
Sudah menjadi kesepakatan bersama bahwa perhiasan yang seharusnya untuk Grace disimpan kembali oleh Bastian. Dia menunggu calon menantunya itu siap untuk menerimanya. Dia juga mendengarkan saran yang diutarakan istrinya, Esme.
"Kenapa kau senang sekali meminta Axel untuk segera menikah?" tanya Esme saat berdua saja dengan Bastian.
Sementara Axel mengantarkan Grace kembali ke tempat tinggalnya setelah perbicangan usai. Axel harus bertanggung jawab mengantar karena Grace datang ke mansion bersamanya.
"Biar aku segera memiliki cucu. Lagi pula aku juga tidak akan memiliki anak dari pernikahan kita, bukan?"
Esme syok mendengar penuturan Bastian. Selama ini Esme memang tidak ingin hamil. Apalagi mendapatkan keturunan dari pernikahannya. Justru dia menunggu waktu yang tepat supaya bisa hamil dengan Axel. Namun, itu tidak semudah rencananya.
"Aku tidak mau memiliki anak denganmu, Bastian. Kurasa kau terlalu tua untuk itu. Aku kasihan pada anakku nantinya. Kau paham kan apa maksudku?"
"Lalu, apa kau ingin pria lain yang akan memiliki anak denganmu? Jangan bilang kalau kau masih menginginkan Axel?"
Tuduhan Bastian ini jelas beralasan. Apalagi hubungan mereka pasti belum benar-benar berakhir. Sama halnya dengan keraguan yang dilontarkan oleh Axton.
"Kau selalu mencurigai aku, Bastian. Lebih baik kita akhiri saja pernikahan ini. Kau saja tidak bisa percaya padaku. Bagaimana aku bisa percaya padamu?"
"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menceraikanmu, Esme. Semakin banyak pria yang menginginkanmu, semakin erat pula aku akan memilikimu. Aku juga tidak peduli dengan Demian yang tidak akan pernah memberikan warisannya untukku. Perusahaan yang kumiliki saat ini sudah jauh berkembang pesat. Kalau untuk membahagiakanmu, itu masih lebih dari cukup. Setiap bulan aku akan memberikan uang belanja yang lebih banyak daripada sebelumnya. Kau mau tahu alasannya kenapa?"
Bastian seolah bermain teka-teki dengannya. Terdengar lucu sekali, tetapi Esme juga penasaran dengan alasannya.
"Apa?"
"Karena aku mencintaimu, Sayang. Kaulah satu-satunya wanita yang membuat hidupku jauh bergairah. Apalagi Axel yang akan menjadi pesaingku. Itu bukan masalah. Semakin dia mencintaimu, semakin erat aku akan memelukmu. Kalau bisa, aku pun ingin agar kita memiliki anak. Kau harus mau," jelas Bastian.
Sial! Esme harus segera bertindak. Jangan sampai niatnya untuk lepas dari Bastian malah membelenggu dirinya hingga akhir. Jangan sampai rencananya dengan Axel hancur begitu saja.
"Tidak, Bastian! Jangan paksa aku untuk melakukan hal yang sama sekali tidak aku inginkan. Kalaupun aku ingin memiliki anak, itu bukan denganmu. Jangan bermimpi terlalu tinggi. Lihatlah dirimu sendiri. Kau sekarang semakin tua dan tidak pantas memiliki seorang bayi. Semua akan mengira kalau kau adalah kakeknya, bukan papanya," jelas Esme tidak mau mengalah.
Kendala Esme saat ini belum bisa melepaskan alat kontrasepsinya. Dia harus menunggu waktu yang tepat sesuai dengan arahan dokter. Sementara hubungan palsu antara Axel dan Grace jangan sampai diketahui oleh Axton.
Sementara di tempat lain, Axel baru saja sampai di depan apartemen Grace. Dia tidak ikut mengantar Grace masuk karena sudah larut malam dan harus segera kembali ke mansion.
"Axel, adikmu itu sangat bahaya. Dia tidak percaya dengan hubungan kita," ujar Grace sebelum turun dari mobil.
"Kebohongan tidak selamanya akan bertahan kuat, Axel. Sewaktu-waktu pasti akan ketahuan juga. Saranku kau harus mencari opsi lain. Maksudku, kalau kau memang memiliki rencana, segerakan saja. Bisa juga kau minta Esme bercerai dari papamu sebelum semuanya kacau. Aku tahu kalau kalian saling mencintai, tetapi bertahan di mansion dengan orang seperti Axton akan membuat hubungan kalian rumit," ujar Grace.
