
Menjadi wanita kuat dan hebat sudah dijalani Esme selama ini. Hubungannya dengan Axton sampai kapan pun tidak akan menjadi baik. Kisah masa lalu mereka yang buruk menjadi babak panjang di dalam perjalanan kehidupan ini.
Setelah melepaskan kontrasepsinya beberapa waktu lalu, saat ini Esme terkendala dengan keberadaan Axton. Ditambah lagi mendadak Demian meminta tinggal di mansion suaminya.
"Mengapa semakin ke sini aku terjepit?" gumam Esme.
Sebenarnya Axel yang harus menjemput kakeknya, tetapi karena hari ini dia memiliki jadwal meeting yang panjang akhirnya Axton lah yang harus pergi atas perintah papanya, Bastian.
"Kau tahu kan kalau kakek berada di pihakku. Jadi, kau jangan macam-macam selama ada kakek di sini. Papa pun akan kalah dengan kekuasaannya," ujar Axton memamerkan komplotannya.
"Kau pikir aku takut, hah? Justru aku khawatir kalau semesta akan menghukummu dengan caranya. Kau sudah banyak merusak para wanita yang berniat serius mencari kerja. Kenyataannya kau jual ke tempat pelacuran dan kau ambil keuntungan sebesar-besarnya. Dasar pria tidak tahu diri! Ingat kalau banyak orang yang akan mendoakan buruk padamu."
Axton tidak peduli. Ucapan Esme cuma bualan belaka. Tidak ada bukti akurat yang akan membuat Axton mengalami penderitaan seperti yang diutarakan Esme padanya.
"Aku tidak peduli, Mama tiri! Kau hanya benalu di mansion kami. Setelah kakek tinggal di sini, jangan harap kau bisa bertahan lama. Cepat atau lambat, kakek akan segera mendepakmu dari sini."
Axton segera keluar lalu pergi menjemput Demian. Sepanjang perjalanan Axton tidak memiliki firasat apa pun. Dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan normal.
Saat melintasi jalan menuju ke tempat tinggal sang kakek, dari arah berlawanan sebuah mobil melaju dengan kencang sehingga Axton tidak dapat menghindarinya. Tabrakan pun terjadi.
Esme yang berniat untuk pergi, mendadak mendapatkan telepon dari Axel. Jelas saja dia terlihat senang karena pujaan hatinya yang menghubungi.
"Halo, mama!" sapa Axel dari seberang sana.
"Ya, sayang. Tumben kau menghubungi aku. Apa kau sudah sangat rindu?"
"Ma, bisakah kau datang ke rumah sakit?"
"Hah, rumah sakit?"
Ucapan Axel terdengar sangat formal. Mungkin saja saat ini dia sedang bersama suaminya.
"Memangnya siapa yang sakit, Axel?"
"Axton kecelakaan, ma. Mama segera ke sana saja, ya. Kalau tidak ada sopir, aku akan mengirimkan sopir dari kantor."
"Tidak perlu, Axel. Aku akan langsung pergi naik taksi saja. Terima kasih sudah mengabariku."
Esme segera menutup teleponnya. Dia langsung terlihat semringah. Baru beberapa waktu lalu Esme mengutuk putranya, sekarang kejadian.
"Nikmati saja kondisimu saat ini, Axton. Malah aku berharap kau tidak selamat. Biar papamu dan Axel tahu bahwa sebenarnya kau adalah pembohong besar, Axton!" gumam Esme sambil menyiapkan dirinya.
Axel dan Bastian baru bisa menyusul ke rumah sakit setelah meeting usai. Sebenarnya mereka ingin segera melihat kondisi Axton, tetapi klien penting dari luar negeri tidak bisa dijadwalkan ulang.
"Axel, bagaimana dengan Esme? Apa dia sudah pergi ke rumah sakit?"
"Tentu saja, Pa. Setelah aku menghubungi, dia pasti segera pergi. Bagaimanapun Axton adalah anak tirinya dan Esme pasti akan bertanggung jawab untuk mengurus selama kita di sini."
"Baiklah, papa percaya padanya."
Mengapa bukan Bastian saja yang menghubungi Esme? Mengapa harus Axel? Itu karena ponsel Bastian ketinggalan di kamar mansionnya. Pasti Esme juga tidak menyadari itu.
