Love Bombing

Love Bombing
Bab 47. Panik



Axton kembali ke mansion dengan menggebrak pintu. Dia marah karena bisnisnya tiba-tiba ditutup sepihak oleh Madam Stella. Sementara Axel dan Esme sore itu sedang menikmati indahnya pengantin baru di ruang keluarga. Bahkan Demian dan Bastian juga ada di sana.


"Kau kenapa, Axton?" tanya Bastian.


Semenjak bercerai dari Esme, Bastian memang fokus memperbaiki keadaan Axton yang semakin hari kurang ajar itu. Kalau diteruskan, sudah bisa dipastikan akan menjadi pria yang tidak tahu diri dan tidak pernah bisa menghargai wanita.


"Aku tidak tahu apa sebenarnya mau kalian? Salah satu dari kalian sudah membuat bisnisku hancur!" bentak Axton. Ternyata dia juga membawa satu botol alkohol ke dalam mansion.


"Kau sendiri yang menghancurkan hidupmu. Pantas kalau sekarang kau juga hancur. Itu seperti apa yang ada dalam pikiranku. Kau tidak akan bisa hidup nyaman dengan cara kotor seperti itu," maki Esme.


"Wah, Kakak Ipar! Kau tahu apa bisnis kotorku, hah? Kau juga menikmatinya dari sana, bukan? Oh, aku lupa kalau kau sekarang menjadi Ratu di mansion ini. Selamat, Axel! Kau telah memenangkan pertunjukan Ratu drama tahun ini."


Mereka menyadari satu hal kalau saat ini Axton sedang mabuk. Tidak mungkin dia bicara seperti itu kalau bukan dari pengaruh alkohol.


"Axel, ambil botolnya! Kurasa dia sedang mabuk," perintah Demian.


Axel berusaha merebut botol itu, tetapi Axton malah melawan Axel dengan memukuli wajahnya. Botol yang seharusnya diambil malah pecah di lantai karena Axton melemparkannya.


Perkelahian itu tidak dapat dihindarkan. Axton terlihat kesal pada kakaknya. Sementara penyebab semua ini adalah karena Demian. Dia ingin segera membuat Axton kembali ke jalan yang benar.


Nyatanya menyerang Axel saja tidak cukup. Dia pun berlari menuju ke tempat Esme dan papanya berada. Berniat untuk memukul kakak iparnya, tetapi malah sang kakek yang terdorong hingga terbentur meja. Demian pingsan.


"Axel, Kakek!" pekik Esme.


Pria itu terkapar. Axel segera mendekat untuk menolong. Sementara Bastian menahan Axton untuk tidak maju.


"Sayang, ambil kunci mobil! Siapkan kunci mobil! Kita akan bawa kakek ke rumah sakit. Ayo!" Axel panik.


"Cepat bawa Kakek!" pekik Bastian.


Esme segera melakukan perintah suaminya. Axel mengangkat kakek menuju ke mobil. Walaupun tidak terlalu banyak darah, tetapi Demian sudah pingsan sejak di dalam ruangan itu.


Sementara Axel membawa Demian ke rumah sakit, Bastian memasukkan Axton ke dalam kamar mandi. Dia mengguyur Axton dengan air dingin. Ruangan yang menjadi tempat perkelahian itu segera dibersihkan oleh maid.


"Sayang, apakah kakek akan baik-baik saja?"


"Aku tidak tahu, Esme. Benturannya terlalu keras. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya." Wajar kalau Axel berkata demikian. Pasalnya pria tua ini sudah mempermudah hubungannya dengan Esme. Tidak ada alasan lagi untuk bisa membenci apalagi sampai memusuhinya.


Sesegera mungkin Demian masuk ruang emergency setelah sampai di rumah sakit. Kecemasan Axel semakin bertambah saat dokter akan mengupayakan kesembuhan sang kakek.


"Kira-kira apa yang akan dilakukan papamu pada Axton?"


"Mungkin Papa akan membawanya ke kamar mandi. Aku yakin itu," ujar Axel sambil menggenggam erat tangan Esme.


"Oh, anak itu tidak pernah berubah. Kurasa Kakek berusaha keras untuk membuat Axton kembali ke kehidupan normalnya. Pekerjaan kotornya itu sangat memalukan sekali. Dia bahkan membenciku sepanjang dia hidup. Padahal dialah harusnya yang disalahkan."


