Love Bombing

Love Bombing
Bab 19. Surat Wasiat Bastian



Setelah pengacara masuk, Axel dan Esme diminta untuk keluar ruangan. Mereka baru diizinkan masuk kembali setelah urusan Bastian dan pengacara selesai.


Axel menarik napas panjang kemudian menghembuskannya. Dia masih merasakan sesak di dadanya. Sesampainya di luar, dia tidak tahan sehingga menggenggam erat tangan Esme.


"Kalau ini bukan rumah sakit, aku sudah ******* bibirmu hingga habis, Esme. Kau sengaja membuatku cemburu, bukan?"


Esme tersenyum. "Kenapa begitu? Wajar kalau aku melakukannya pada suamiku. Mengapa kau terlihat tidak senang?"


"Esme, tolong jangan menguji kesabaranku! Aku tidak tahan melihatmu seperti tadi. Rasanya aku ingin bertukar posisi dengan papa."


Sekali lagi, Esme malah tersenyum. "Aku rasanya ingin tertawa dengan keras, Axel. Kau mau tahu kenapa? Aku merasa seperti diperebutkan dua pria beda generasi. Rasanya sangat aneh sekali."


"Kau terlihat sangat menikmatinya, Sayang. Aku benar-benar tidak tahan berada di dalam ruangan itu. Jika bukan karena di dalam sana adalah papaku, aku sudah menghajarnya dan merebutmu dengan cepat. Tolong jangan lakukan itu lagi," pinta Axel.


Sementara di dalam ruangan, Bastian bertemu dengan pengacara. Awalnya dia diam. Namun, setelah pengacara bertanya, barulah Bastian menceritakannya.


"Jadi, Anda ingin membuat surat wasiat ini ditujukan untuk istri Anda, Tuan Bastian?" tanya pengacara.


"Iya. Aku tidak tahu kapan takdir menjemputku. Namun, setelah tiada nanti, aku tidak akan mengecewakan istriku," ujar Bastian.


"Jadi, apa wasiat yang ingin Anda buat?"


Bastian kemudian menceritakan semuanya. Pengacara pun bisa memahami apa permintaan kliennya.


"Jadi, kapan aku bisa mengumumkan wasiat ini? Maksudku, ini bukan semacam wasiat harta benda. Jadi, kapan pun Anda minta, ini akan siap dalam waktu yang dekat."


"Segera minta semua orang berkumpul di sini. Aku ingin mereka segera tahu apa yang aku inginkan. Apalagi mengingat aku masih belum pulih benar. Ada kemungkinan terburuk akan menghampiriku, bukan?" ujar Bastian.


Pengacara turut terharu pada Bastian. Apalagi surat wasiat yang ditinggalkan untuk sang istri merupakan bukti cintanya.


"Tuan Demian, tuan Axton, istri Anda, dan Axel. Mereka harus berkumpul di sini, bukan?"


Selagi pengacara mengetik surat wasiatnya dengan laptop yang dibawa, Bastian juga mengingatkan poin demi poin agar pengacara tidak salah mengetiknya.


"Tuan, surat wasiat Anda siap. Aku akan pergi keluar sebentar untuk mencetaknya. Setelah itu, aku akan meminta tanda tangan Anda. Selagi aku keluar, aku juga akan meminta tuan Axel untuk meminta semua orang berkumpul di sini."


"Baik. Pergilah!"


Pengacara bertemu dengan Esme dan Axel. Dia memang tidak terlalu memperhatikan, tetapi seperti yang diceritakan Bastian kepadanya. Semua memang terlihat jelas sekali.


"Maaf, mengganggu. Aku mau keluar sebentar. Namun, tuan Bastian memintaku untuk memberitahukan pada kalian kalau tuan Demian dan tuan Axton harus berada di sini. Aku akan mengumumkan surat wasiat dari tuan Bastian. Apakah kalian bisa mengabari mereka?"


"Tentu saja. Aku akan meneleponnya," balas Axel.


Setelah pengacara pergi, Axel segera menghubungi mereka. Beruntung sekali karena Demian mau mengangkat panggilan itu sehingga Axel tidak sulit untuk meminta adiknya segera datang.


"Kenapa aku merasa sangat cemas sekali, Axel? Aku merasa irama jantungku berdetak begitu cepat," ujar Esme.


"Kita tunggu saja, Esme."


