Love Bombing

Love Bombing
Bab 49. Perasaan Axton



Diam-diam Axel tahu saat Axton meracau bahwa adiknya itu jatuh cinta pada Esme. Perkara yang rumit karena Axton sedang mabuk. Rupanya Axel tidak hanya mengguyurnya dengan air dingin, tetapi menampar adiknya berulang kali.


"Jangan kurang ajar untuk mencintai kakak iparmu, Axton! Kau sudah kelewatan batas! Ingat, dia itu istriku! Bukan wanita yang bisa kapan saja kau cintai," maki Axel pada adiknya sendiri.


Secara tidak sadar, Axton sudah mengungkapkan seluruh isi hatinya. Ternyata selama ini memusuhi Esme bukan karena dendam masa lalu, tetapi rasa cinta yang tidak pernah bisa diungkapkan. Sungguh rumit sekali.


Masalah ini Axel anggap sebagai rahasia pribadinya. Dia tidak ingin Esme tahu semuanya. Apalagi ini sangat rumit sekali.


Sementara Esme dan Grace sudah berada di rumah sakit. Setelah makan malam, Grace sebenarnya kasihan pada Esme. Apalagi wanita itu sedang hamil. Tidak mungkin dibiarkan tidur di kamar sambil menunggu mantan suaminya yang kini sudah menjadi mertuanya.


"Esme, lebih baik kau pulang saja. Biar aku saja yang menjaga Om Bastian," ujar Grace.


"Kenapa, Grace? Apa ada yang salah?"


"Tidak ada yang salah, Esme. Hanya saja aku tidak tega membiarkanmu untuk tetap di sini. Maksudku karena kau sedang hamil. Pulang saja dan tidur di mansionmu. Kau berani pulang sendirian, kan?"


Bagaimana tidak semakin sayang pada sahabatnya? Dia kasihan pada sang suami, tetapi sekarang sahabatnya malah kasihan padanya.


"Grace, kau yakin tidak masalah menjaga Bastian sendiri? Besok kau juga harus bekerja."


"Aku lebih baik menjaganya sendiri ketimbang bersamamu. Pulang saja! Aku yakin kalau kau juga perlu beristirahat."


Setelah mendengar ucapan Grace, Esme segera memutuskan untuk pulang. Dia mencari taksi di depan rumah sakit yang merupakan tempat taksi mencari penumpang.


Esme tidak tahu jika di mansion suaminya sedang menghajar Axton hingga babak belur. Dia sangat kesal sekali dengan tingkah adiknya yang tidak tahu diri itu. Gara-gara Axton juga, kakek dan papanya menjadi korban.


Taksi yang membawanya berjalan cukup tenang. Malam memang belum terlalu larut, tetapi angin malam membuatnya sangat tidak nyaman. Esme mencoba untuk menghubungi ponsel Axel, tetapi tidak diangkat sama sekali.


"Mungkin kau sangat kelelahan, Sayang. Bahkan panggilan istrimu tidak kau angkat sama sekali," gumam Esme sambil tersenyum melihat ke luar jendela taksi.


Suasana kerlib lampu di malam hari membuatnya merasa nyaman. Terlebih saat dia berhasil mendapatkan cintanya dan bersatu dengan Axel.


Memasuki halaman, Esme hanya melihat mobil suaminya di sana. Artinya, Axton belum pulang karena tidak ada mobilnya di sana.


"Hemm, malam ini sangat menyenangkan sekali. Aku hanya bersama Axel saja," gumam Esme.


Memasuki mansion, suasana sangat sepi. Salah satu maid memang membuka pintu, kemudian mereka segera masuk ke kamar masing-masing karena Esme tidak menanyakan apa pun.


Berniat memasuki kamar, Esme malah melihat pintu setengah terbuka. Dia sempat ingin masuk, tetapi diurungkan. Suara Axel membuatnya terkejut.


"Axton, apa pun yang ada di dalam pikiranmu tentang mencintai kakak ipar adalah hal paling bodoh! Kau tahu, kenapa? Dia hanya untukku, bukan untukmu atau siapa pun. Kalau kau mau, lebih baik cari saja wanita di luaran sana yang sepadan denganmu. Jahat dan hobi foya-foya!" maki Axel.


