
Demian segera datang ke rumah sakit setelah mendapat kabar kecelakaan cucunya, Axton. Dia sebenarnya sedikit terkejut karena seperti rencana sebelumnya kalau Axton lah yang akan menjemput Demian dan dibawa ke mansion.
"Bagaimana ini bisa terjadi, Axton?" tanya Demian saat semua orang berkumpul di ruang rawat.
"Kurasa ada yang sengaja menyabotase mobilku, Kek."
"Axton! Kau mulai lagi," geram Axel.
"Jangan menuduh tanpa bukti, Axton! Walaupun aku membencimu, tetapi aku masih punya hati untuk tidak melenyapkanmu dengan cara seperti ini. Tidak ada gunanya juga," imbuh Esme.
Tatapan mata Demian memindai satu per satu. Mulai dari Bastian, beralih ke Axton. Kemudian menatap Axel lalu berganti ke arah Esme. Seperti yang dilihatnya, setiap mata Demian berpandangan selalu mendapatkan respon yang berbeda-beda.
"Apa yang bisa kau buktikan sebagai sanggahanmu itu, Esme?" tanya Demian.
Sontak hal itu membuat Esme terkejut. Berarti tidak hanya Axton yang salah paham padanya, tetapi Demian juga. Pria tua itu seperti mencari celah untuk membuat Esme terjebak dalam suatu masalah yang sama sekali tidak pernah dilakukannya.
"Karena aku tidak melakukan apa pun. Jadi, aku pun tidak perlu membuktikannya." Esme yakin dan tegas.
Axel juga setuju dengan ucapan Esme barusan. Wanita yang dicintainya tidak mungkin melakukan hal sekeji itu. Apalagi sampai memiliki pikiran untuk menghabisi sang adik. Itu mustahil dan tidak akan ada di dalam otak Esme.
"Oh, ya? Bagaimana kalau kita lanjutkan kepada pihak kepolisian? Biarkan mereka yang melakukan tugasnya." Demian terus saja menyudutkan Esme sehingga membuat Bastian angkat bicara.
"Papa, cukup! Aku dan Axel sudah menegaskan kalau Esme tidak ada hubungannya dengan kecelakaan itu. Kalau Papa masih menyudutkannya, lebih baik Papa tidak pernah memiliki pikiran untuk tinggal di mansionku!" Bastian menatap tajam Demian.
Demian tetap tenang. Dia hanya tidak ingin salah langkah untuk mengambil keputusan ini. Setidaknya membuat Esme sibuk dengan pihak kepolisian adalah jalan terbaik untuk segera mendepaknya dari mansion dan juga Bastian yang ternyata benar-benar tidak bisa dipisahkan dengan Esme.
Wanita itu sudah membuat Bastian bertekuk lutut di hadapannya. Selain itu, rencana Bastian untuk memiliki anak dengan Esme mendapatkan penolakan dari Demian.
Esme sama sekali tidak tahu rencana Bastian itu. Padahal pria berumur itu sudah memutuskan untuk pergi ke rumah sakit dan memeriksakan kondisinya berikut dengan Esme. Dia menginginkan anak perempuan yang cantik.
Demian ternyata tidak main-main. Dia tetap melaporkan Esme pada pihak kepolisian dengan tuduhan melakukan sabotase pada kendaraan yang digunakan oleh Axton. Padahal Esme sendiri berencana untuk pergi ke luar negeri demi memuluskan rencananya dengan Axel.
"Maaf, Nyonya. Anda harus ikut kami ke kantor polisi. Anda akan diminta keterangan di sana. Apalagi memang tidak terbukti, barulah kami melepaskan Anda."
Hal itu membuat Axel meradang. Kakeknya benar-benar membuat Axel semakin benci dan kesal. Rencana yang sudah disusun matang harus gagal dengan sangat cepat.
"Kenapa harus aku? Aku tidak melakukan kesalahan apa pun!" tegas Esme.
"Nanti bisa dijelaskan di kantor, Nyonya."
Axel tidak sendirian. Dia butuh Grace untuk membantu mengawasi Esme dan pergerakan beberapa polisi yang mungkin bisa membuat Esme salah bicara.