Beberapa jam kemudian, Demian dan Axton sudah berada di rumah sakit. Mereka segera masuk ke ruang rawat Bastian. Ya, Bastian sudah dipindahkan ke ruang rawat VVIP setelah melalui beberapa kali observasi.


"Sebenarnya ini ada apa, Pa?" tanya Axton. Mengingat dirinya masih geram pada kakak sekaligus mama tirinya.


"Tunggu saja. Sebentar lagi pengacaraku kembali," ujar Bastian.


Tidak lama, pengacara yang dimaksud pun masuk membawa sebuah map. Sebelum pengacara itu mengumumkan, dia meminta tanda tangan kepada Bastian lebih dulu.


"Maaf, tolong tunggu sebentar. Aku butuh tanda tangan Tuan Bastian," ujar pengacara.


Beberapa menit kemudian, semuanya beres. Mungkin apa yang dilakukan oleh Bastian ini akan mengubah seluruh kehidupan Esme maupun Axel. Mungkin juga akan menambah masalah bagi mereka.


"Terima kasih," ujar Bastian setelah menandatangani suratnya.


"Baik, langsung saja aku infokan. Di sini Tuan Bastian ingin agar kalian semua tahu bahwa surat wasiat ini masih berhubungan dengan istrinya, yaitu Nyonya Esme Xaviera. Sebagai poin pertama, Tuan Bastian membebaskan Nyonya Esme untuk melakukan segalanya jika nantinya Tuan Bastian telah tiada."


Sontak itu membuat Demian dan Axton berpandangan sejenak. Tidak hanya mereka, Axel dan Esme pun melakukan hal yang sama.


"Ini wasiat aneh!" gerutu Axton.


"Dengarkan dulu!" pinta Demian.


"Mengenai harta apa pun yang ditinggalkan Tuan Bastian nantinya akan dibagi kepada kedua anaknya dan istrinya dengan pembagian masing-masing mendapat 40 persen, sedangkan Nyonya Esme hanya mendapatkan 20 persen," jelas Pengacara.


"Harta mana lagi yang kau bagi, Bastian? Kau tidak mendapatkan apa pun dari warisan yang akan kutinggalkan," sahut Demian.


"Aku memiliki harta lain, Papa. Jadi, kau tidak perlu khawatir. Kalaupun aku tidak dapat apa pun darimu, anak-anak dan istriku tidak akan kekurangan apa pun setelah aku tiada," ujar Bastian.


Axel dan Esme tampak terus mendengarkan semua ucapan pengacara tanpa menyanggah. Apalagi poin pertama dan kedua tidak menjadi masalah bagi keduanya.


"Jika sudah, apakah bisa lanjut ke poin ketiga?" tanya pengacara.


"Lanjutkan!" perintah Bastian.


"Poin ketiga, apabila Tuan Bastian meninggal, maka Nyonya Esme bisa menikah dengan Tuan Axel Brylee–"


"Wasiat macam apa ini, Pa?" ucap Axton dengan suaranya yang tinggi. Dia tidak peduli lagi dianggap memotong ucapan pengacara papanya. Dia tidak pernah setuju memiliki kakak ipar seperti Esme yang selamanya akan menjadi duri dalam kehidupan Axton sendiri.


"Axton, kau tidak berhak membantah apa pun yang sudah diucapkan Papa melalui pengacara. Itu jauh lebih baik, ketimbang aku dipaksa bertunangan tanpa persetujuanku," ujar Axel mengungkapkan isi hatinya.


"Tolong dengarkan sampai aku selesai mengatakan semuanya," pinta pengacara.


"Lanjutkan," ujar Demian.


"Apabila Tuan Bastian meninggal, maka Nyonya Esme bisa menikah dengan Tuan Axel Brylee. Namun, jika Tuan Bastian kembali sehat seperti sediakala, maka surat perjanjian ini dinyatakan batal. Namun, ini akan berlaku kembali dengan salinan surat wasiat kedua dengan isi yang sama. Ini akan diumumkan setelah Tuan Bastian dinyatakan meninggal dunia," jelas pengacara.


"Kau sepertinya sudah gila, Bastian. Kenapa?" tanya Demian.


"Karena aku tahu kalau istri dan anakku saling jatuh cinta. Apa aku salah memberikan kesempatan pada mereka setelah aku tiada? Esme juga berhak bahagia setelah apa yang dilakukan Axton padanya di masa lalu. Itu tidak sebanding dengan kesakitan dan penderitaan yang dialaminya selama ini," ujar Bastian.