"Ya, Sayang. Aku juga tidak tahu, mengapa dia sangat berbeda? Apa karena Papa sering kali memanjakan dirinya?"


Esme cuma bisa menggeleng. Saat mereka berbincang, rupanya dokter keluar dengan wajah yang sulit sekali diartikan.


"Dokter, bagaimana kondisi kakekku? Apa semuanya baik-baik saja?" Axel semakin cemas.


"Waktu kematiannya sekitar 10 menit setelah kalian sampai di sini. Tidak ada yang bisa kulakukan karena semuanya berlangsung begitu cepat."


Axel terduduk lemas di kursi tunggu. Dia tidak tega untuk mengabari papanya. Rasanya tenggorokan tercekat dan sulit untuk berbicara.


Axel untuk pertama kalinya menangis meraung-raung. Wajar saja karena kakeknya sudah bersikap sangat baik. Dia juga bisa menerima pernikahannya dengan Esme. Bahkan semua dukungan dari pria tua itu bisa ditunjukkan dengan keharmonisan keluarga mansion. Nyatanya, saat ini pria tua itu harus pergi untuk selamanya.


"Kita urus pemakaman Kakek. Kau bisa hubungi Papa sekarang juga. Biarkan aku yang mengurus lainnya. Pakai saja ponselku!"


Esme ragu, tetapi itu harus segera dilakukan. Setidaknya Bastian akan bersiap-siap untuk mempersiapkan rumah duka.


Beberapa detik kemudian, sambungan telepon terhubung. Bastian terdengar terengah-engah menjawab panggilan itu.


"Halo, Axel! Bagaimana kondisi Kakek?"


"Ini aku, Esme. Kakek sudah meninggal ... Papa. Axel sedang mengurus pemakamannya."


Bastian terdiam. Tidak ada suara lagi. Mungkin juga dia sudah syok lebih dulu. Esme mencoba menghubunginya, tetapi tampaknya itu sangat sulit karena tidak ada respon.


Baru beberapa menit kemudian, telepon Axel berdering. Bukan panggilan dari Bastian, tetapi nomor mansion.


"Halo, Tuan! Ambulans membawa Tuan Bastian ke rumah sakit," ujar maid pada Esme. Dia mungkin mengira yang mengangkat telepon adalah empunya.


"Kenapa dengan Papa?" tanya Esme.


"Oh, Nyonya, maaf, kami tidak tahu. Tiba-tiba Tuan Bastian memegangi dadanya. Seperti serangan jantung mendadak. Kami panik lalu memanggil ambulans."


"Ah, baiklah. Kami masih di rumah sakit. Oh, ya, bagaimana kabar Axton? Apa dia baik-baik saja?"


"Tuan Axton masih ada di kamar mandi, Nyonya. Kami takut untuk melihatnya."


"Kalau begitu biarkan saja. Terima kasih atas informasinya." Esme segera menutup teleponnya lalu mencari keberadaan Axel. Suaminya harus tahu kabar ini.


"Sayang, kenapa kau tergesa-gesa seperti itu?" tanya Axel saat melihat istrinya berjalan dengan sangat cepat. Bukan apa-apa, Axel hanya takut kalau Esme lupa bahwa saat ini dia sedang mengandung.


"Papa dibawa ambulans ke rumah sakit ini, Axel. Jantungnya kambuh. Barusan maid mengabari aku."


"Oh, ya, Tuhan! Apalagi ini? Urusan Kakek belum selesai. Ditambah lagi dengan Papa. Rasanya aku tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Axton tidak mungkin bisa diajak kerja sama mengurus semua ini."


"Tetap tenang, Axel. Aku akan mencoba membantumu."


"Itu tidak mudah, Sayang. Lebih baik kau duduk saja di depan ruang emergency. Tunggu sampai Papa datang. Setelah itu, baru kita lanjutkan mengurus pemakaman Kakek."


Saat yang begitu membingungkan, tiba-tiba Esme kesakitan. Dia terus saja memegangi perutnya.


"Sayang, kau kenapa?" Axel semakin panik.


"Perutku seperti keram, Axel. Aduh, ini sakit sekali!"


"Lebih baik tenangkan dirimu. Aku akan membawamu ke ruang rawat. Biarkan dokter memeriksanya."


"Tidak perlu, Sayang. Ini sudah mendingan. Lebih baik kita langsung ke sana saja."


Esme mencoba tidak peduli pada rasa sakit yang dirasakan. Dia tidak tega membiarkan suaminya panik dan bingung.