Love Bombing

Love Bombing
Bab 21. Esme Curiga



Memang benar kalau memperjuangkan itu lebih mudah ketimbang mempertahankan. Seperti saat ini Axel merajuk agar diperhatikan. Sementara Bastian tidak bisa ditinggalkan barang sedetik pun.


Esme terduduk di meja riasnya di dalam kamar bersama Bastian. Dia semakin banyak diam ketimbang cerewet seperti biasanya. Hal itu membuat Bastian sedikit heran.


"Kenapa kau lebih banyak diam sekarang? Apa kau sudah lelah merawatku?" tanya Bastian.


Esme berdiri kemudian duduk di samping ranjang. Semenjak kondisi Bastian masih dalam masa pemulihan, di sana sengaja diletakkan satu kursi untuk duduk dan terkadang digunakan untuk menyuapi Bastian.


"Putramu merajuk. Dia cemburu padamu dan marah padaku. Apa kau puas telah membuatku dalam posisi sesulit ini?" tanya Esme.


Bastian tersenyum. "Itu hanya sementara. Nanti dia juga akan melupakanmu."


"Apa maksudmu? Kau sengaja membuatku dalam dilema seperti ini, bukan?"


"Bukan aku, tetapi kalian sendiri. Harusnya kau tidak menjalin hubungan di belakangku. Lagi pula Axel adalah anakku. Kenapa kau tidak memandangnya lebih dulu?"


"Justru aku jatuh cinta pada pandangan pertama padanya, Bastian. Apa aku salah mencintai pria lain selain dirimu? Ingat ya, aku menikah denganmu bukan karena cinta. Aku benci pada Axton. Kaulah satu-satunya alasanku untuk bisa masuk ke dalam kehidupan pria bajingan itu."


Sampai kapan pun, Esme akan tetap membenci Axton. Terlebih Axton sudah bersekongkol dengan papa mertua Esme untuk memisahkan Axel darinya.


"Kenapa kau bertahan dengan pernikahan ini kalau kau menginginkan Axel?" tanya Bastian membuat Esme terdiam.


Sejujurnya Esme ingin mengakhiri hubungan ini dengan cepat, tetapi ada satu alasan yang membuatnya yakin bertahan.


"Aku tidak mungkin menceraikan suamiku lalu menikah dengan anak tiriku, kecuali–"


"Kau menunggu aku mati, bukan?"


Esme tersenyum. "Ya, seperti yang kau pikirkan. Tidak hanya itu saja. Hartamu juga penting untukku, tetapi sayangnya kau tidak mendapatkan sepeser pun dari Demian. Pria tua itu sengaja mengubah surat wasiatnya saat kau sakit. Lalu, apa yang akan kau wariskan padaku jika kau tiada?"


Bastian baru tahu kabar ini dari sang istri. Sebenarnya apa tujuan Demian mengubah semua surat wasiat yang seharusnya untuk Bastian. Namun, Bastian tetap akan memberikan bagian untuk Esme jika dia tiada nanti.


Daripada membuat istrinya kesal, kali ini Bastian memberikan kesempatan kepada Esme dan Axel untuk pergi ke kantor bersama. Tujuannya hanya untuk membuat Axel lebih semangat lagi bekerja. Akhir-akhir ini semangat kerjanya menurun. Mungkin ini saatnya Bastian mengalah sebentar.


"Aku malas bertengkar, Sayang. Hari ini kau pergi ke kantor bersama Axel. Temani dia. Jangan sampai dia merajuk dan membuat kekacauan perusahaanku."


"Ck, kau memanfaatkan aku untuk bisnismu sendiri, Bastian."


"Sayang, kesempatan hanya datang sekali. Kalau kau menolaknya, aku bisa berubah pikiran kapan pun sesuka hatiku," ujar Bastian memaksa Esme untuk menerima perintahnya.


Wajah Esme yang semula ditekuk, kini berubah semringah. Dia segera menuju ke lemari pakaian untuk mengambil baju formalnya yang akan digunakan untuk pergi ke kantor.


Esme segera pergi ke kamar mandi lalu mengganti pakaiannya. Tidak hanya itu, dia juga merias diri agar terlihat cantik di mata Axel.


Mereka kemudian menikmati sarapan pagi bersama. Cuma Axel sama sekali tidak memandang ke arah ibu tiri sekaligus kekasihnya itu. Axel masih kesal pada Esme karena diabaikan beberapa waktu terakhir ini.


"Axel, hari ini kau tidak akan ke kantor sendirian," ujar Bastian.


