Love Bombing

Love Bombing
Bab 28. Desakan Menikah



Walaupun mereka semua duduk di meja makan, nyatanya Axton masih memendam ribuan pertanyaan. Dia akan menanyakan setelah makan malam ini berakhir. Namun, nyatanya tidak semudah itu karena papanya ingin mengajak Grace berbincang seusai makan malam.


"Grace, jangan langsung pulang, ya? Aku ingin berbincang denganmu sebentar. Anggap saja sebagai seorang pria tua yang berharap belas kasihan wanita lain untuk anak sulungnya," ujar Bastian.


Sepertinya Esme dan Axel sudah mengetahui jalan pikiran papanya. Pria tua itu pasti akan meminta Grace untuk menjaga baik-baik hubungannya dengan Axel.


Grace seolah meminta pendapat pada Axel dengan memberikan kode pada pria itu. Ditambah lagi kode-kode samar yang ditujukan pada Esme sebagai pemilik hati Axel.


"Ah, iya, Pa. Aku akan tinggal beberapa jam sampai Papa izinkan aku pulang," ujar Grace dengan luar biasa.


Kalau cuma sekadar drama, Grace bisa melakukannya dengan sangat mudah. Esme sudah melatihnya dengan sangat baik. Terlebih ini untuk memuluskan masa depannya juga.


Seperti yang sudah disepakati, Grace akhirnya berada di ruang keluarga. Di sana juga ada anggota keluarga lengkap seperti di meja makan. Tampak Bastian yang mengecup tangan Esme sehingga membuat Axel sedikit merasakan kecemburuan.


"Papa ingin bicara apa sama Grace? Kenapa Papa malah bersikap romantis seperti itu di hadapan kami?" protes Axton. Walaupun dia tidak suka dengan keadaan seperti ini, bukan berarti Bastian bebas memperlakukan istrinya di mata anak-anaknya.


"Sebelumnya papa ingin mengucapkan terima kasih padamu, Grace. Kurasa kaulah satu-satunya wanita yang bisa meluluhkan hati putraku," ujar Bastian membanggakan Grace.


Sementara Esme, dia mencoba tetap menikmati permainan ini. Sebenarnya ada rasa nyeri juga saat suaminya membahas wanita lain yang tepat untuk Axel. Menurut Esme, cuma dia yang pantas untuk Axel. Bukan Grace atau siapa pun itu.


"Sama-sama, Pa. Aku juga bahagia sekali bisa memiliki Axel. Sebenarnya ini juga tidak mudah karena kami sangatlah jauh berbeda," ujar Grace. Seolah dia dan Axel sudah menjalin hubungan sejak lama.


"Jadi, kapan kau akan menikah dengan Grace?" tanya Bastian pada Axel.


Sontak Axel terkejut dengan ucapan papanya. Konsepnya bukan seperti ini. Kalau sampai mereka tidak bisa mengendalikan keadaan ini, habislah kalau mereka ketahuan berbohong.


"Tunggu kami siap, Pa," ujar Axel.


Sebenarnya agak rancu dengan kata siap. Axton tidak mau menyerah begitu saja saat tahu kakaknya memiliki kekasih, tetapi masih mengelak untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan.


"Jangan-jangan hubungan kalian ini settingan." Axton langsung menuding tanpa merasakan perasaan Axel seperti apa.


Esme, Axel, dan Grace bertarung dalam pikirannya masing-masing. Sebenarnya mereka melakukan ini untuk memuluskan rencananya, tetapi sepertinya Axton sudah mengendus aroma kebohongan terlebih dahulu.


"Axton, jangan bicara seperti itu. Papa akan mengambil sesuatu sebentar. Kalian bisa mengobrol sambil menunggu aku kembali," pamit Bastian.


"Jaga bicaramu, Axton! Grace itu tamu kita. Kekasih kakakmu. Kau selalu saja mencurigai setiap orang. Sepertinya kau juga sudah tidak memiliki kepercayaan diri sendiri sehingga mudah menuduh orang lain menipu. Bukannya kaulah penipu ulung itu?" ujar Esme kesal.


Inilah yang pasti akan terjadi bila Axton dan Esme berada di tempat dan waktu yang bersamaan. Pertengkaran tidak akan bisa dihindarkan.