Axel memijat pelipisnya. Satu-satunya cara sudah dipikirkan, tetapi kendalanya ada pada Esme. Bagaimana kalau Axel yang meminta langsung pada papanya? Apakah akan semakin rumit lagi atau malah lebih mudah? Selain itu, ketidaksetujuan sang kakek membuat Axel berada di persimpangan. Tidak hanya kakeknya, Axton merupakan musuh bebuyutan Esme yang sampai kapan pun tidak akan pernah berdamai.
"Kau pasti sangat pusing, Axel. Baiklah aku harus turun sekarang. Pikirkan lagi, ya. Tidak selamanya aku akan menjadi kekasih pura-puramu. Aku takut tidak bisa menahan diri, Axel. Kau paham kan kalau aku juga wanita normal yang bisa saja berada dalam kesalahan gairah semalam. Aku tidak mau menjadi pengkhianat Esme, tetapi aku juga tidak mungkin bisa bertahan lama berada di dekatmu. Sejujurnya pesonamu terlalu menarik di mataku. Pantas saja Esme tidak bisa lepas dari jeratan cintamu," imbuh Grace.
"Terima kasih, Grace. Kau memang teman yang baik."
"Tidak bisa selamanya, Axel. Ingat, ya. Aku juga wanita normal. Bagaimana kalau aku juga menginginkanmu? Itu pasti akan terjadi. Jadi, lebih baik kau harus segera mengambil sikap. Jangan sampai kehadiranku menjadi masalah untuk hubungan kalian." Grace tersenyum pada Axel lalu turun.
Axel memang mencoba mencerna ucapan Grace. Cukup simpel karena semua itu tergantung dari kebiasaan. Sama halnya saat Esme mendekatinya dulu. Axel sama sekali tidak ada niat untuk tertarik pada mama tirinya. Lambat laun Axel pun jatuh cinta. Bahkan dia rela melakukan apa pun demi bisa bersama dengan Esme.
Esme yang sedang berbincang dengan suaminya di dalam kamar mendadak meradang. Dia tidak bisa terima jika diperlakukan seperti itu. Esme ingin bercerai dari Bastian.
"Kenapa kau ingin bercerai dariku? Apa kau ingin kembali pada kehidupanmu yang mengerikan itu?"
"Tidak, Bastian. Aku hanya tidak suka tinggal di tempat seperti ini. Apalagi kau, Axton, dan Axel sudah menjadi orang lain untukku. Aku ingin hidup bahagia tanpa gangguan darimu ataupun Axton. Aku lelah."
Esme naik ke ranjang berniat untuk tidur, tetapi tertahan dengan ponselnya yang menerima pesan dari Grace. Sebelum Bastian melihatnya, Esme segera membuka pesan itu.
"Esme, jangan lama-lama membuat kebohongan ini. Aku takut tidak bisa menahan diri karena Axel sangatlah tampan di mataku. Segera putuskan kau bercerai dari suamimu atau bertahan dengan hubungan tanpa kejelasan seperti ini." Bunyi pesan dari Grace yang tentunya dibaca Esme di dalam hati. Dia tidak mungkin membaca pesan itu dengan lantang di hadapan suaminya.
"Pesan dari siapa? Axel?" tanya Bastian yang melihat perubahan mimik muka istrinya. Esme semula kesal, tiba-tiba mendadak berubah tersenyum setelah menerima pesan tersebut.
Tentu saja Esme tersenyum untuk Grace. Dia saja tidak tahan berhadapan dengan Axel. Apalagi Esme yang jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Kau selalu negatif thinking padaku. Aku hanya tersenyum membaca pesan dari teman lamaku saja. Tiba-tiba dia minta bertemu. Pasti kau tidak mengizinkannya, bukan?" ujar Esme mengalihkan pembicaraan.
Tentu saja mengekang Esme bukanlah cara yang tepat. Kalau mau hubungannya awet dengan istrinya, Bastian harus memberikannya ruang untuk menyenangkan hati istrinya asal tidak bertemu dengan Axel.
"Pergilah! Aku tidak akan melarangmu, tetapi jangan kacaukan kepercayaanku itu untuk bertemu dengan Axel."
"Oh ayolah, Bastian. Kau sangat lucu sekali. Bukannya kau selalu bersama Axel sepanjang hari di kantor? Mana mungkin aku bisa bersamanya?"