dia rela memberikan seluruh nyawanya hanya untukmu. Aku menyadari kalau papa menikahimu membuat hidupnya semakin berwarna. Sebelumnya papa tidak seperti itu. Dia lebih banyak diam dan tenggelam dalam dunianya sendiri. Sekarang, semenjak dia menikah denganmu. Dia berusaha membuatmu bisa dekat dengan anak-anaknya. Mungkin juga sebagai rasa bersalah papa telah membuatku dan Axton kehilangan kasih sayang seorang mama."
Giliran Esme mengecup kening putranya. Dia menundukkan kepalanya sampai bibirnya menyentuh kening itu lalu membiarkan beberapa detik berada di sana.
"Bagaimanapun keadaannya, aku tidak mau berpisah denganmu, Axel. Apa pun rintangannya, aku akan tetap bertahan," ujar Esme setelah kembali ke posisi semula.
"Aku pun demikian, Esme. Walaupun statusmu masih menjadi mama tiriku, jangan pernah terbersit niat untuk meninggalkan aku. Aku tidak mau dan tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Bagaimana kalau kita buat perjanjian cinta?"
Esme tidak mengerti. "Bagaimana caranya?"
"Walaupun banyak orang yang ingin memisahkan kita, bagaimanapun keadaannya, kita tidak boleh berpisah. Kalaupun Demian tetap bersikeras untuk menikahkan aku dengan Naomi, hubungan kita akan tetap berlanjut sampai kapan pun. Aku tidak peduli lagi dengan mereka. Apa kau bisa?"
Perjanjian macam apa ini? Semuanya sama-sama tersakiti. Bagaimana kalau Naomi tidak memberikan ruang bagi Axel untuk bersamanya? Esme bisa semakin tidak terkontrol.
"Itu sangat sulit, Sayang. Aku yakin kalau kau sampai menikah dengan Naomi, segalanya pasti rumit. Dia terlihat seperti mencoba menguasai dirimu. Bagaimana denganku?"
"Makanya kita buat perjanjian cinta ini, Sayang. Aku tahu kalau perjanjian ini sangatlah bodoh. Maksudku, tidak mudah hanya dengan berkata-kata. Kita juga akan memiliki kesulitan untuk bertemu. Sebelum itu benar-benar terjadi, maka luangkan waktumu untuk menemaniku, Esme. Malam ini tidurlah di sini, bersamaku."
Esme mau saja menemani kekasihnya. Apalagi sampai tidur di kamar yang sama. Namun, bagaimana kalau Bastian terbangun dan mencarinya?
"Aku tidak bisa, Axel. Cukup sampai perjanjian cinta itu. Aku akan mencoba memberikan waktu lebih untukmu, tetapi tidak untuk malam ini."
Hubungan yang rumit semakin banyak rintangannya. Namun, perjanjian cinta itu membuat keduanya semakin yakin bisa melewati segalanya.