"Axton, Mama, tolong jangan ribut di sini. Apa kalian tidak malu ada Grace di sini?" tegur Axel.


Tidak lama, Bastian kembali dengan kotak di tangannya. Pikiran Esme semakin cemas karena itu seperti sebuah kotak perhiasan. Entah, apalagi rencana suaminya?


"Apa itu, Pa?" tanya Axel.


"Ini adalah perhiasan dari leluhur keluarga kita, Axel. Papa sudah janji pada diri sendiri. Kalau kau menemukan wanita yang tepat, maka papa akan memberikan perhiasan ini padanya. Ini hanya akan dipakai oleh calon istrimu saja, Axel," jelas Bastian.


Hal itu menambah nyeri di ulu hati Esme. Dia dan Axel yang membuat rencana, tetapi Bastian malah mempersulit. Sementara Grace juga berada pada posisi tersulit saat ini.


"Jadi, maksud Papa itu untuk Grace?" tanya Axel memastikan.


"Ya tentu saja, Axel. Mana mungkin itu buat Esme," sahut Axton.


"Bisa Papa berikan kepadaku? Biar aku saja yang akan memberikannya kepada calon istriku nantinya," ujar Axel gugup. Sungguh ini menegangkan sekali. Jangan sampai Grace memakainya lalu akan terikat seumur hidup dengan kekasih pura-puranya.


Bastian tidak mau. Dialah yang harus memakaikan perhiasan itu untuk calon menantunya sendiri. Walaupun belum resmi bertunangan, saat Axel memutuskan untuk membawa satu wanita maka itu dianggap sebagai calon istri Axel.


Sementara Naomi saat itu mengapa tidak mendapatkan perhiasan yang sama seperti yang Bastian berikan pada Grace. Alasannya karena perjodohan itu diatur oleh sang kakek. Namun, acara itu tidak terjadi karena Axel menolaknya.


"Tidak bisa! Cuma papa yang bisa memberikannya," tegas Bastian.


Kalau Axel tidak bisa memaksa, harusnya Esme yang turun tangan. Minimal Grace juga punya cara untuk mengatasi keadaan ini. Tiga orang yang sebenarnya ingin menjebak, malah seakan terjebak dengan permainannya sendiri.


"Sayang, jangan paksa Axel kalau belum siap. Mungkin saja mereka baru kenal dan belum memutuskan ke jenjang selanjutnya. Biarkan saja perhiasan itu kau simpan atau berikan saja pada Axel. Biar dia yang memutuskan," sahut Esme untuk menyelamatkan kekasih sekaligus hubungannya.


"Nah, Mama benar, Pa," ujar Axel.


Sepertinya Esme benar. Bastian terlalu terburu-buru saja untuk memberikan apa yang seharusnya menjadi hak calon istri Axel.


"Grace, kau benar-benar mencintai putraku, kan? Kalau memang iya, segera putuskan untuk menikah. Jangan menunggu lama lagi karena aku ingin segera membuat pesta pernikahan megah untuknya," ujar Bastian.


"Kalau ini aku setuju, Pa. Axel harus segera menikah. Jika tidak, maka kakek akan mengambil alih perjodohan Axel dengan Naomi yang sempat bubar." Axton akan menjadi pemanasnya sampai Esme dan Axel menyerah. Axton bisa merasakan kecurigaan, tetapi belum bisa membuktikannya.


"Kalau itu, kau jangan khawatir, Axton. Kami akan menikah di waktu yang tepat. Percayalah karena kami saling mencintai. Iya kan, Axel?" sahut Grace.


Grace sengaja membelokkan arah supaya kecurigaan Axton menipis. Esme segera mengetahui hal itu dan setuju pada keputusan Grace. Dia memang terlihat lebih dewasa dan mampu mengalihkan perhatian dengan sangat cepat. Tidak salah Esme memilih Grace. Eşme harus bertindak lebih cepat kali ini.


"Wah, Kakak ipar. Kau sungguh luar biasa. Keluarga kami siap menantikan kehadiranmu dan masuk menjadi bagian dari keluarga ini. Aku benar-benar tidak sabar melihat Axel menikah," canda Axton yang sengaja ditujukan untuk membuat Esme marah.