Love Bombing

Love Bombing
Bab 8. Kepergok



Bastian rupanya betah berlama-lama di luar negeri. Dia mengirimkan pesan pada Esme untuk tidak mengkhawatirkannya. Dia juga diberitahu untuk merawat dan memantau kondisi Axel dengan baik.


"Ada apa, Sayang?" tanya Axel yang memeluk Esme dari belakang.


Esme sedang membaca pesan yang diterima dari Bastian. Agak lucu juga. Semakin lama Bastian berada di luar negeri, kisah cinta Axel dan Esme berjalan lancar.


"Suamiku masih menambah liburannya di luar negeri. Itu bagus bukan untuk hubungan kita?"


"Hemm, papa memang pria yang gila kerja. Semenjak memutuskan untuk bercerai, mama tidak pernah tahu lagi di mana keberadaannya. Apalagi meninggalkan aku dan Axton yang masih sangat kecil."


"Bagaimana denganmu, Sayang? Apa kau juga gila kerja seperti papamu?"


Esme melepaskan pelukan, meletakkan ponselnya di atas nakas, kemudian beralih menatap wajah Axel. Axel langsung merengkuh Esme ke dalam pelukannya lalu menghirup aroma parfum yang selalu menjadikan candu.


"Kenapa posisi kita seperti ini, Esme? Harusnya kau bertemu dulu denganku, bukan papa," sesal Axel.


Esme menyandarkan kepalanya di dada bidang Axel. Pelukannya cukup hangat untuk orang yang pernah terluka. Sikap dinginnya perlahan mencair dan berganti cinta yang sangat menggebu-gebu. Esme mampu merasakan debaran jantungnya yang berdetak lebih cepat saat bersamanya.


"Harusnya aku tidak bertemu dengan pria bajingan itu, Axel. Kau tahu, penderitaan apa yang kualami? Aku harus menjadi pemuas ranjang para pria hidung belang. Bahkan terkadang mendapatkan pelanggan yang memiliki fantasi di atas nalar. Kadang untuk mencapai kepuasan, aku disiksa. Namun, aku memang menerima bayaran yang lumayan tinggi sehingga madam Stella selalu menganggapku sebagai keberuntungan."


"Maksudmu pria bejat itu adalah adikku, Axton?"


"Ya. Kau pikir siapa lagi?" Esme menghela napas berat.


"Bagaimana rasanya melakukan percintaan tanpa cinta?" tanya Axel membuat Esme mendongak.


"Aku merasa seperti menjadi seorang robot atau semacam manekin yang diperlakukan harus menuruti apa kata lawan mainku. Madam Stella selalu mengajarkan padaku untuk tidak sampai hamil. Kadang aku mencoba kabur dari pelanggan yang mengerikan itu, tetapi madam Stella selalu menghukumku untuk bekerja lebih banyak lagi. Sehari aku harus menerima tamu dari hotel ke hotel."


Axel mencoba menahan diri untuk tidak terbawa suasana. Dalam hatinya memang patut menyalahkan Axton. Namun, semenjak kedatangannya, Axel sendiri belum bertemu lagi dengan Axton.


Axel mengelus puncak kepala Esme, membenamkan lebih dalam lagi ke dada bidangnya, dan seolah merasakan kesakitan yang Esme alami saat itu. Kalaupun sekarang Esme menjadi sosok wanita yang barbar, yang seharusnya disalahkan adalah Axton.


"Kenapa kau mencintaiku?" tanya Axel membuat Esme mengangkat kepalanya lalu menatap ke arahnya.


"Cinta tidak pernah pandang tempat, usia, dan status kita, Axel. Aku merasa tidak bahagia dengan pernikahanku bersama Bastian, tetapi aku cukup sadar diri bahwa Bastian lah yang mampu memberikan segalanya kepadaku. Lalu, kau datang dan membuat darahku berdesir. Kaulah cinta pertamaku, Axel. Apa aku salah untuk mendapatkan cintaku? Lalu, mengapa kau membalas cintaku? Sedari awal kau sangat membenciku, bukan?"


Kenyataannya memang seperti itu. Axel seringkali memaki, marah, dan mengusir Esme dari sisinya. Namun, Esme tidak pernah menyerah. Dia menjadi satu-satunya wanita yang terus mengejarnya tanpa lelah hingga Axel pun menyerah dan menerima cinta mama tirinya.


"Aku seperti karang yang terkikis ombak, Esme. Aku karangnya dan kaulah ombaknya. Kau terus menghujani aku kasih sayang, cinta, dan semua perlakuan manismu itu. Pria mana yang tidak akan mau menerima wanita sepertimu? Bahkan papaku saja sangat mencintaimu, bukan? Dia memberikan limpahan kasih sayang dengan menjadikanmu sebagai istri."


