Love Bombing

Love Bombing
Bab 36. Kejutan



Pasangan paling bahagia baru saja menyelesaikan pekerjaan penting. Mereka berharap segera mendapatkan keturunan dari hubungan tersebut. Setelah itu, Axel akan meminta papanya untuk menceraikan Esme.


"Sayang, lebih baik kau segera bersiap. Jangan lupa gunakan pakaian Grace seperti sebelumnya. Aku tunggu di ruang tamu."


"Iya, Sayang. Sabar, ya. Aku juga harus membersihkan diri terlebih dahulu."


Axel langsung duduk di ruang tamu. Dia sudah menggunakan pakaiannya dengan lengkap. Tempat pertempurannya barusan juga sudah dibersihkan oleh Esme. Jadi, semua kembali seperti semula. Seperti tidak terjadi apa pun.


Duduk bersandar ke sofa kemudian mengambil ponsel. Axel menyalakan ponselnya karena sejak tadi dia menonaktifkan dengan alasan khawatir ada yang mengganggu.


Baru saja dinyalakan, banyak pesan masuk dari Bastian, Demian, dan Axton. Pesan paling langka datangnya dari Axton. Mereka memang kakak beradik, tetapi tidak sejalan.


Saat membaca pesan dari Bastian, seketika Axel terkejut. Pasalnya sekitar setengah jam yang lalu, dia mengabari kalau akan menjemput Esme ke salon. Sekalian ingin bertemu dengan Grace.


"Oh, ya ampun. Papa ini membuatku panik. Memang rumit sekali kalau membawa pergi istri orang."


Axel bergegas kembali ke kamar. Dia melihat pintu kamar mandi masih tertutup. Itu artinya Esme sedang membersihkan diri.


"Sayang, cepatlah! Ini gawat! Ayo, keluarlah!"


Esme yang mendengar panggilan bernada buru-buru itu segera mengambil bathrobe lalu membuka pintu.


"Ada apa, Sayang? Aku belum selesai mandi."


"Papa buru-buru mau jemput Esme ke salon. Katanya mau bertemu juga dengan Grace. Bagaimana ini?"


Esme segera kembali ke ke kamar mandi. Karena buru-buru, dia melupakan wig yang tertinggal di meja rias kamar itu. Namun, dia masih ada jaket Hoodie yang sengaja diambil dari lemari pakaian Grace. Hanya untuk berjaga-jaga saja.


"Sayang, wigmu?" tanya Axel saat keduanya berada di dalam mobil.


"Ya ampun, ketinggalan di dalam, Sayang. Bagaimana ini?"


"Tidak ada waktu lagi, Sayang. Kau segera hubungi Grace menggunakan ponselku. Ponselmu sengaja kau tinggal bersama Grace untuk mengelabui Papa, bukan?"


Selain bertukar posisi, dia juga menitipkan ponselnya. Hanya untuk berjaga-jaga kalau sampai Demian berulah untuk melacak keberadaannya. Apalagi pria tua itu seakan-akan terus mengawasi dirinya.


Saat sambungan terhubung, Grace mengangkatnya dengan cepat. Dia juga berada dalam kesulitan karena Bastian memaksa masuk untuk menemui Esme. Beruntung salah satu teman Grace menjelaskan bahwa tamu pria tidak diperkenankan untuk masuk selama proses perawatan full body berlangsung.


"Jadi, Bastian ada di sana?" Esme benar-benar seperti pencuri yang hampir tertangkap.


Rasanya memang berat mencintai anak tirinya sendiri. Namun, bagaimanapun kondisinya baik Axel ataupun dirinya harus berjuang sekuat tenaga demi mewujudkan masa depan yang semakin cerah.


"Iya. Kalian cepat datang, ya. Aku takut kalau sampai dia tahu aku masih di sini. Masalahnya aku sudah bicara pada semua orang bahwa Grace masih pergi dengan kekasihnya."


"Iya, Grace. Kami sedang ada di jalan. Oh ya, kami ada sedikit kendala. Wig Esme ketinggalan di apartemenmu. Bagaimana kami bisa masuk?" sahut Axel.


"Oh, ya ampun, Esme. Kenapa bisa sampai ketinggalan? Baiklah, aku akan menyuruh salah satu rekanku untuk menjemput kalian. Parkir mobil di tempat biasanya saja," pesan Grace sebelum mengakhiri sambungan telepon.


