
Bukan Esme rasanya jika tidak memiliki ribuan cara untuk lepas dari jeratan Bastian. Dia meminta izin pada suaminya untuk pergi ke salon kecantikan. Sudah lama sekali dia tidak menyenangkan diri sendiri.
"Kau boleh membuatku terpenjara dalam sangkar emas, tetapi aku ingin pergi ke salon. Apa kau mengizinkannya?" tanya Esme.
"Tentu saja, tetapi kau tidak boleh bertemu dengan Axel. Walaupun itu di mansion ini atau di mana pun," ujar Bastian.
"Tentu. Kau bisa pegang ucapanku," ujar Esme.
Sesegera mungkin dia harus sudah sampai di salon kecantikan yang dituju. Tanpa banyak basa-basi, Esme segera menemui orang yang sudah menjadi kepercayaannya selama ini.
"Esme? Apa kabar?" sapa wanita itu.
"Oh, Grace, aku baik. Oh ya, aku ke sini ingin meminta bantuanmu. Kau bisa kan? Aku ingin perawatan seluruh tubuhku, cuma masalahnya aku ada keperluan lain di luar. Aku ingin meminjam beberapa perlengkapan untuk menyamar. Nanti aku akan kembali secepatnya," ujar Esme.
"Tentu saja, Sayang. Sudah lama kita tidak bertemu. Aku berutang banyak kebaikan padamu."
"Kau juga bisa pastikan kalau ada orang yang mencariku, katakan kalau aku masih ada di dalam."
"Tentu, Sayang."
Tanpa menunggu lama, Esme sudah berubah total. Tidak akan ada yang bisa mengenalinya dengan penampilan gendutnya. Mereka pasti mengira kalau wanita itu memang memiliki masalah dalam bentuk tubuh.
Tujuan Esme kali ini adalah ke rumah sakit. Dia harus segera melepaskan alat kontrasepsinya. Tidak hanya itu, dia harus menyiapkan beberapa obat tidur untuk suaminya. Jika tidak dilakukan seperti itu, Axel pasti akan kecewa.
Sementara Axel saat ini sedang berada di kantor. Baru kemarin menikmati kebersamaan dengan sang kekasih, hari ini seperti kehilangan segalanya. Axel dilema.
"Saingan terberat mencintai mama tiri adalah papaku sendiri. Sampai kapan aku terperangkap dalam posisi seperti ini? Papa sama sekali tidak mau mengalah. Sementara rencanaku untuk menghamili Esme cuma sekadar wacana saja. Itu tidak akan mungkin terjadi," gumam Axel sambil memandangi tumpukan berkas.
Pikirannya kacau sehingga dia tidak bisa memegang satu berkas pun. Bayangan Esme terus menari indah di pelupuk matanya. Andaikan Axel bisa berjuang lebih keras lagi, dia pasti akan bisa hidup bersama Esme selamanya.
"Apa aku bawa kabur saja ke luar negeri? Setidaknya jauh dari papa dan yang lainnya."
Axel memutuskan untuk mondar-mandir ke sana kemari tanpa mengerjakan apa pun. Padahal dari salah satu berkas itu adalah milik klien penting. Esok dia harus mengikuti meeting yang sudah dijadwalkan sejak seminggu yang lalu.
"Ah, aku tidak menemukan jawaban apa pun. Sedang apa Esme? Apakah dia sedang ... ah, bayangkan saja membuatku sesak. Harusnya Esme lekas hamil dan kami akan menikah. Kalau papa tidak berhasil, biarkan aku saja."
Wanita yang saat ini sedang berjuang untuk melepaskan alat kontrasepsinya terhalang masalah. Dokter tidak bisa melepaskannya hari ini. Perlu waktu lagi sampai Esme mendapatkan menstruasinya lagi.
"Dokter yakin tidak bisa dilepas hari ini?"
"Tidak bisa, Nyonya. Tunggu Anda mendapatkan jadwal menstruasi dulu. Baru bisa kita lepas."
Rasanya sia-sia Esme harus bersembunyi seperti ini. Menunggu waktu yang dimaksudkan dokter pun dia tidak tahu kapan. Siklusnya kali ini tidak bisa diprediksi.
Tidak mendapatkan hasil, sesegera mungkin Esme kembali ke salon. Jangan sampai diam-diam Bastian mengawasinya. Dia harus lebih cerdik dari suaminya.
"Cepat sekali, Esme?" tanya Grace.
"Aku barusan dari rumah sakit, Grace. Aku ingin melepas alat kontrasepsiku. Sayang, itu tidak bisa dengan mudah. Harus menunggu siklus bulananku datang," ujar Esme kesal.