Setelah sampai di rumah sakit, Esme segera menuju ke ruang emergency di mana Axton sedang ditangani. Mungkin juga karena terlalu serius sehingga dokter tidak kunjung keluar untuk memberikan informasi.
"Dokter, bagaimana kondisi Axton?" tanya Esme saat melihat salah satu dokter keluar dari ruangannya.
"Ya, aku mamanya."
Dokter lalu mengajak Esme masuk ke ruangan. Di mana hanya ada dokter dan salah satu perawat. Dokter kemudian duduk lalu meminta Esme juga duduk.
"Silakan, Nyonya."
Esme tampak tidak terlihat cemas. Dia biasa saja melihat dokter yang sedang membuka satu map seperti berisi rekam medis seseorang.
"Maaf, aku harus menyampaikan kabar buruk ini, Nyonya. Kondisi tuan Axton mengalami patah tulang di bagian tangannya. Jadi, dia harus melakukan beberapa langkah sampai kondisinya benar-benar membaik."
Esme bahagia mendapatkan kabar tersebut. Ternyata semesta malah setuju untuk menyakiti anak tirinya dengan caranya sendiri. Setidaknya ini merupakan awal bagus untuk membuat Axton bertahan di atas ranjang selama itu.
"Lakukan saja yang terbaik, Dokter. Nanti akan aku sampaikan pada suamiku. Kalau Anda membutuhkan persetujuan tindakan apa pun, silakan kabari aku," ujar Esme.
"Baik, Nyonya."
Esme segera keluar menuju ke tempat Axton dirawat. Dia sedang tertidur karena pengaruh obat yang diberikan oleh dokter.
"Pada akhirnya kau merasakan penderitaan juga, Axton. Ini masih belum seberapa. Aku akan semakin menyiksamu dengan kondisi seperti ini. Kupastikan kalau Bastian tidak akan tahu semua ini," gumam Esme.
Esme sempat mengelus pipi Axton yang sebenarnya mulai tidak terawat. Selain itu, dia juga melihat wajah yang terkesan menyebalkan dan tidak tahu diri itu. Lebih tepatnya Axton lebih suka melihat orang lain menderita daripada memberikan kebahagiaan.
Saat berniat untuk membuat Axton merasakan siksaan pertamanya, tiba-tiba ponsel Esme berdering. Ada panggilan dari Bastian.
"Ck, sangat mengganggu!" ujarnya lirih.
Esme keluar ruangan untuk mengangkat panggilan dari suaminya. Kabar kecelakaan Axton memang sangat mengganggu bagi Bastian.
"Halo."
"Halo, Esme. Kau masih di rumah sakit?"
"Iya. Aku baru saja bertemu dengan dokter. Kenapa?"
"Bagaimana kondisi Axton saat ini?"
"Dia tertidur lelap. Cuma tangannya saja yang patah tulang. Beruntung Tuhan masih beri dia kesempatan untuk hidup," ujar Esme membuat Bastian sedikit meninggikan suaranya.
"Apa maksudmu?"
"Ya, dia masih beruntung bisa hidup. Kalau tidak, kenapa tidak ambil saja nyawanya? Pasti banyak wanita di luaran sana yang menginginkan hal seperti itu, bukan? Termasuk aku." Esme meninggikan suaranya, kemudian di paling akhir agak merendah supaya tidak didengar jelas oleh Bastian.
"Sudahlah. Kau ini bicara apa? Sebentar lagi aku dan Axel akan menyusulmu. Tunggu saja di sana."
Bastian segera memutuskan sambungan teleponnya. Sementara Esme terlihat senang karena kekasih dan suaminya akan datang di waktu yang sama.
"Rasanya kecelakaan Axton membawa berkah untuk hubunganku dengan Axel. Lihat saja karena kami akan lebih sering bertemu setelah ini. Masa suburku pasti akan segera masuk dan saat itulah kesempatanku untuk kabur dari pernikahan menyesakkan dada ini."
Esme menunggu mereka tepat di depan kamar rawat Axton. Kebetulan di sana tidak ada siapa pun, kecuali Esme.
Tidak lama, suami dan kekasih hatinya pun datang. Seketika Esme langsung menghampiri Bastian lalu memberikan pelukan pada suaminya. Kemudian berganti memeluk Axel tanpa memedulikan lagi bahwa di sana ada Bastian.