Seketika jantung Esme berhenti berdetak. Ternyata di dalam ada suami dan adik iparnya. Dia tidak tahu harus apa sekarang. Mau masuk dan melihat pertengkaran itu atau malah berhenti di depan pintu tanpa tahu apa pun yang terjadi di dalam sana.


Dalam kondisi seperti ini, masuk bukan keputusan yang tepat. Lebih baik dia turun lalu ke dapur untuk mengambil air minum. Terlebih kondisi kehamilannya juga sudah terlihat buncit saat ini. Lebih baik mencari tempat aman sampai keduanya berhenti bertengkar.


"Nyonya pulang?" Salah satu maid yang baru bertemu Esme agak terkejut.


"Iya. Kenapa?"


"Tuan Axel marah-marah pada Tuan Axton. Masalahnya Tuan Axton mabuk dan racauannya membuat Tuan Axel marah. Itulah sebabnya kami tidak berani mendekat."


Esme semakin yakin kalau ini adalah akibat dari kelakuan Axton hari ini. Sepertinya berhubungan juga dengan dirinya. Namun, saat Esme berniat mengambil air minum, rupanya Axel juga turun ke dapur.


"Sayang? Kau di mansion rupanya. Kapan kau datang?" tanya Axel. Secara logika, Esme pasti sudah tahu segalanya sehingga tatapan wanita itu tampak menginterogasinya.


"Saat kau dan Axton bertengkar. Aku memutuskan turun ke dapur. Aku takut kalau kalian akan berkelahi atau apa pun itu."


"Jangan khawatir. Semuanya sudah beres, Sayang. Oh, ya, aku minta tolong buatkan sup ayam dan jus tomat. Antarkan ke kamar Axton!" perintah Axel pada salah satu maid.


"Baik, Tuan."


"Pastikan dia sudah memakannya. Kalau perlu suapi sekalian. Aku tidak mau dia tidur dalam keadaan lapar," tegas Axel.


Kembali pada Esme, wanita itu sedang mengambil air putih untuk diminun. Selain itu, dia juga mengambil beberapa lembar roti lalu selai nanas kesukaannya.


"Kenapa tidak minum susu saja? Setidaknya itu lebih mengenyangkan daripada air putih."


"Aku merasa mual kalau minum susu dan makaj roti manis, Axel. Aku lebih nyaman seperti ini. Oh, ya, aku pulang karena Grace memintanya. Dia mengkhawatirkan kandunganku."


"Aku minta maaf, Sayang. Aku benar-benar lelah dan lupa kalau istriku tengah hamil. Sebaiknya kau segera istirahat setelah makan. Jangan sampai bertemu dengan Axton atau berbicara dengannya." Axel sudah memberikan peringatan pada sang istri.


Axton sedang dalam fase setres karena kehilangan Demian. Selain itu, gara-gara Bastian masuk ke rumah sakit. Ditambah lagi dengan perasaannya kepada Esme yang entah itu karena obsesi atau dendam membuatnya menjadi sosok pria yang menakutkan.


Sementara Axton saat ini meringkuk di ranjangnya setelah mendapatkan pelajaran dari kakaknya. Axel tidak hanya mengguyur adiknya dengan air dingin, tetapi memukulinya berulang kali. Sebenarnya Axel kasihan, tetapi dengan cara lembut pun tidak akan mengubah kelakuan adiknya.


Pikirannya masih berada di antara sadar dan tidak, tetapi tubuhnya sudah benar-benar lelah. Sampai pada seorang maid masuk membawa makanan untuknya.


"Tuan, sebelum tidur, Anda harus makan dulu. Tuan Axel memintaku untuk mengantarkan sup ayam ini. Ayo, dimakan, Tuan!" ujar maid.


Maid sebenarnya agak takut, tetapi setelah suara Axton yang sudah lebih baik membuatnya berani menyuapi Axton seperti perintah tuannya.


"Suapi aku!" ujar Axton dengan suara kecil.


Melihat wajahnya lebam dan merah membuat maid itu tidak tega. Dia akan menyuapinya lebih dulu, setelah itu baru mengobati lukanya. Tidak heran bila anak bungsu penghuni mansion ini cukup meresahkan karena kelakuannya menyimpang jauh dari beberapa anggota keluarga lainnya.