Esme semakin mengeratkan pelukannya. "Hanya saja aku tidak mencintai Bastian, Axel. Terkadang aku seperti seorang pelacur yang harus memuaskan hasrat pria tambun itu. Ingin rasanya menjerit dan menolak, tetapi dia tetap suamiku. Aku hanya ingin membuat Axton merasakan penderitaan yang pernah aku alami sebelumnya."


"Apakah kau merasa puas dengan balas dendammu itu?" tanya Axel yang mulai menciumi ceruk leher Esme dari depan.


Axel tampak berpikir. Sebenarnya hubungan ini sejak awal sudah salah. Pasti akan mendapatkan penolakan dari berbagai pihak. Terutama Axton. Apalagi Axton pasti sangat membenci Esme seperti yang dilakukan Axel saat pertemuan pertamanya.


Axel membimbing Esme dengan merebahkan tubuhnya di ranjang. Sementara Axel sendiri duduk memangku kepala Esme yang sedang terbaring itu.


"Apakah kau ingin bercinta denganku?" tanya Axel membuat Esme mendongak menatap wajah kekasihnya.


"Kau merayuku?"


Axel menggeleng. "Tidak, Esme. Kau tidak pernah merasakan hubungan dengan cinta, bukan? Bagaimana kalau kita mencobanya? Kau dan aku sama-sama saling mencintai. Mungkin kita bisa menyalurkan hasrat dengan perasaan. Setelah itu, aku yakin kau akan menikmati segalanya. Kau pasti akan merindukan saat-saat seperti itu."


Masih dengan tatapan mendongak. "Apa kau tidak malu bercinta dengan mama tirimu, Axel?"


Axel menggeleng. Cinta membutakan status hubungan yang sebenarnya. Axel sudah tidak peduli lagi dengan siapa dia menyalurkan hasratnya. Apalagi Esme adalah sosok yang dia cintai.


"Anggap saja kau memberikan kehangatan untukku, Esme."


Esme bangun lalu duduk di pangkuan Axel. Dia pun langsung memagut bibir lawannya hingga menimbulkan suara-suara indah. Tangannya sudah bergerilya ke mana-mana untuk melakukan tugasnya.


Esme sangat menikmatinya. Keduanya tanpa sadar sudah sama-sama polos. Axel melihat keindahan terpancar dari tubuh Esme. Bayangan kesakitannya atas apa yang dilakukan para pria yang memiliki fantasi di luar nalar itu membuat Axel memperlakukannya dengan sangat hati-hati.


Penyatuannya pun membuat Esme tidak lagi mampu mengucapkan kata-kata kesedihan. Hanyalah bunyi-bunyian indah yang bersahutan. Bulir-bulir keringat pun mulai mengucur deras dari keduanya.


Kejadian itu seolah begitu cepat. Hingga sebuah suara mengejutkan mereka.


"Apa yang kalian lakukan?" Suara Axton mengejutkan sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Bahkan keduanya sama-sama belum mencapai ******* hingga Axel menyudahi permainannya.


"Axton?" ujar keduanya bersamaan.


"Jadi, ini yang kau lakukan selama di mansion, Esme? Kau memang wanita ******! Dasar murahan!" bentak Axton.


Axel turun dari tubuh Esme kemudian menutup tubuh wanitanya dengan selimut. Setelah itu, Axel mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai. Beruntung Axton langsung menutup pintu kamarnya karena setiap kamar di mansion kedap suara.


"Jangan salahkan Esme, Axton. Aku yang memintanya. Bukankah kau telah menjualnya pada madam Stella? Apa aku salah kalau menginginkan tubuhnya?"


"Kau tidak salah, Kak. Dialah yang salah. Harusnya dia malu untuk melakukan itu dengan anak tirinya. Menjijikkan!"


"Jaga bicaramu, Axton! Kau yang sudah membuatku rumit. Mengapa kau selalu membuatku berada dalam posisi sulit? Awas saja kalau kau sampai mengadukan pada Bastian. Aku tidak akan segan untuk membuatmu tidak bisa keluar dari mansion ini," ancam Esme.


Keduanya kepergok Axton. Namun, Axton tidak akan mengadukan Esme dan Axel pada papanya. Pria tambun itu pasti masih terperdaya oleh rayuan maut Esme. Axton harus mencari lawan yang imbang untuk membalas semua perbuatan Esme maupun kakaknya.