"Apa kau siap punya anak dengan suamimu?"
Grace hanya tahu jika alat kontrasepsi ini sudah terpasang sejak Esme bekerja di tempat madam Stella.
"Tidak."
"Lalu?"
"Aku jatuh cinta pada anak tiriku, Grace."
"Oh, Esme. Rumit sekali kehidupanmu, Sayang. Semoga saja kau bisa berbahagia."
"Thank you, Grace."
"Grace, boleh aku pinjem ponselmu? Aku cuma khawatir saja kalau ponselku dalam pengawasan suami tuaku itu."
Grace tertawa. "Kurasa pesonamu menjadi anak buah Madam Stella tetap bersinar. Buktinya kau diperebutkan antara suami dan anakmu sendiri."
"Kau ini bicara apa, Grace? Cinta memang datang di saat yang tidak tepat," ujar Esme sambil mengetikkan nomor ponsel Axel.
Ponsel Axel berdering. Dilihatnya dari nomor yang tidak dikenal. Baru kali ini ada orang lain yang menghubungi dengan nomor asing. Axel sengaja membiarkan panggilan itu sampai bunyi dering ponselnya berakhir.
Axel pikir panggilan itu hanya sekali saja. Namun, nomor itu kembali menghubunginya. Axel semakin penasaran dan memutuskan untuk segera mengangkat panggilan tersebut.
"Halo."
"Oh, akhirnya kau angkat juga, sayang. Aku merindukanmu," ujar Esme dengan suara manjanya.
"Esme, kau di mana? Aku juga merindukanmu."
"Aku di salon, Sayang. Jangan datang ke sini. Aku pasti akan mencari kesempatan untuk bertemu denganmu. Bersabarlah dulu. Aku akan mencari cara supaya bisa seperti dulu lagi."
"Iya, Sayang. Apa aku boleh menyimpan nomor ini? Siapa tahu saat aku terjepit ini akan berguna."
"Simpan saja, Sayang. Ini nomor ponsel temanku, Grace namanya. Kau bisa simpan pakai nama itu."
"Tentu, Sayang. Andaikan papa tidak melarangku bertemu denganmu, aku tidak akan segila ini. Kau tahu sejak pagi aku belum mengerjakan apa pun. Moodku berantakan, Sayang."
"Hei, aku tidak suka kau menjadi pemalas, Sayang. Kerjakan secepatnya. Malam ini aku akan mencoba menyelinap dan masuk ke kamarmu. Oke, Sayang?"
"Benarkah?" Axel sangat merindukan kebersamaan itu.
"Aku tidak janji, Sayang. Aku akan mengusahakannya. Sudah dulu ya, aku sedang perawatan."
"Hemm, aku mencintaimu, Esme."
"Aku juga, sayang. Peluk dan cium dariku."
Hanya karena panggilan telepon saja mampu meningkatkan gairah Axel dalam bekerja. Sesegera mungkin dia menyelesaikan berkas yang sempat ditunda karena malas mengerjakannya.
Sementara Grace melihat betapa cintanya Esme pada anak tirinya. Dia pun memberikan saran kepada Esme.
"Kau sangat cinta padanya. Mengapa tidak meminta cerai saja dari suamimu?"
"Sulit, Grace. Kehidupanku bergantung pada mereka. Semua fasilitas yang kuterima juga berasal dari suamiku."
"Lalu anakmu?"
"Dia bekerja di perusahaan papanya. Warisan dari kakeknya juga belum turun karena pria tua itu masih hidup. Sebenarnya kami ingin kabur ke luar negeri, tua bangka itu pasti akan mencari kami."
"Siapa? Suamimu?"
"Bukan, tapi papa mertuaku."
"Kalau sudah begini, aku tidak bisa memberikan saran lagi, Esme. Cuma kalau posisinya terjepit seperti itu, kau harus lebih hati-hati lagi. Kalau kau perlu bantuanku, aku akan usahakan."
"Ah, Grace! Aku sungguh terharu. Terima kasih."
"Tentu, Esme. Kau sudah baik padaku. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu itu," ujar Grace.
Grace dulunya juga teman dekat Esme di tempat madam Stella. Grace hampir saja meregang nyawa saat melayani pria yang memiliki fantasi di atas rata-rata. Kebetulan saat itu Grace hanya dekat dengan Esme. Sebelum Grace pergi bersama pria itu, Esme lah yang diminta untuk mengikutinya. Sampai pada malam itu, pada akhirnya Esme mendapatkan hukuman dari madam Stella.