Love Bombing

Love Bombing
Bab 27. Terkecoh Permainan



Semua orang tentunya heran dengan rencana Esme mengadakan dinner di mansion. Setelah suaminya bisa kembali bekerja, mendadak dia membuat keputusan yang mengejutkan. Tidak hanya itu, kembalinya Axton pun tidak luput dari rencana besar Esme.


"Bukankah setiap hari kita selalu makan malam bersama?" tanya Bastian heran.


"Kan mumpung Axton dan Axel ada di rumah. Apa salahnya aku membuat acara keluarga. Tidak masalah, kan?"


Bastian semakin senang tatkala tahu istrinya sudah kembali fokus mengurus keluarga. Sejak dari salon dan mengubah warna rambutnya, Esme terlihat lebih cantik. Bahkan dia terlihat semakin cantik seperti remaja belasan tahun.


"Baiklah, Sayang. Aku semakin mencintaimu."


Bastian tidak tahu saja kalau Esme dan Axel sengaja memasukkan pemain baru untuk melancarkan hubungannya. Malam ini dia sengaja menghadirkan Grace agar kecurigaan Axton dan Bastian semakin memudar. Selain itu, Grace dan Esme sudah sepakat kalau sewaktu-waktu pihak keluarganya merasa ragu, maka Axel harus bertindak lebih romantis lagi. Esme tidak keberatan.


Segala persiapan diurus oleh Esme bersama beberapa maid. Tidak hanya itu, Esme juga memesan gaun malam yang paling cantik dari butik langganannya. Dia juga membelikan untuk Grace dan mengirimkannya ke salon.


"Tumben kau peduli pada mansion ini?" tanya Axton yang merasa perubahan Esme terlihat aneh dan sangat mencolok.


"Kau ini memang aneh, Axton. Aku berbuat salah, kau anggap salah. Aku berbuat benar pun masih kau anggap salah. Apa sebenarnya maumu? Masih mau dihukum lagi? Aku bisa saja minta pada papamu."


"Ck, dasar tukang adu domba! Aku tidak akan pernah membiarkan kau melakukan hal buruk lagi padaku. Bukan berarti aku bisa menerimamu menjadi bagian dari keluargaku. Tidak sama sekali."


"Aku tidak peduli, Axton. Aku cuma ingin mansion ini kembali damai dan tidak ada peperangan. Mari kita lihat, siapa yang akan menang di sini? Kau atau aku?"


Setelah menyelesaikan urusannya di meja makan, Esme segera masuk ke kamarnya untuk mempersiapkan diri. Dia harus berdandan secantik mungkin.


Sementara Axel, dia sengaja pulang paling akhir karena harus menjemput Grace terlebih dahulu. Dari segi usianya, Grace tidak jauh beda dengan Esme. Cuma karena Grace berutang budi pada Esme sehingga dia pun mau mengikuti kesepakatan konyol ini.


"Akhirnya kau datang juga," ujar Grace saat melihat kedatangan Axel. Dia bisa langsung tahu karena Esme sudah menunjukkan fotonya sejak awal.


"Kau langsung bisa mengenali aku, Grace."


"Esme sudah menunjukkan fotomu padaku. Aku tahu kalau dia adalah orang baik. Dia rela merasakan sakit asal orang-orang terdekatnya baik-baik saja. Aku sangat mengaguminya."


"Terima kasih sudah memuji wanitaku. Jadi, menurutmu aku tidak salah memilih pasangan."


"Tidak sama sekali. Cuma aku kasihan pada Esme. Kalau bisa kau harus segera mencari solusi untuk hubungan kalian. Kau juga tidak akan membiarkan kekasihmu itu terikat terus dengan papamu, kan?"


Itulah yang saat ini sedang dipikirkan Axel. Banyak wanita yang dikenal, tetapi cuma Esme yang mengena di hati. Terlebih awalnya dia sangat membenci Esme yang merupakan mama tirinya. Ternyata setipis itu garis batas antara benci dan cinta. Esme mampu mengubah perasaan Axel begitu cepat.


"Kau benar, Grace. Makanya aku dan Esme butuh bantuanmu. Kau tidak keberatan, kan?"


"Kalau aku keberatan, mana mungkin mau menggunakan gaun seperti ini? Aku tidak akan mungkin ada di hadapanmu sekarang."