"Apakah Papa mau ikut bersamaku ke kantor?" tanya Axel setelah kebungkamannya selama ini.


Bagaimana mungkin Axel menolak kesempatan yang ditunggu selama ini. Biarkan dia dianggap sebagai pria perebut istri orang. Dia sama sekali tidak peduli. Terlihat jelas sekali senyuman tersungging di bibirnya walaupun tidak terlalu lebar. Dirinya masih berseteru dengan Esme.


Axel tidak menjawab, tetapi gestur tubuh yang ditunjukkan bahwa dia sama sekali tidak menolaknya. Justru pada saat berangkat ke kantor, Axel malah membukakan pintu mobil untuk Esme.


"Kalau kau perlu bantuan, jadikan Esme sekretarismu jika kau mau. Hari ini full akan menemanimu dan jangan bertengkar. Kalian pergi bekerja, bukan untuk melanjutkan keributan," pesan Bastian yang masih berada di kursi roda.


Sebenarnya Bastian bisa saja berjalan, tetapi fisiknya belum terlalu mampu untuk melakukan itu. Bahkan untuk sekadar melakukan tugasnya sebagai seorang suami.


"Baik, Pa. Terima kasih," ujar Axel kemudian langsung masuk ke mobil.


Sepanjang perjalanan, Axel masih tampak diam. Sementara Esme yang sudah merindukan anak tirinya itu sudah tidak sabar untuk berbincang seperti dulu lagi. Di mana keduanya saling mencintai tanpa memandang posisinya di dalam keluarga.


"Sayang, apa kau tidak senang kalau aku setiap hari ikut ke kantor bersamamu?"


"Kau sengaja merayu papa agar diizinkan pergi bersamaku, bukan? Licik sekali!"


Tuduhan Axel jelas beralasan. Apalagi ini bukanlah hal biasa yang membuat Bastian mengizinkan Esme pergi meninggalkan dirinya. Padahal sebelumnya tidak diberikan kesempatan untuk dekat dengan Esme.


"Tidak. Dia yang memintaku untuk ikut denganmu."


Tentu saja hal itu membuat Axel menepikan mobilnya. Pendengarannya masih belum percaya bahwa Bastian meminta Esme untuk pergi ke kantor bersama Axel. Apalagi Bastian juga sudah tahu bagaimana hubungan yang terjalin di antara keduanya.


"Serius? Kau tidak bohong?"


Esme menggeleng. Dia terus memandangi Axel yang terlihat berbeda. Dia membiarkan bulu-bulu halus tumbuh di rahang kokohnya. Rambutnya pun dibiarkan panjang tanpa mau merapikannya. Intinya, perubahan Axel terjadi saat Esme tidak memberikan perhatian kepadanya.


Esme segera menyentuh rahang kokoh itu. Tentu saja sentuhan kerinduan dan penuh dengan cinta. Pandangan matanya pun beradu mengisyaratkan bahwa cinta mereka masih ada dan belum berakhir.


"Kenapa kau biarkan ini tidak terawat, Sayang? Apa gara-gara aku sibuk dengan papamu sehingga membuat kau berubah seperti ini?"


"Aku ingin kau yang mencukurnya, Sayang. Apa aku salah kalau cemburu pada papa sendiri? Apa aku harus bersaing secara sehat untuk merebut apa yang seharusnya menjadi milikku?"


Tangan Axel meraih tangan Esme yang sedang berada di rahangnya. Begitu kuat dan penuh dengan gairah cinta yang membara.


"Aku akan merebutmu dari papa," imbuh Axel yakin.


Cintanya pada Esme benar-benar buta. Dia sampai tidak bisa mengendalikan diri karena cemburu pada papanya. Sekarang semua harus berubah karena rencananya.


"Itu tidak akan mudah, Sayang. Bastian tidak akan menceraikan aku dan kau juga harus melawan kakek serta adikmu."


"Aku bisa melakukannya dengan caraku," ujar Axel yakin.


"Apa itu, Axel? Apa kau berniat untuk membuat papamu–"


"Kau pikir aku akan menjadi pembunuh, Sayang? Tidak akan kulakukan hal sekeji itu, Sayang. Aku punya cara yang lebih baik dari itu. Jadi, tunggu tanggal mainnya."


Wajar kalau Esme curiga. Hubungannya bisa berlanjut bila Bastian telah tiada. Apalagi kalau niat buruk untuk menghabisi papanya sendiri. Esme jelas tidak akan pernah mengizinkan hal itu terjadi. Sama saja mengantarkan perpisahan pada hubungan mereka.