"Axel, kenapa ini bisa terjadi? Aku baru tahu kalau ternyata kakekmu yang melaporkan Esme ke pihak kepolisian. Ini sungguh tidak bisa ditoleransi lagi. Esme sama sekali bukan wanita seperti itu. Apalagi tega melukai orang lain dengan cara licik seperti itu." Grace memang baru kenal dengan Esme, tetapi sebagai wanita yang pernah memiliki utang budi itu benar-benar paham betul siapa Esme sebenarnya.
"Makanya aku ingin kau mendampinginya selama berada di kantor polisi. Aku juga akan memastikan kalau kepergian kita ke luar negeri tidak akan terkendala apa pun."
"Iya, Axel. Kau harus cepat melakukannya. Ini juga bergantung pada masa subur Esme yang sudah dekat. Jangan gara-gara masalah ini semuanya menjadi kacau," ucap Grace mengingatkan.
Sementara Esme di kantor polisi dicecar banyak pertanyaan. Dia sama sekali tidak melakukan apa pun, tetapi salah satu pihak kepolisian itu seolah tetap mengintimidasinya dan menyudutkan bahwa Esme lah pelaku sebenarnya.
"Anda sudah gila, ya? Aku tidak melakukan apa pun. Bahkan kalau harus melakukan sabotase rem atau apalah itu, aku sama sekali tidak tahu. Aku hanya tahu perihal dapur, belanja, berhias, dan urusan yang berhubungan dengan mansion. Aku tidak selicik itu harus melakukan hal menjijikkan itu," sanggah Esme.
"Itu tidak akan membuktikan apa pun, Nyonya. Kita lihat saja sampai bukti pemeriksaan pada mobil itu keluar. Maka Anda pasti akan menjadi tersangkanya."
Esme dulu memang menjadi wanita yang polos, mudah dijebak, dan bahkan sampai dijual pada madam Stella. Sejak saat itu, Esme menjadi sosok yang tegas dan lebih berhati-hati. Pendewasaannya di tempat pelacuran membuat Esme tumbuh menjadi sosok wanita tegar dan tidak gentar menghadapi siapa pun.
"Kau terlalu percaya diri. Aku sama sekali tidak melakukan apa pun. Aku juga bisa menuntutmu dan membuatmu kehilangan pekerjaan berhargamu ini bila kau tidak jujur dan memihak orang yang salah. Ah, percuma juga aku bicara pada manusia sepertimu," tegas Esme.
Sampai pada kedatangan Axel dan Grace. Esme langsung menghampiri Axel dan meminta pria itu untuk melakukan sesuatu agar dirinya segera bebas.
"Mereka itu gila, Axel. Aku tidak bersalah, tetapi Axton dan kakekmu bersikeras menuduhku melakukan apa yang tidak aku lakukan. Aku ingin keluar dari sini dengan cepat. Apa kau punya ide?"
Axel juga menginginkan hal yang sama. Saat rencananya sudah disusun matang, Esme malah mengalami kendala seperti ini. Walaupun ini tidak bisa cepat, tetapi setidaknya Axel harus mencari celah.
"Akan aku lakukan sebisaku. Doakan aku, ya?" ujar Axel menyentuh kedua pipi Esme agar wanita itu semakin tenang.
Hal itu tidak luput dari pandangan Grace. Wanita yang menjadi kekasih pura-pura Axel itu menyadari betapa besar cinta Axel pada Esme yang saat ini masih berstatus sebagai mama tirinya.
"Kau memang wanita yang sangat baik dan luar biasa, Esme. Bahkan papa dan anaknya mengejar wanita yang sama. Aku pun beruntung memiliki dirimu," gumam Esme.
Sementara Axel sedang melakukan negosiasi pada pihak kepolisian untuk mengizinkan Esme pergi ke luar negeri. Agak sulit karena kasus yang menimpa Esme ini baru seperempat jalan.
"Anda harus mengizinkan mamaku pergi ke luar negeri. Kami ada pekerjaan di sana dan harus dihadiri olehnya. Aku bisa memberikan jaminan bahwa dia tidak akan kabur hanya karena tuduhan palsu ini," ujar Axel masih melakukan negosiasi.
Axel masih belum mendapatkan jawaban. Bagaimana kalau sampai pihak kepolisian tidak mengizinkan Esme pergi ke luar negeri? Semua rencana yang sudah disusun rapi oleh Axel akan sia-sia saja.