
Pagi harinya Bastian merasa tenang. Istrinya masih meringkuk di bawah selimut tebal. Terlihat sangat nyenyak sekali. Dia tidak tega saat ingin membangunkan.
Merasakan pergerakan di sebelahnya, Esme segera membuka mata. Dia melihat Bastian memandangnya secara intens.
"Kenapa melihatku seperti itu?"
"Tidak apa-apa. Rasanya aku ingin kembali ke kantor dan bekerja bersama Axel. Apa kau tidak keberatan?"
Esme memindahkan posisinya bersandar pada headboard ranjang. Dia menarik selimutnya agak ke atas untuk menutupi baju tidurnya yang berbahan satin dengan tali kecil.
"Terserah kau, Tuan Bastian. Perusahaan juga masih milikmu. Kenapa aku harus melarangnya?"
"Kupikir kau akan keberatan saat aku bersama Axel."
"Terserah kau. Dia juga anakmu. Cuma, hari ini aku ingin ke salon lagi. Kemarin aku lupa untuk merapikan rambutku. Sebenarnya ingin ganti warna juga. Apakah kau mengizinkan?"
Setelah mempertimbangkan berbagai aspek, Bastian mengizinkan. Lagi pula Esme tidak akan memiliki kesempatan bersama Axel saat Bastian juga berada di kantor.
"Tentu, Sayang. Pergilah! Oh ya, apa kau masih memiliki tabungan atau aku akan mentransfer sejumlah uang supaya kau bisa perawatan sekalian?"
"Benarkah? Sudah lama kau tidak memberikanku uang."
Selama Bastian sakit, semua keuangan diserahkan pada Axel. Jadi, Esme menerima transfer juga dari rekening perusahaan. Jumlahnya seperti biasa saat Bastian memberikannya.
Tidak lama, ponsel Esme berbunyi. Ada tanda pesan masuk. Itu merupakan bukti bahwa Bastian sudah memberinya uang.
"Terima kasih. Aku akan segera turun dan menyiapkan sarapan untuk kalian."
"Siapkan sarapan untukku saja. Axel biar diurus oleh maid. Aku akan mandi dulu dan bersiap."
Esme tidak peduli. Dia mau pergi ke salon karena ingin bekerja sama dengan Grace. Membuat setting kekasih palsu supaya Esme bisa terus dekat dengan Axel.
Esme turun untuk mampir ke kamar mandi yang lain. Cuma mencuci muka dan menggosok gigi. Tidak lupa dia menggunakan rangkap luar baju tidurnya biar tidak terlihat sangat seksi.
Rupanya Axel sudah duduk manis di meja makan. Dia sengaja bangun lebih awal dan bersiap karena semalam keduanya baru saja menikmati kebersamaan yang luar biasa.
"Pagi, Mama!" sapa Axel.
"Pagi, Sayang. Hari ini tidak ada sarapan untukmu. Kau bisa minta pada maid saja. Papamu memintaku hanya menyiapkan sarapan untuknya."
"Ck, bahkan dia masih pilih kasih padaku," ujar Axel memperlihatkan wajah kesalnya.
"Jangan bicara seperti itu. Hari ini papa juga akan pergi ke kantor bersamamu. Apa kau suka?"
Kabar membosankan apalagi ini? Sudah lama papanya tidak pergi ke kantor. Mendadak hari ini dia ingin pergi. Apa sebenarnya yang ingin direncanakan pria itu?
"Oh, tidak apa-apa, Ma. Aku bersyukur sekali. Setidaknya papa tahu perkembangan perusahaan semakin baik dari sebelumnya. Oh ya, apa kau tidak ikut juga ke kantor?"
Esme menggeleng. "Aku akan pergi ke salon. Oh ya, mama lanjut menyiapkan sarapan untuk papa dulu."
Sebelum Bastian datang, sarapan untuknya harus sudah siap. Sebenarnya tidak sulit menyiapkan sarapan untuk pria itu. Roti panggang dan beberapa daging yang dipanggang tanpa minyak.
"Nyonya, apa perlu dibantu?" tanya maid yang sedang menyiapkan sarapan untuk tuan mudanya.
"Tidak perlu. Kau urus saja Tuan Axel. Aku bisa menyiapkan sendiri untuk suamiku."
"Terima kasih karena kau tidak melanggar aturan papa."