"Lama sekali. Apa aku harus pulang dan menunggunya di sana saja?" gumam Bastian sambil melihat sekelilingnya.


Tanpa menunggu lagi, Bastian segera keluar dari salon itu. Dia melihat mobil Axel baru saja masuk menuju ke tempat parkir yang kebetulan tidak jauh dari tempatnya. Ingin menghampiri anaknya, tetapi salah satu rekan kerja Grace memanggilnya.


"Maaf, Tuan. Nyonya Esme sebentar lagi selesai. Anda mau kembali ke dalam atau menunggunya di sini?"


Bastian mengurungkan niatnya untuk keluar dan menemui Axel. Dia memilih kembali duduk di tempatnya semula.


Sementara tanpa sepengetahuan Bastian, Grace segera bertukar posisi dengan temannya tadi. Dia yang akan datang menemui Esme dan menukar tempat lagi.


"Akhirnya kalian datang juga. Suamimu itu benar-benar pria keras kepala, Esme. Aku sampai tidak berani menampakkan wajahku karena yang dia tahu kalau aku sedang pergi dengan Axel. Masuklah lewat pintu itu. Ini ponselmu. Aku dan Axel akan masuk dari depan dan mengalihkan semuanya," ujar Grace.


Setelah Axel keluar, Grace segera menggandeng mesra tangan pria itu. Walaupun sebenarnya agak tidak nyaman, tetapi demi memuluskan rencana teman baiknya harus dijalani dengan baik.


"Papa! Sudah lama di sini?" tanya Axel yang berpura-pura baru mengetahuinya.


"Axel? Kau dan Grace dari mana? Bukannya ini masih jam kerja?" Bastian juga sempat heran.


"Mungkin Om lupa. Grace tadi minta izin untuk menemani Axel. Ya, Om tahu sendirilah bagaimana pasangan baru," ujar Grace penuh drama.


"Ah, iya. Oh ya, Grace. Apa kau bisa melihat Esme? Maksudku, aku menunggunya sejak tadi dan dia belum keluar juga."


Esme baru saja keluar dengan wajah yang sangat berseri-seri. Sebenarnya bukan karena perawatan salon yang dilakukan hari ini, tetapi karena sentuhan Axel yang selama ini dirindukannya yang membuatnya lebih segar.


"Sayang, maaf membuatmu menunggu lama. Aku sedang melakukan perawatan seluruh tubuh. Maaf, ya," ucap Esme.


"Tidak apa-apa, Sayang. Ini hanya karena Papa dan Axton yang curiga kalau kau masih bersama dengan Axel."


Benar dugaan Axel. Kakek dan adiknya itu tidak akan pernah membuatnya tenang. Semakin ke sini, Axel perlu membuktikan bahwa Esme sangat berharga di dalam hidupnya.


"Om ini sangat aneh. Mana mungkin calon Mama mertua melakukan hal yang tidak semestinya pada anak sendiri," sahut Grace yang tetap tenang memainkan peran. Walaupun beberapa menit yang lalu dia harus olahraga jantung.


Bastian terkekeh. Benar juga ucapan Grace. Mungkin juga Esme melakukan perawatan seluruh tubuh karena nanti malam adalah jadwal melayaninya.


"Terima kasih, Sayang. Maaf, sudah membuatmu terburu-buru. Aku yakin kalau kau melakukan itu karena nanti malam, bukan?" Bastian tanpa ragu lagi mengatakan hal sensitif itu di hadapan Axel.


Axel sebenarnya cemburu, tetapi dia mencoba menahan diri untuk tetap tenang. Jangan sampai bibit yang baru saja ditanam diganggu oleh bibit papanya.


Ternyata mencintai istri papanya adalah tantangan yang cukup meresahkan. Dia harus berebut tanpa memperlihatkan bahwa dia juga ingin. Rasanya seperti penjahat yang sedang memanipulasi lawannya.


"Kalau begitu papa dan mama pulang dulu, ya. Adikmu pasti sudah ada di mansion sekarang. Dia memaksa pulang dari rumah sakit hari ini."


Kejutan yang benar-benar membuat jantung memompa darah begitu cepat. Selain Axton, Demian pasti ada di mansion itu sekarang. Betapa rumitnya hubungan cinta terlarang seperti ini.