"Ah, iya juga. Oh ya, hari ini adikku juga ada di mansion. Jelas dia penasaran dengan hubungan kita. Kau bisa cerita apa pun asalkan masuk akal. Aku akan menjadi tim pria pendiam yang hanya akan menjawab sesuka hatiku. Kau tidak perlu khawatir. Hubungan ini akan aman."


"Terima kasih, Axel. Kau memang pria luar biasa. Layak diperjuangkan oleh Esme di tengah gempuran pria bajingan itu."


"Maksudmu adikku?"


"Iya. Siapa lagi? Gara-gara dia, keinginan Esme menjadi seorang model harus berakhir di tangan madam Esme. Dia memang pria gila! Maafkan aku harus mengumpat kasar."


"Apakah adikku mengenalmu?"


"Tidak. Dia tidak tahu. Kau jangan khawatir."


Mereka pun segera menuju ke mansion. Sementara Bastian melihat penampilan Esme sangat cantik sehingga dia pun menghadiahi pelukan dan kecupan mesra. Esme sebenarnya risih, tetapi mau bagaimana lagi. Ini jalan satu-satunya untuk tetap bertahan di mansion ini.


"Kenapa kau dandan secantik ini? Apa kau ingin memancing Axel untuk bisa mendekatimu lagi?"


"Setelah apa yang kau lakukan padaku barusan, masihkah kau meragukan putramu? Siapa yang terpancing?"


"Maaf, sudah lama kita tidak melakukannya, Sayang."


"Tidak untuk malam ini," ujar Esme. Sebisa mungkin dia harus menggunakan obat tidur untuk membuat suaminya tertidur sepanjang malam. Tujuannya bukan Bastian lagi, tetapi Axel.


Berada di meja makan dengan tatanan piring yang tidak biasa membuat Bastian bertanya-tanya. Mungkinkah Esme mengundang papanya, Demian? Ataukah ada tamu lain yang sedang mereka tunggu?


"Baby, kenapa piringnya lebih?"


"Axel mengabari aku kalau dia akan membawa temannya ke sini. Aku rasa teman Axel itu adalah pria. Makanya aku berdandan secantik mungkin supaya dia tahu kalau mamanya masih muda dan cantik."


"Teman? Teman yang mana? Axel itu tidak punya teman, Esme. Kau jangan mengada-ada," tegur Axton yang baru datang.


"Mana aku tahu, Axton. Kakakmu sudah bicara sama mama sebelum dia pergi. Kenapa kau tidak mencoba positif thinking kalau memang Axel datang dengan temannya?"


"Pria introvert tidak akan mudah bergaul dengan orang luar, Esme. Aku tahu betul siapa kakakku," jelas Axton tidak mau mengalah.


"Apakah kalian akan terus bertengkar? Semakin lama, aku akan kehilangan selera makan," tegur Bastian.


Keduanya langsung diam. Saat maid mengabarkan kalau Axel sudah datang bersama wanita cantik membuat Bastian dan Axton terkejut.


"Tuan, tuan Axel sudah datang. Dia bersama seorang wanita cantik," ucap maid.


"Benarkah?" tanya Bastian dan Axton kompak.


Esme cukup tersenyum dalam hati saja. Ini baru permulaan. Kedua pria itu akan bermain-main dengan tiga orang yang sudah menjadi satu untuk mengecoh.


Bastian dan Axton pun segera menyambut Axel. Mereka penasaran dengan wanita yang dibawanya saat ini. Saat sudah melihat Grace, pemikiran Bastian mulai berbeda. Wanita itu terlihat sangat cocok bersanding dengan putranya.


"Axel!" sapa Bastian ramah.


"Papa, maaf aku sedikit terlambat. Aku harus menjemput kekasihku dulu," ujarnya.


"Selamat malam, Om," sapa Grace.


"Selamat malam. Panggil papa saja," ujar Bastian.


Axton masih terpaku. Dia tidak menyangka kalau diam-diam kakaknya memiliki seorang kekasih. Sejak kapan pria pendiam itu mengenal dunia luar begitu cepat?


"Grace, Papa," ujar Grace mengulurkan tangannya untuk menjabat Bastian.


"Senang bertemu denganmu. Oh ya, ini istriku, Esme. Kalau ini anak bungsuku, Axton," ujar Bastian memperkenalkan seluruh anggota keluarganya pada Grace.


Esme pun berjabat tangan layaknya dengan orang baru. Rasanya ingin menertawakan tingkah kedua pria penghuni mansion yang terkecoh dengan permainan besar Esme dan Axel. Axel pun terlihat tenang dan menjiwai perannya supaya seluruh anggota keluarga percaya.