Axel rasanya ingin tertawa. Semakin hubungannya dipersulit, Axel akan mencari jalan lain untuk mempermudah hubungannya.
"Tentu, Papa. Aku ingin melihat Papa dan Mama selalu bersama. Setidaknya di mansion aku masih mendapatkan perhatian dari Mamaku."
"Tetap jaga batasanmu. Kalau kau ingin menikah, papa akan mencarikan calon untukmu."
Telinga Esme rasanya kesal mendengar suaminya mau menjodohkan Axel dengan wanita lain. Dia juga harus tetap menjaga diri agar tidak keceplosan.
"Jangan terlalu mengekang anakmu, Pa. Dia sudah dewasa tentunya bisa menemukan calon istri sendiri. Jangan terlalu sering dijodohkan. Nanti kalau sudah bertemu dengan tambatan hatinya, tanpa diminta pun dia pasti akan bicara padamu."
Mendengar penuturan Esme, Axel semakin mencintai mama tirinya itu. Dia selalu pandai mengambil kesempatan dan memikirkan cara licik untuk kabur dari suaminya.
"Terima kasih untuk sarapan pagi yang luar biasa ini, Sayang. Tidak salah aku memilih menikah denganmu," ujar Bastian memuji Esme.
Untuk beberapa waktu ke depan, posisi Esme masih aman. Axton yang sangat kurang ajar itu sedang tidak berada di mansion. Dia ada urusan lain di luar negeri. Mungkin juga proyek yang diminta Demian. Esme sama sekali tidak peduli.
"Hemm, kalian lanjutkan sarapan. Aku akan bersiap. Aku juga harus booking perawatan pagi ini."
Para pria itu pergi begitu saja saat Esme sedang berada di kamar. Namun, dia tidak peduli. Dia hanya peduli pada kisah hidupnya yang bergelimang harta dan dikelilingi oleh pria tampan seperti Axel.
"Selamat pagi, Esme! Tumben rajin pergi ke salon. Apa suamimu yang memintanya?" tanya Grace.
Menurut informasi pemesanan, Esme memang ingin ditangani oleh Grace seharian ini. Mulai dari wajah sampai perawatan rambut.
"Ah, semakin hari aku dibuat pusing sama tingkah suami dan kedua anak tiriku."
"Itu karena kau selalu menebar cinta pada mereka. Madam Stella sebenarnya beruntung memiliki dirimu."
"Sudahlah. Jangan ingatkan aku pada masa lalu, Grace. Aku ingin bicara denganmu dan ini merupakan proyek besar. Maukah kau membantuku?"
Tentu saja Grace mau selama dia mampu melakukannya untuk Esme. Dia duduk di mejanya sebelum melakukan perawatan pada Esme.
"Apa yang bisa aku bantu?"
"Jadilah kekasih pura-pura anak tiriku, Grace. Kalau dia punya kekasih, suamiku tidak akan mencurigai hubungan kami. Kau paham, kan? Jadi, kita bisa pergi bersama. Anggap saja kalau aku adalah calon mama mertuamu."
Sebenarnya Grace ingin membantu, tetapi dia juga dilema. Rasanya sulit sekali harus berpura-pura. Terlebih anak tiri Esme itu sangat tampan. Grace takut tidak bisa menahan perasaannya.
"Bagaimana ini? Aku ragu, Esme. Aku takut tidak kuat menghadapinya. Bagaimana kalau aku jatuh cinta padanya?"
"Demi aku, kau pasti bisa melakukannya. Setelah aku hamil, kau bebas. Bayarannya lumayan. Akan aku mintakan 2 atau 3 kali gajimu berdasarkan yang kau dapat di salon ini. Kau masih bisa tetap bisa bekerja. Kami hanya membutuhkanmu saat ada sesuatu yang mendesak. Bagaimana?"
Mendengar kata uang berkali-kali lipat, Grace rasanya tertantang. Dia harus menjadi kekasih pria yang menjalin hubungan dengan teman baiknya, Esme.
"Aku akan membantumu, Esme. Kau wanita yang baik. Kau bayar berapa pun, aku mau. Tidak kau bayar pun, aku akan tetap menolongmu."
"Ah, terima kasih, Grace. Kau baik sekali. Terima kasih, Sayang." Esme langsung memeluk teman dekatnya setelah mendapat kata sepakat. Sebentar lagi hubungannya dengan Axel akan lebih mudah.